Label

Tampilkan postingan dengan label Parenting. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Parenting. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 25 April 2020

Ramadhan Ke-2

Abinya anak-anak sehari sebelum Ramadan keluar kota Kabupaten. Anak- anak ingin dibelikan IPad. Meski tabungan mereka belum cukup. Akhirnya Abi mengizinkan setelah begitu lama mereka bersabar. 

Televisi di rumah tidak dinyalakan sudah hampir tiga tahun. Dampaknya lebih banyak negatif ketimbang positif. Anak-anak juga belum diizinkan memiliki gadget.

Mereka bisa memiliki benda segi empat itu dengan menabung uang sendiri. Telepon pintar penuh manfaat itu mereka bisa miliki juga jika digunakan untuk kebaikan dan harus menaati aturan dalam penggunaannya. Demikian kami memberikan arahan sebelum mereka dibelikan.

Kakak dan Abang terlihat rajin setelah di belikan Ipad. Tanpa disuruh, si Abang membuang sampah. Memang itu adalah tugasnya setiap hari. Tetapi masih sering diingatkan bahkan dipaksa.

Si Kakak juga membersihkan rumah tanpa diminta. Menyapu, melipat, mencuci piring, tanpa diingatkan.

Sementara Tablet dicas mereka bekerja. Sebelum fullcas pekerjaan pun selesai. Senang juga melihat mereka semangat bekerja. Membantu Bunda. Ternyata pil penyemangatnya bisa juga.πŸ˜‚ semoga tetap bertahan.

Hari pertama puasa si Abang lemas. Tidak bisa tidur siang. Banyak kali menanyakan apakah sudah bisa makan. Ia terkapar di dapur, berbaring terlentang di sana.

Abi datang dari mengisi galon menggendongnya masuk ke kamar. Entah berapa kali ia memanggil Bunda. Ia membujuk Opah agar mengizinkannya berbuka. 

Akhirnya, sisa tiga puluh menit waktu berbuka ia m3mbatalkan puasanya. Ya, hal yang wajar karena memang usianya masih tujuh tahun dan itu puasa pertama di tahun ini. Tahun lalu puasa penuhnya setengah bulan selebihnya puasa setengah hari. 

Si Kakak berbeda pula. Ia sangat antusias berpuasa. Di hari biasa saja ia ingin berpuasa sunat. Sejak umurnya enam tahun sudah semangat puasa. Saya tidak ingat pasti, entah di usia enam atau tujuh tahun ia berpuasa full. Tetapi memang ia lebih beraemangat berpuasa dibandingkan adiknya.

Si Kakak meminta saat berbuka ingin makan raca'raca mangga. Si abang ingin menyantap tempe. Si kakak Izzah bolak balik meminta dibuatkan udang krispi. Alhamdulillah, bahannya tersedia di kulkas. Meski agak lama bergelut dengan dapur, tetapi tetap semangat karena si buah hati juga semangat.

Abi juga meski terlihat lelah sepulang dari kota tetap semangat menjadi imam. Tarwih pertama kami di rumah bersama keluarga teramat istimewa. Syahdu.

Bacaan Al-Qur'an juga terdengar bersahutan. Semua semangat membaca qalam ilahi. Kakak Izzah yang baru berusia tiga tahun tidak mau kalah. Ia mengambil iqranya dan membacanya juga. Bacaannya kini sudah di huruf ta.

Semoga Ramadhan kali ini bisa lebih berkah meski Lock Down.



Jumat, 07 Februari 2020

Semangat Pantang menyerah (Catatan Buah Hati 12)

Pribadi ulet, itulah yang terlihat dari sikapnya. Beberapa kali mengikuti lomba dan mengikuti kegiatan apa pun selalu gigih berlatih. Demikianlah si KK.

Setelah ujian di tempat mengaji, menghafal doa-doa, nama-nama surah dan ayatnya, praktik wudhu dan tayammum. Ia kini mulai fokus menghapal Alquran. Katanya harus hapal juz 30 sebelum bulan Ramadhan.

Ia menyusun rencana yang ingin di lakukan,  semacam kurikulumnya. Sebagai Bunda, saya hanya selalu mengingatkan target dan mendampinginya. Tidak ingin ia merasa tertekan dengan rutinitas belajar dan menghapalnya. 

Tidak ada rumah tahfidz atau semacam tempat anak-anak menghapal di tempat kami. Jadilah anak-anak menghafal hanya di rumah.  Jadwal mengaji di rumah biasanya setelah magrib,  Abi yang mendampingi. Untuk hapalan, biasanya setelah jadwal mengaji. Saya bergantian dengan Abi mendampinginya. 

Sebenarnya si KK diajar menghapal sejak bayi. Ia mulai diperdengarkan lantunan Alquran sejak masih bayi. Saat dibuaian di kala hendak tidur, lagu nina bobo diganti dengan murattal. Andai ia rutin setiap hari diajak menghafal tiga ayat saja, tentu ia telah menghafal beberapa juz sekarang. 

Dua anak kami,  KK dan Abang bisa membaca alquran sebelum bisa membaca bahasa Indonesia. Alhamdulillah,  mereka belajar di rumah bersama kami. Setelah Khatam Alquran barulah KK ikut mengaji di tempat lain.  Si Abang sementara membaca juz 16 sekarang. Ia belum hendak mengaji di luar rumah seperti kakaknya. 




Senin, 29 April 2019

Catatan Buah Hati 10 Hasil Lomba sebagai Pembelajaran

By Bunda Ena


Hah... Rupanya saya berhutang cerita mengenai hasil lomba yang KK ikuti. Kemarin saya berjanji akan memberitahu hasil lombanya. Baiklah, saya akan penuhi perkataan tersebut. Yo', ikuti saja ceritanya.😊😁

Hari kedua pelaksanaan lomba diadakan di mesjid. Acaranya digelar sejak pukul 8 pagi. Dengan agenda lomba pidato tingkat TK, SD, dan SMP. Selain itu lomba tilawah dan tahfidz tingkat SMP dan SMA.

Penutupan dan pembagian hadiah dilaksanakan setelah sholat Dzuhur. Saya tidak mengetahui pasti jalan acaranya karena memang tidak berada di sana sewaktu acara diadakan.

Cukuplah cerita KK yang menggambarkan acaranya. Tidak banyak juga yang ia cerita pasalnya kami menghindari perayaan tersebut.

Sepulang dari mesjid KK membawa dua amplop putih. Rupanya amplop tersebut berisi hadiah atau uang pembinaan yang menjadi pemenang dalam lomba tersebut.

Alhamdulillah, KK juara III baik dalam kategori lomba hafidzah maupun tilawah. Alhamdulillah doa saya diijabah oleh Allah. Sejak mendengar akan diadakan lomba hafalan surah dan tilawah doa saya berikan hasil terbaik bagi KK. Dan juara III itulah yang terbaik baginya.

Artinya ia dituntut untuk menghafal dan memperbaiki hafalannya lagi. Sebenarnya jika dilihat memang ia telah melakukan yang terbaik. Kelas rendah hanya tiga orang yang mengikuti lomba. Satu orang dari kelas 1 SD, ia adalah sahabat KK, Ilmi.

Ingatkan dengannya? Tidak jarang saya bercerita menyebutkan namanya. Ia juga anak hebat karena tidak gentar melawan kakak kelasnya. Salut untukmu nak. Meski lomba kali ini ia tidak menyabet gelar juara. Tahun lalu ia sempat juara dikategori hafalan.

Juara pertahana yang patut diacungi jempol adalah teman sekelas KK, Diani. Sempat di cerita saya menyebutkan bahwa ada baiknya jika anak-anak ini dilejitkan potensi yang mereka miliki. Dialah orangnya. Teman sekelas KK.

Potensi mereka dibingkai dalam kolaborasi bukan persaingan. Tahun lalu ia mendapat juara satu lomba pidato mengalahkan kakak-kakaknya. Tahun ini ia mendapatkan juara satu kategori tilawah dan juara dua hapalan surah.

Sebenarnya ia juga ikut lomba pidato. Tapi tidak mendapatkan juara karena menurut informasi dari KK peserta hanya bisa mengikuti dua kategori saja.

Saya mengenal Ibunya Diani. Ia adalah seorang ibu-ibu juara. Ia mendampingi anaknya secara totalitas. Melatih anaknya dengan baik.

Ada kekhawatiran yang menyeruak di hati saya. Apakah caranya memotivasi anak bukan obsesi semata ingin menjadikan anaknya juara. Saya merasa kasihan jika demikian. Anaknya tergolong anak cerdas. Coba potensinya itu dibiarkan mengalir apa adanya.

Mengapa saya mengatakan demikian karena awalnya menurut penuturan KK temannya itu hanya mengikuti dua lomba. Lomba pidato dan hapalan. Tapi pada saat lomba ia mengikuti ketiganya.

Kasihan juga ia sudah berlatih pidato dengan giat tapi perolehan juaranya bukan di kategori itu. Dan lagi-lagi menurut KK penampilan  berpidato Dianilah yang terbaik.

Sebagai orang tua, banyak yang perlu dijadikan pelajaran dari ajang lomba semacam ini. Bukan hanya anak yang perlu belajar tapi orang tua dan pendidik juga. Hendaknya kita selalu berlapang dada mengenai perolehan juara.

Tujuan awal dari lomba bukan hanya untuk melihat siapa yang juara. Tapi lebih kepada menjadikan anak cinta Al Quran. Anak termotivasi untuk terus menghapalkan dan mengamalkan isi Al Quran.

Sei Menggaris, 3 Maret 2019

#KMSaskia
#Day19
Saskia Ratry Arsiwie

Catatan buah hati 9 Hari Lomba


By: Bunda Ena

Usai sholat Dzuhur suasana perumahan yang biasa di sebut apartemen Mattirobulue sunyi. Rupanya semua berkumpul di surau kilang, perumahan NJL. Ada lomba menghapal surah dan tilawah diadakan di sana.

Lombanya diadakan selama dua hari. Tiga kategori yang diperlombakan, hapalan surah, tilawah, dan pidato. Ajangnya mulai dari TK, SD, SMP, dan Setingkat SMA.

Peserta terlihat antusias dan penuh semangat. Apalagi yang tingkat SD. Tidak terkecuali anak saya si KK. Sejak dua minggu lalu ia sudah semangat memperlancar hapalan surahnya.

Alhamdulillah penampilannya juga tidak mengecewakan. Semoga hasilnya itulah yang terbaik baginya nanti.

Terlihat ada beberapa peserta yang mengatakan pas ketika menyambung ayat. Alhamdulillah, menyambung ayat dan membaca surah tidak ada yang terlewatkan oleh KK.

Ketika tilawah juga makhrajul huruf dan tajwidnya alhamdulillah cukup bagus. Ternyata meski pun hanya membaca ayat yang dipilih langsung oleh peserta sendiri. Masih banyak juga peserta yang salah dari segi mad dan pengucapan tajwidnya.

Ajang seperti ini baru kali pertama buat KK. Meski demikian ia dapat melewatinya dengan baik.

Sehari sebelum hari H ia memilih gamis yang akan di gunakannya. Ia memilih gamis seragam berwarna pink.

"Bunda, Opa, dan Adik Izzah (AI) pakai baju seragamnya ya. Bunda harus datang videokan Aku. Opa juga jangan ke Sebatik dulu tunggu selesai lihat Aku lomba baru keluar." Tuturnya sambil mengeluarkan baju gamis dari lemari.

Sepulang sekolah ia  memilih baju kembali. Gamis berwarna hitam bercadar hadiah sewaktu lebaran Haji. Saat ia berhasil menghapal surah An Naba', itulah menjadi pilihannya.

"Bunda, Opa nda jadi pakai baju pink dulu. Besok hari penutupan baru pakai baju itu. Aku sama Ilmi pakai gamis hitam hari ini."

Mendengar perkataan KK, Opa yang sedang meyetrika baju mengambil gamis hitamnya juga. Saya tersenyum melihatnya. Cucu dan nenek sangat kompak.

Bagaimana kalau KK pertandingan olahraga ya? Taruhlah misalnya bola, sebagai supporter Opa mungkin mengenakan kostum baju bola yang senada dengan pemainnya. πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚ Cucu dan nenek sungguh kompak.

Di saat lomba sudah di mulai saya masih di rumah. Membiarkan Abi istirahat dan makan siang dulu. Mendengar suara di surau sudah ramai AI, adik KK mencak-mencak.

"Ayolah Bunda... KK ngaji di mesjid. Tuh dengar..!" ucapnya.

Saat kami hendak berangkat terdengar suara KK. Ai... heran mendengar suara KK saya jadi deg-degan. Tapi melihat usahanya dua minggu ini, saya percaya ia dapat melaluinya dengan baik.

Ia sangat mandiri, semangat. Latihan murottal sendiri ia lakukan. Lain lagi ketika ia ke rumah wali kelasnya menghapal. Jadwalnya ia atur sendiri. Saya bahagia melihatnya.

Sekali lagi apa pun hasilnya. Ia sudah berusaha melakukan yang terbaik. Tanpa saya mengarahkan, ia mengatur sendiri jadwalnya dengan baik.

Berharap dan berdoa semangat KK menghapal tidak sampai pada saat ada lomba saja. Tapi terus berusaha menjadi hafidzah untuk lomba yang Allah adakan setiap hari. Yakni berlomba-lomba dalam melakukan kebaikan.

Nantikan cerita selanjutnya. Hasil lomba yang KK ikuti.πŸ€—πŸ€—πŸ€—

Sei Menggaris, 2 April 2019


Sabtu, 20 April 2019

Catatan Buah Hati 8 Mengarang, Dongeng, dan Fabel

Oleh: Bunda Ena

Kemarin, sepulang sekolah kami sekeluarga makan bersama. Seperti biasa KK menceritakan apa yang dialaminya di sekolah.

Wali kelasnya berhalangan. Ia digantikan oleh guru lain. Alhamdulillah, katanya ia dapat 100 lagi.

"Fabel itu dongeng dunia binatang kan, Bunda?"

"Iya, fabel itu dongeng yang menceritakan mengenai binatang, seolah-olah binatang berlaku seperti manusia. Hewan bisa bicara seperti manusia. Padahal di dunia nyata hewan kan, tidak bisa bicara."

"Dongeng itu cerita bohong." Ucap Abi memotong pembicaraan kami.

"Abi... Bukan bohong tapi tidak benar-benar terjadi."

"Iya samalah saja tuh... Terjadi betulankah KK?" tanya Abi untuk mendapatkan pembenaran.

KK hanya menggeleng. Membenarkan ucapan Abinya.

"Iya Abi... Tau, tapi ketika mengajar usahakan menggunakan kata-kata yang baik dan berkonotasi positif. Kalau bohong itu termasuk kata yang berkonotasi negatif, jadi harus dihindari penggunaanya. Yang tepatnya adalah, tidak benar terjadi." jelas saya panjang lebar.

"Begitu juga di bilang bu guruku, Bunda."

"Apa itu nak?"

"Cerita yang tidak benar terjadi bukan cerita bohong."

Abi memang selalu mengingatkan agar menghindari mendongeng pada buah hatinya. Dia lebih menyarankan agar menceritakan kisah-kisah teladan.  kisah yang benar terjadi, seperti kisah Rasulullah, nabi-nabi, atau para sahabat.

Baginya mengapa harus cerita bohong yang disuguhkan pada anak. Padahal banyak cerita benar terjadi dan dapat dipetik pelajaran darinya.

Saran itu saya lakukan. Sejak kecil ketika KK masih tidur bersama kami, selalu saya ceritakan kisah-kisah nyata. Kisah nyata tersebut kemudian saya ramu di dalamnya terdapat doa-doa atau surah pendek.  Saat saya membacakan doa-doa atau surah pendek  tesebut ia akan ikut melafazkannya.

Cerita KK tidak hanya sampai di situ. Ia bercerita sahabatnya Ilmi pernah di bawa jalan oleh wali kelasnya. Ia kemudian di suruh mengarang. Mereka disuruh menceritakan ular, mesjid, pohon kelapa sawit, ruko, dan sekolah.

Suatu metode pembelajaran menulis yang menurut saya sangat brilliant. Mengajak anak jalan, menikmati pemandangan di luar kelas. Kemudian meminta anak agar menulis apa yang baru saja mereka alami.

"Tapi kan, Bunda Ilmi hanya menulis nomor satu ular, nomor dua mesjid, sampai nomor limaka tu dia tulis. Bukanlah mengarang. Hahaha" ulasnya diakhiri dengan tawa.

"Bakat dan kemampuan tiap orang berbeda, ada yang bisa mengarang, tapi tidak terlalu bisa berhitung atau sebaliknya."

"Iya Bunda, ada juga temannya Ilmi laki-laki bisa mengarang, tapi sedikit saja. Dulu aku disuruh mengarang satu halaman lebih kutulis."

"Alhamdulillah kalau anaknya Bunda bisa mengarang. KK kan, memang sudah kelas dua jadinya tulisannya lebih panjang. Mereka baru kelas satu. Iya kan...?"

"Iya."Jawabnya sambil tersenyum.

Selesai makan siang bersama, karena merasa keletihan mereka saya tinggal. Dan meminta KK dan Abang Syah merapikan tempat makan. Mereka melakukannya dengan baik. Alhamdulillah mereka akur lagi.

Baju batik yang di gunakan KK terpercik makanan. Ia berinisiatif mencuci sendiri bajunya. Dengan percaya diri mengatakan jika ia telah bisa mencucinya sendiri tanpa menggunakan mesin cuci. Rupanya ia berkolaborasi dengan adiknya. Senang melihat mereka rukun. Tak jarang mereka juga berdebat berujung tangis. Atau bergantian saling melapor.

Senang melihat kalian nak... Tetaplah rukun selalu😘😘😘

Catatan Buah Hati 7 Bunda Juga Manusia

Oleh: Bunda Ena

Kodrat manusia pernah melakukan salah. Sebaik, sesholeh atau sholeha apapun, sebagai insan pasti pernah melakukan kesalahan dan dosa. Nabi dan Rasul saja yang dijaga hatinya oleh Allah pernah melakukan kesalahan.

Meski tidak bisa mengambil alasan untuk berbuat kesalahan yang sama secara terus menerus karena beralasan dia manusia. Sebaiknya dari sebuah kesalahan hendaklah belajar dari kejadian tersebut.

Pernahkah diantara kita melakukan kesalahan pada buah hati? Saya pikir semuanya pernah. Demikian juga  saya. Insiden itu akhirnya membuat saya tersedu sedan dan menyesal melakukan hal demikian.

Waktu itu usia KK sekitar lima  tahun. Entah apa yang membuat saya melakukan hal demikian. Ingatan saya pendek ketika hal negatif yang terjadi. Bukan hanya pada putra putri saya. Ketika saya dan paksu ngambek-ngambekan saya juga cepat melupakan apa akar masalahnya.

Sering kali jika sudah berbaikan paksu tanya apa yang membuat saya ngambek sedemikian rupa. Saya pun melongo. Bertanya sendiri dalam hati, apa ya? Qodarullah, lupa. Ada manfaat juga ternyata orang pelupa, tidak dendam.

(Hadeehhh...tadi mau cerita buah hati. Ai, malah  jadi cerita paksu. Kita kembali fokus.)

Saat itu saya mencubit paha si KK hingga memar. Keesokan hari, saat memandikannya baru saya melihat. Benar-benar menyesal dengan perbuatan saya. Padahal anak saya masih sangat kecil. Tentu, apa pun alasan saya mencubitnya tidak akan diterima.

Saya membawa KK ke sekolah. Di lab yang sunyi hanya kami berdua. Saya mendudukkannya di meja sedangkan saya di kursi. Mulai mengajaknya bicara dari hati ke hati.

Saya minta maaf padanya. Air mata tidak dapat terbendung. Tersedu sedan di depan bocah cerminan diri. Memeluk erat tubuh mungilnya. Ia membalas, juga ikut menangis.

Jika orang melihat, mungkin akan mengatakan saya lebay. Mungkin pembaca juga akan mengatakan saya lebay.

Ibu normal mana pun pasti pernah merasakan marah tak terkontrol. Setelah  marah dan menimbulkan efek barulah menyesal melakukan hal demikian.

Sebelum hal itu terjadi maka kita sebagai seorang Ibu hendaklah senantiasa beristigfar. Menata hati kita agar tidak dikuasai oleh amarah yang disebabkan oleh rayuan syaitan. Hingga menimbulkan efek yang menimbulkan penyesalan.

Setelah tangis kami reda. Saya mengingatkan ia, agar jika saya marah sebaiknya ia meninggalkan saya. Entah itu solusi terbaik atau bukan. Yang jelas saya menjaga kejadian seperti itu tidak terulang lagi. Saya berjanji juga padanya dan diri saya sendiri agar tidak akan melukai fisiknya lagi.

Hingga kini, diusianya delapan tahun ia masih mengingat kejadian itu.

"Bunda pernah kan dulu Minta maaf sama aku sambil menangis. Kita sama-sama menangis di sekolah. Hanya kita berdua."

Maa syaa Allah, dia mengingatnya. Bersyukur yang dia ingat bukan pada saat saya melukainya.😭😭😭

Coba kita pandangi wajah anak kita saat terlelap. Betapa ia membutuhkan kita mengasihinya. Seaktif, seusil, sebesar apa pun ia membuat kita sibuk dan capek, ia tetap darah daging kita yang butuh kasih sayang.

Para bunda, ibu, moms, ummi, mari jadikan cerita ini sebagai pelajaran. Mari kita ambil ibrah dari kejadian ini.

Sei Menggaris, 29 Maret 2019

Senin, 25 Februari 2019

Catatan Buah Hati 6 VIRUS MENULIS

By: Bunda Ena



Seminggu tidak posting tulisan. Rindu rasanya. Menulis tetap, meski selingkuh. Kadang menulis ini, belum tuntas, menulis lagi yang lain.

Semenjak resign mengajar selain jadi emak tulen, ikut kursus menulis online. Lumayanlah, tiga bulan sudah bisa tularkan virus menulis. Terutama orang di rumah. Pak suami dan putri sulung.

Mereka terlihat antusias. Entah sudah berapa artikel dan puisi yang pak suami miliki selesai diedit. Si Kakak pula sudah meningkat kemampuan menulisnya. Ia sudah menggunakan "Tolong dieditkan tulisanku Bunda!" tidak lagi menggunakan kata "periksakan".

Ada rasa bangga terbersit di dada meski hanya bergelar "editor keluarga".  Saya menikmatinya. Berkumpul bersama anak, tidak meninggalkan rumah.

Meski kangen mengajar di kelas dan suasana sekolah terkadang menyeruak. Wajarlah, sepuluh tahun lebih menggeluti dunia mengajar. Tidak mudah melepas passion tersebut. Suatu ketika, InsyaAllah akan kembali mengabdi. Di saat tugas negara yang pertama dan utama telah tidak begitu berat.

(Emm.. Kok lari ke sana sih... Kita kembali ke laptop aja deh...πŸ˜‚πŸ˜‚)

Tulisan si Kakak sudah ada tujuh. Bermula ketika libur sekolah. Alhamdulillah di usianya yang baru akan memasuki delapan tahun pada tanggal 15 bulan Januari ini. Ia sudah mahir menulis apa yang dirasakan dan telah lakukan.

Virus menulis bukan waktu dekat ini baru di ajarkan pada si Kakak. Ketika baru mengenal aksara ia selalu diajak menulis pengalamannya. Ia sangat mahir menceritakan pengalamannya.

Melihat kondisi tersebut, si Kakak sekali-kali diajak menulis. Ia bercerita dan saya menulis ceritanya tersebut. Lalu menyuruhnya membaca kembali.

Mendengar ceritanya yang tiada akhir dan bertambah terus menerus membuat saya terkadang sedih. Maklum Ketika itu masih sibuk mengajar dan tetek bengek bisnis rumahan. Membuat saya kadang memintanya untuk menunda cerita.

InsyaAllah sekarang siap menjadi bank cerita untuk semua dan menjadi editor full time untuk keluraga.

Sei Menggaris, 6 Januari 2019

Selasa, 19 Februari 2019

Catatan Buah Hati 5 Lanjutan 80 Juta VS X8

By: Bunda Ena



Tidak henti-hentinya mendoakan si Kakak. Semoga ia baik-baik saja di sekolah. Benar, doa seorang Ibu tiada penghalang bagi anaknya. Ternyata memang ia baik-baik saja di sekolah.

Dendangan beburung menghibur hati yang sedang resah. Teramat penasaran. Rasanya ingin mendengar cerita si Kakak sepulang sekolah. Kali ini sayalah yang akan bertanya duluan atau meminta dia menceritakan pengalamannya di kelas.

Ia memang baik-baik saja di SMP bersama Abinya. Ia melewati sekolahnya karena terlambat. Ia takut masuk ke kelasnya. Kemungkinan besar juga karena belum menghapal perkalian sembilan. Subehanallah...putri sulungku ini. Apakah terlalu membebaninya untuk selalu sempurna melakukan sesuatu?

Saya mengingat-ingat, apakah mendidiknya untuk selalu melakukan yang serba perfect. Rasanya tidak. Mungkin saya hanya butuh belajar lagi dalam membimbingnya. Selama ini,  berusaha agar tidak membebaninya. Selalu hanya memintanya berusaha, bekerja keras, belajar dengan giat.

Sore hari temannya datang. Ia bercerita bahwa ia di cari oleh gurunya tadi di sekolah. Mendengar itu saya lebih penasaran.

"Tadi di sekolah kegiatannya apa nak?"
"Kerja bakti, Bun."
"Menghapal perkalian?"
"Belum Bunda, kami hanya di suruh tulis perkalian enam."

Si Kakak hanya diam. Sepulang sekolah ia kelihatan lesu, tidak semangat. Saya meraihnya ke dalam dekapan. Berusaha memberikan semangat dan menasihatinya. Ia tetap diam, entah apa yang ada di pikirannya.
"Kakak Kiya mau turun main dengan teman-temannya?

Ia menggeleng. Lalu saya menawarinya mengaji dan mengajaknya menemani saya membuat bakwan. Ia mengiyakan. Terlihat ia mulai semangat lagi.

***

Mentari menyinari bumi dengan ceria pagi itu. Si Kakak sudah kembali ceria dan semangat. Ia bangun lebih awal. Tidak mau terlambat lagi. Pagi-pagi ia sudah siap dan melapor akan menunggu di teras. Ingin ikut dengan anak SMP yang lewat.

Karena tampak antusias saya membawakan sarapan di teras. Ia makan dengan lahap. Sepuluh menit kemudian tidak ada yang lewat. Ia menengok Abinya. "Abi, Ayolah berangkat!" Rupanya ia takut telat ke sekolah seperti kemarin.

***

Sepulang sekolah ia semangat lagi.  Ia bercerita mengenai pengalamannya di sekolah. Mendapat nilai seratus membuatnya sangat gembira. Ia juga bercerita kalau ditanya oleh guru pengganti wali kelasnya. Ditanya perihal ketidakhadirannya. Ia menjelas bahwa Abi terlambat ke sekolah jadinya ia juga terlambat.

Syukurlah ia berterus terang. Memang setiap hari Jumat Abi kadang agak santai ke sekolah karena ia tidak mengajar pada hari itu. Alhamdulillah sejak hari itu, si kakak selalu lebih duluan siap daripada Abinya.

Seminggu berselang si Kakak pulang dengan wajah yang berseri. Kicauan beburung di pagi hari  saja ia kalahkan. Ia berceloteh ke sana ke mari tanpa henti. Kadang lupa memberi jeda pada kalimatnya. Sambung menyambung.

Ia dapat seratus lagi dan berhasil menghapal perkalian di depan kelas. Ia mengalahkan temannya yang mendapat rangking satu.

"Masa' kan Bunda si D temanku yang dapat rangking satu dapat nol. Ia juga tidak hapal kali-kali tiga."

"Masa'?"

"Iya Bunda, bilang Ibu kenapa bisa rangking satunya dapat nol tidak hapal kali-kali tiga lagi"

"Kebetulan nda tau kali dia nak"

"Bu A tanya wali kelasku Bunda."
"Jadi?"

"Ditanyalah si D sama wali kelasku, bilang, bikin malu saja."

"Astagfirullah...! Kakak...ingat rangking bukan segalanya, yang penting kakak rajin belajar, tidak dapat rangking juga tidak apa-apa. Bunda sama Abi lebih suka kalau Kakak rajin belajar tidak dapat rangking daripada dapat tapi malas belajar. Tapi kalau rajin belajar dan rangking itu, alhamdulillah lebih bagus lagi."

"Dan ingat jangan sombong, kalau ada temannya bertanya dan Kakak tau, kasi belajar temannya. Tapi ingat jangan kasi menyontek. Begitu juga, kalau kiya tidak tau bertanya sama temannya yang tau atau langsung ke gurunya."

Rasanya sedih mendengar cerita si Kakak hari ini. Betapa masih banyak orang tua bahkan guru membebani anak untuk mendapatkan rangking. Cukuplah anak  diarahkan untuk belajar dengan giat. Tidak perlu lagi diberi beban harus dapat rangking.

Sebenarnya saya sudah banyak mendengar cerita jika si Kakak harusnya dapat rangking satu. Yang bercerita ini juga adalah guru di tempat si Kakak mengajar. Kata mereka Ibu anak yang rangking satu itu teman dekat wali kelas si Kakak.

Lebih parah lagi mereka cerita saat penerimaan raport. Saat nama kakak Kiya di sebut rangking dua semua bertepuk tangan, bersorak. Tapi, ketika rangking satu yang disebut hanya beberapa orang yang bertepuk tangan. Ah, sudahlah.

Saya sungguh tidak pernah mempermasalahkan hal tersebut. Yang menjadi perhatian saya adalah saya merasa kasian terhadap anak-anak ini. Sekali lagi, mengapa mereka harus dibebani hal seperti itu.

Alangkah indahnya jika mereka belajar bersama tanpa ada persaingan, tanpa beban. Mereka berkolaborasi meningkatkan kemampuan masing-masing.

Sei Menggaris, 19 Januari 2019

Senin, 18 Februari 2019

Catatan Buah Hati 4 80 JUTA VS X8

By Bunda Ena

Lagi viral 80 juta di semua media. Sebagai emak-emak yang hanya sibuk urus pekerjaan rumah, anak, dan pak suami kepo juga sedikit. Sempat juga, bertanya-tanya apa sih 80 juta itu? Apalagi TV sudah stop di rumah.

Harusnya lebih kepo dengan bimbingan putri sulung saya. Ada tugas dari sekolah, Ibu guru menyuruhnya menghapal perkalian satu sampai sembilan.

Jumat lalu, seperti biasa sepulang sekolah si Kakak menceritakan pengalamannya di sekolah. Ia mendapat nilai 100 dan berhasil menyelesai tugasnya tercepat kedua. Ia dikalahkan oleh temannya yang bernama Erwin katanya. Sudah dua kali ia dikalahkan.

Mendengarnya berceritanya demikian, saya lalu mengingatkan. Nilai,  dan rangking bukanlah segalanya. Yang terpenting adalah kita mengerjakan sesuatu dengan jujur, kerja keras, dan tetap bisa bekerja sama bersama teman dalam hal yang positif.

Setelah istirahat saya mengingatkan si Kakak mengenai tugasnya. Dengan enteng di jawab "Sebentar Bunda sekarang, kan jadwal main." Ia belari keluar bergabung dengan teman-temannya yang sudah menunggu.

Akhirnya ia menghapal perkalian setelah sholat magrib dan mengaji. Ia memang sudah pernah menghapal perkalian satu sampai empat sebelumnya, hanya sisa memperlancar.

Ia menghapal sampai perkalian tujuh malam itu. Ia meminta saya membangunkannya jam 4 subuh. Saya bernegosiasi, "Ayolah nak hapal lagi, lagian masih awal, masih jam sembilan."

Ia tak bergeming. Saya juga kasian melihatnya sudah keletihan. Akhirnya membiarkan dia tidur.

Pukul lima subuh baru membangunkan si Kakak. Pagi itu ia ke sekolah dengan perasaan galau. Ia baru menghapal perkalian sampai X 8. Itu pun belum terlalu lancar. Saya memberitahunya bahwa gurunya tidak mungkin serta merta menyuruhnya langsung menghapal semuanya.

Dari kemarin ingin mengatakan itu padanya, tapi takut menyurutkan semangatnya akhirnya saya tidak memberitahunya. Saya hanya berdoa semoga anak saya baik-baik saja di sekolah.

karena anak saya sudah ke sekolah kita kembali ke 80 juta tadi yuk...

Melirik tulisan seorang remaja yang di viralkan karena pendapatnya mengenai 80 juta. Ya...pendapat dan tulisannya sangat  dewasa. Menurut saya sih tidak sesuai dengan usianya. Isinya juga...Astagfirullah membandingkan nilai seorang istri sah dan tugas emak-emak dengan rupiah.

Em...itu emak-emak seperti saya yang memiliki segudang pekerjaan dan tetek bengek tidak ada habisnya. Em...semua itu dikerjakan dengan sepenuh hati dengan niat mendapat pahala. Tidak bisa sebandinglah dengan uang yang hanya 80 juta. Digunakan untuk prostitusi lagi.

Hanya bisa berdoa semoga anak-anak bangsa lainnya tidak berpikiran liberalis sepertinya. Terutama anak saya. Karena 80 juta tersebut saya akan memberikan pemahaman ke anak saya bahwa tidak semua Perkara itu dapat dikalikan. Apalagi membanding-bandingkan suatu amalan dengan nilai rupiah.

Saya jadi teringat anak saya lagi dengan X 8nya... Penasaran juga kan say...nanti dilajutkan j8ka ada kesempatan....

Mat beraktifitas buat seluruh Emak-Emak dan Bapak-Bapak...
Semoga kita tetap semangat mengabdi pada anak bangsa meski pun itu anak kita sendiri... Dan apa yang kita kerjakan terhitung sebagai ibadah...

Minggu, 17 Februari 2019

Buah Hati 3 Mabuk-mabukan Membawa Bencana


Oleh: Bunda Ena

Anak saya kerap kali bermain sambil bercanda. Tertawa terbahak-bahak dan berkejar-kejaran. Bercanda dan tertawa berlebih-lebihan, saya menyebutnya bermain mabuk-mabukan. Tak jarang setelahnya menimbulkan pertengkaran dan  berlanjut hingga ada yang menangis.

Malam kemarin mereka bermain seperti itu. Saya menegur dua kali, berhenti sejenak keluar kamar lalu mulai lagi. Si adik juga ikut berpartisipasi. Tak ayal sambil tertawa berlari sekencang-kencangnya menuju kasur tempat saya berbaring.

Kepalanya dua kali menghantam kepala saya. Beruntung badan dalam posisi miring hingga perut aman tidak kena hantaman juga. Baru hendak bangun tetiba si kakak dan abang datang berlari naik ke kasur sambil berkejaran. Kakak langsung naik tak sengaja menindis perut saya. Si Abang datang terjatuh di samping saya.

Saya naik pitam jurus seribu bayangan emak-emak muncul tetiba. Menjepit paha si kakak dengan ibu jari dan jari telunjuk. Si Abang pula kena kibasan telapak tangan saya di pantatnya. Mulut mulai monyong "kan...dari tadi Bunda bilang sudah main mabok-maboknya...! Tuh...kan... Kena sudah perutnya Bunda" semua diam membisu. "Keluar semua...! Pigi belajar atau mengaji".

Ketiganya berhamburan keluar dari kamar saya. Mereka berlari ke kamar Opanya. Suasana menjadi hening. Berkali-kali saya mengucapkan istigfar. Saya mencubit si Kakak dan memukul si Abang, beruntung si Adik tidak saya apa-apain. Merasa bersalah merajai hati.

Ya...beginilah kalau emak-emak sudah bertanduk. Tanpa di sadari menyentuh tubuh anak, tapi saya sadar meski kesal saya melakukannya tidak terlalu keras tadi. Tapi tetap saja merasa bersalah kepada anak-anak.

Saya memanggil si Kakak, tidak ada respon. Dia merajuk. Memanggil si Abang, ia langsung berlari ke dekat saya. "Apa yang di kerja kakak Kiya?" sambil mengelus-elus pantatnya. "Dia menulis Bunda". Si Abang lalu berlari kembali ke kamar Opanya.

Tidak lama berselang ia datang membawa dua lembar kertas. "Dari kakak Kiya", ucapnya sambil  menyerahkan kertas kepada saya. "Tolong panggilkan Kakak ke sini, Bang!"

Beberapa menit kemudian abang Syah memperlihatkan kepalanya di pintu. Sambil menarik kakaknya. Si Kakak duduk depan pintu tak mau masuk. Kakaknya Malu kata Abang syah berusaha menarik ke dalam kamar saya.

'Drama apa lagi ini anak-anak', batinku. "Kakak...!" Kupanggil ia mendekat. Ia melangkah memiringkan kepala sambil menutup sebagian wajahnya. Ada-ada saja tingkah anak-anak ini.

Aku bertanya padanya apakah pahanya sakit. Ia menggeleng. "Bunda maafkan Kiya. Bunda juga minta maaf ya Nak." Ucapku sambil memeluknya. Kuingatkan agar bermain yang baik-baik saja. Segala yang berlebihan itu tidak baik. Termasuk tertawa terbahak-bahak. Dan bermain yang bercandanya berlebihan juga.
***
Malam ini terasa legang. Sisa saya bertiga di rumah. Meski celoteh Bocah 2 tahun adik Syah tanpa henti tetap saja terasa sunyi. Empat personil keluar berlibur. Hanya beberapa hari. Tapi ketiadaanya terasa sangat berbeda.

Saya membayangkan perasaan saudara yang terkena musibah. Mereka yang berada di palu, lampung dan Banten. Kehilangan keluarga atau harta. Gempa dan tsunami yang menjadikan trauma. Kepedihan yang lama mereka rasakan. Tanpa iman akan semakin sulit sembuh.

Semuanya memang hanya titipan dari Allah. Manusia hidup juga hanya sekejap. Ibaratnya hanya pengelana yang singgah berteduh di bawah pohon sejenak. Lalu harus melanjutkan perjalanannya kembali.

Semoga setiap musibah yang menimpa di dapat dijadikan pelajaran. Sudah terlalu lama merasakan nikmat dari Allah. Bisa jadi manusia semakin jauh dari mengingat Allah. Dan kemaksiatan di bumi semakin merajalela. Di depan mata tanpa bisa mencegahnya.

Sesungguhnya kesalahan dengan membuat kerusakan di bumi akan membawa bencana. Mabuk dunia yang berlebihan juga merupakan kesalahan hingga lupa mengingat Allah. Hal ini mengingatkan saya akan firman Allah.

"Nikmat apa pun yang kamu terima, maka itu dari Allah, dan bencana apa saja yang menimpamu, maka itu karena (kesalahan) dirimu sendiri." (QS. An-Nisaa: 79)

Allahu taala a'lam. Semoga bermanfaat.

Sei Menggaris, 24 Desember 2018


Jumat, 15 Februari 2019

Catatan Buah Hati 2 Rekreasi Membuka Lembar Romantisme Masa Kecil


By: Bunda Ena

Hari Ahad yang di nanti oleh anak-anak. Meski di tempat kami sulit menemukan tempat rekresi. Teman-teman  di sini tidak kehilangan akal, mereka mencari dan membuat tempat rekreasi sendiri. Walau pun hanya di pinggir sungai yang tidak bisa dipakai berenang itu sudah cukup.

Kami lima keluarga dan beberapa yang masih bujang ke pangkalan 3. Pangkalan 3 adalah tempat bersandarnya kapal, speed atau perahu menaik dan turunkan orang dan barang dari luar/kota. Kami ke sana ceritanya ingin berekreasi, sambil makan-makan dan bakar ikan.

Beberapa bulan lamanya saya sangat jarang ke luar rumah. Karena ngidam saya hanya bisa beraktifitas di rumah. Sudah beberapa kali tetangga mengajak jalan-jalan ke pangkalan 3. Setiap hari libur di sanalah tempat refreshing mereka.

Di sana terdapat pondok yang beratap daun kelapa sawit yang dibuat berjerami. Di dekat sungai jalur kendaraan laut keluar masuk. Di sekelilingnya pohon kelapa sawit. Tempat ini juga merupakan salah satu tempat favorit pemancing.

Tempatnya memang alami. Udara masih segar. Sangat berbeda dengan  di kompleks perumahan yang kami tempati. Jaraknya yang hanya beberapa meter dari pabrik pengolahan kelapa sawit. Hal ini membuat udara terkontaminasi dengan polusi. Lain lagi ketika bau dari minyak kelapa sawit yang berbau aneh.

Sampai di sana kami sekeluarga membentangkan tikar lalu duduk. Bapak-bapak menyalakan api untuk membakar ikan. Salah satu tetangga menggantung hammok/ayunannya. Anak-anak bermain-main. Ada yang juga memegang gawai. Anak saya ingin melakukan hal yang sama.  Segera saya mengeluarkan buku-buku. Lalu memintanya membaca.

Setelah ikan dan udang matang semua berkumpul dan menyantapnya. Terasa nikmat, meski lauk yang sama di rumah. Situasi yang berbeda membuat kenikmatannya berbeda. Selesai makan, tetangga berencan Pulang. Saya ingin tetap tinggal menikmati udara yang membuat saya agak baikan.
Setelah tetangga pulang tinggallah saya dan keluarga. Kami bercerita apa saja. Situasi ini, membuat saya semangat bercerita. Saya bercerita sewaktu kecil. Putri sulung saya sangat antusias mendengarnya.

Waktu sholat Dzuhur tiba. Suami dan putra saya kembali ke komplek perumahan untuk sholat berjamaah di mesjid. Mama dan putri saya yang ketiga pulang bersama rombongan tetangga. Setelah selesai sholat, putri saya meminta agar melanjutkan cerita. Ia sangat penasaran "lagi bunda...lagi bunda...ceritakan lagi..!" Rengeknya. Entah sudah berapa episode yang telah selesai saya ceritakan.

Saya akhirnya memulai lagi...

Banyak cerita gembira dan duka kala masih kecil. Memori yang tak bisa kuhapus dengan kenangan masa kini. Tahun 90-an tepatnya, masa ketika umurku masih sekitar 10 tahun. Ketika itu masih bersekolah di negeri jiran tepatnya Tawau Sabah Malaysia.

Masih jelas diingatan ketika itu Abang semata wayang lelaki sangat mahir membuat layang-layang besar, di sana di sebut Wau. Kerap kali aku memanjat tangki. Tangki model lama masih menggunakan besi berbentuk segi empat. Setelah berada di atas tangki lalu memanjat lagi ke atas seng atap rumah.

Bermain layangan bersama Abang merupakan memori terindah. Menarik-narik tali layangan memiliki sensasi tersendiri.  Mata fokus menatap layang yang terbang mengangkasa. Sesekali burung terlihat. Ingin rasanya terbang bersama layang menikmati indahnya alam di udara.

Lain lagi ketika Abang pergi memancing. Aku sembunyi-sembunyi ikut dengannya. Kami menaiki sampan kecil yang hanya memuat 2 orang. Sesekali Abang menebar pukatnya. Jika ada ikan yang nyangkut Akulah yang bertugas melepasnya. Asyik, hingga lupa kami semakin jauh.

Tangkapan kami cukup banyak, berbagai jenis ikan. Ikan Belana, kuaci, beberapa lainnya tak kuketahui dengan jelas namanya. Matahari semakin condong ke barat dan air sudah mulai pasang. kami memutuskan untuk pulang.

Saat perjalanan pulang, sampan sering di ketepikan. Kini abang mengajakku untuk mencari kerang di lumpur yang tidak digenangi air. Jika ada lubang kecil dan terlihat uap-uap udara kemungkinan di dalamnya kerang. Cara mengambilnya cukup memasukkan jari telunjuk dan tengah.

Awalnya kakiku geli menginjak lumpur. Tekturnya yang lembek dan membuat kaki berubah hitam. Karena berhasil menemukan beberapa kerang aku semakin bersemangat. Tidak peduli lagi pada seluruh tubuhku penuh lumpur. Kadang aku berlari kecil dan terseok-seok disaat kaki terlalu masuk ke dalam lumpur. Aku berusaha lebih gesit, tak mau kalah cepat dari Abang mememukan kerang.

Abang menaikkan tangannya yang berlumpur. Memperlihatkan kerang besar yang ia temukan. Aku tertawa bahagia melihatnya. Tak jarang melempar lumpur ke arahnya karena cemburu ia menemukan kerang yang banyak dan besar.

Karena hari sudah semakin sore abang mengajakku menaiki sampan. Aku melihat ada gelembung besar di dekat air sungai. Saat berlari aku terpeleset masuk ke sungai yang dalam. Panik tidak tau harus berbuat apa. Aku berusaha memanggil Abang. Ia hanya tertawa melihat tingkahku. Di kiranya aku bergurau. Melihat yang tersisa hanya rambutku Abang berlari ke arahku. Ia menarik rambutku dan menaikkan tubuhku. Aku hampir tenggelam, aku memang tak pandai berenang.

Aku marah bukan karena terlambat di tolong. Tapi karena Abang menarik rambutku. Kenapa bukan tangan atau badan saja. Di dalam air seluruh badan akan licin, sulit di tarik. Hanya rambut yang bisa di tarik cepat karena teksturnya yang keset ketika berada di dalam air. Entah dari mana abang menemukan dan mempelajari teori itu.

Dalam perjalan pulang Abang mewanti-wanti agar tidak menceritakan kejadian itu. Termasuk pada bapak dan mama. Jika hal itu terjadi ia akan kena marah. Dan Aku tidak akan pernah ikut dengannya lagi ke sungai.

Beruntung tiba di rumah Bapak dan mama belum berada di rumah. Tangkapan kami lumayan setengah ember. Abang memintaku membersihkan diri secepatnya. Tepatnya sebelum Bapak dan Mama datang aku harus sudah selesai membersihkan diri.

Mama tiba di rumah pukul 5.10 menit. Tanpa diberitahu pun Mama tahu kalau aku ikut ke sungai. Tangan dan kakiku yang hitam berkeriput, mataku merah. "Lain kali tidak usah ikutkan adikmu Syam!" Padahal Aku masih sangat ingin ikut. Sekalian belajar berenang, biar tidak tenggelam.

Dengan antusias putri saya bertanya "kenapa pakcik Sam melarang Bunda cerita sama Bapak tua dan Opa". Saya menjelaskan bahwa Abang takut di marahi. Kami pergi tidak minta izin. Jadinya takut kejadian di sungai di ketahui.

Hingga kini cerita itu saya simpan hanya di dalam memori tanpa menceritakannya kepada siapa pun. Baru hari ini kisah itu terkenang kembali. Kenangan masa kecil yang membangkitkan rindu pada Abang yang mirip dengan Bapak. Tidak lupa saya berpesan bahwa putri saya harus akur dengan saudara-saudaranya. Kita tidak akan hidup bersama selamanya. Setelah besar akan berpisah dan di saat itu akan sangat saling merindukan. Dan jangan lupa minta izin jika ingin ke luar rumah. Pesan yang tidak kalah penting juga adalah pintarlah menjaga rahasia.


Sei menggaris, 2 Desember 2018


Catatan Buah Hati 1 Curhat Si Kakak

By Bunda Ena

Kebiasaan si Kakak sepulang sekolah adalah curhat. Semenjak saya tidak ke sekolah dia kerap melakukannya. Berganti pakaian atau duduk di samping saya sambil bercerita.

Bukan hanya pulang sekolah dari bermain pun rutinitas itu sering di lakukannya. Terkadang sambil matanya berbinar. Kadang pula sambil ekpresi menitikkan air mata.

Kadang saya koreksi karena banyaknya pengulangan kata "lepas tu kan Bunda" atau "baru itu". Jika saya mengintrupsinya...dia meminta agar saya memberikan contoh tanpa menggunakan kata-kata yang saya maksud.

Selesai menceritakan kembali kami pun tertawa terbahak. "Iya kan... Bunda memang pandai" ucapnya sambil tertawa riang.

Suatu sore sepulang bermain. Ia bercerita pengalamannya ketika bermain bersama adiknya. "Syah kan Bunda pandainya...dia kalahkan aku main engke'-engke'. Masa' kan tiga sudah rumahnya, aku belum ada. Jagonya dia Bunda. Padahal baru tadi dia belajar. Dia jago melempar kobat. Aku sering keluar atau terkena garis kalau melempar kobat."

Demikianlah dia bercerita panjang lebar tanpa jeda. Banyak cerita yang harusnya saya rekam dan jadikan cerita, tapi tidak dilakukan. Lupa... Padahal momen-momen seperti ini mungkin tidak akan terulang kembali.

Pernah sekali saya meminta dia untuk menulisnya. Lumayanlah anak umur 7 tahun bisa menuliskan seperti itu.


Saya membayangkan waktu masih kecil seperti Kakak Kiya, saya seperti apa ya bersama Mama. Yang  kuat di memori, saya sakit hati saat di tinggal pergi oleh Mama.

Saya pernah di titip tinggal bersama tante beberapa minggu. Saya juga pernah tinggal bersama kakak dalam waktu yang sangat lama. Sewaktu melanjutkan pendidikan SMP sampai perguruan tinggi tidak pernah tinggal bersama Mama.

Saya tidak mengingat bahwa pernah curhat dengan Mama. Anehnya karena saya anak bungsu. Biasanya anak terakhir akan manja dan lengket dengan Mamanya.

Setelah menikah barulah Mama kebanyakan tinggal bersama saya. Usianya kini sudah lebih  60 tahun. Selalu berniat untuk mengabdi. Tapi kenyataanya Mamalah yang banyak membantu.

Selalu menginginkan kebaikan buat Mama. Tapi kenyataannya kadang mama jadi tersinggung. Beruntung jika mama marah hanya sebentar.

Tidak ada  ucapan selamat hari Ibu untuk mama karena saya tidak menyakini itu. Semoga bisa selalu berbakti. Semoga bisa menjadi Bunda sholeha bagi anak dan suami.

Sei Menggaris, 22 Desember 2018

Kamis, 07 Februari 2019

TRIK JITU MENGATASI ANAK KECANDUAN TELEVISI GADGET

OLEH: BUNDA ENA

Hari libur adalah momen yang dinanti keluarga, terutama anak-anak. Demikian pula buah hati saya. Pasalnya mereka akan diberi waktu untuk menonton dan menggunakan gadget.  Hampir setahun televisi dinonaktifkan dan bermain gadget dibatasi. Saya dan suami melihat  dampak negatif dan pengaruhnya sangat merusak.

Putra saya yang berusia 6 tahun 1 bulan kerap menendang dan meninju menirukan film yang telah ditontonnya. Putri sulung saya berbeda lagi ia kerap menirukan gaya percakapan sinetron remaja yang telah ia tonton. Belum lagi ketika mereka sempat melihat film-film horor yang dapat menjadikan mental mereka rusak, menjadi penakut.

Dari pengamatan saya siaran televisi sekarang memang lebih banyak yang kurang mendidik. Hampir semua sinetron menyajikan cerita romansa percintaan antar lawan jenis. Kalaupun setiap siaran di cantumkan usia penonton, telah lulus sensor, dan anak harus tetap didampingi oleh orang tua tapi tetap saja ada adegan yang tidak pantas dilihat.

Fenomena tersebut merupakan satu problematika yang melanda kehidupan masyarakat di Indonesia. Kejadian ini mewakili permasalahan yang dihadapi orang tua dalam menghadapi anak. Khususnya anak yang telah menjadikan televisi dan gadget sebagai cerminan tingkah lakunya di dalam kehidupan nyata. Dan parahnya mereka sampai ada yang kecanduan oleh kedua benda tersebut.

Artikel kali ini akan membahas trik jitu mengatasi anak kecanduan televisi dan gadget. Sebelum lebih jauh mengemukakan trik-trik jitu ada baiknya kita mengetahui pengertian, fungsi,  dan pengaruh televisi dan gadget.

Pengertian televisi dan gadget

Pertama, kita akan mengetahui apa pengertian televisi dan gadget. Menurut KBBI televisi adalah sistem penyiaran gambar yang disertai dengan bunyi (suara) melalui kabel atau melalui angkasa dengan menggunakan alat yang  mengubah cahaya (gambar) dan bunyi (suara) menjadi gelombang listrik dan mengubahnya kembali menjadi berkas cahaya yang dapat dilihat dan bunyi yang dapat didengar.

Sedangkan gadget adalah perangkat elektronik dengan model penggunaan yang praktis dan memiliki fungsi khusus (Jurnalponsel.com). Gadget yang sering digunakan adalah gawai atau HP, tablet, laptop, IPad, kamera digital, dan HP (headshet).

Fungsi televisi dan gadget.

Fungsi televisi dan gadget hampir sama. Meskipun pada perkembangannya gadget memiliki kelebihan dibanding televisi. Mengakses informasi, menambah wawasan, hiburan, dan gaya hidup. Fungsi yang hanya dimiliki gadget adalah memperlancar komunikasi.

Pengaruh televisi dan gadget pada kehidupan khususnya anak.

Penggunaan televisi dan gadget memiliki dampak positif dan negatif. Keduanya bagai mata pisau. Jika pemiliknya mampu menggunakannya dengan baik maka pisau tersebut sangat bermanfaat. Tapi jika pemiliknya tidak paham menggunakannya. Pisau tersebut akan melukai, baik disengaja maupun tidak.

Pengaruh Positif televisi dan gadget yaitu sebagai sumber belajar anak. Selain itu dapat juga dijadikan sumber menambah wawasan bagi anak. Dan bisa dijadikan sebagai sarana hiburan.

Pengaruh negatif televisi pada anak telah di paparkan di dalam tulisan  Adhi Aziz Maher di Kompasiana sebagai berikut.
1. Anak yang awalnya rajin menjadi malas karena  sebagian besar waktunya di gunakan untuk menonton televisi.
2. Aksi-aksi kekerasan juga sering dilakukan akibat meniru tontonan di televisi.
3. Minat baca anak akan berkurang karena banyaknya hiburan di televisi yang hanya bisa langsung ditonton tanpa membaca.
4. Anak juga cenderung mengikuti tren-tren gaya barat sehingga menyimpang dari agama.
5. Suguhan di televisi juga menghancurkan budaya-budaya Indonesia karena lebih banyak  mempertontonkan budaya luar.
6. Tontonannya juga dapat mengubah tingkah laku dan watak, dulunya anak bersikap sabar menjadi cepat emosi akibat tontonannya.

Di dalam artikel tersebut memberikan dua solusi yaitu meminimalkan waktu menonton televisi dan membatasi hanya menonton program-program tertentu. Dan kedua menyarankan kepada pemerintah untuk lebih keras membatasi tayangan televisi.

Sedangkan pengaruh gadget yaitu sebagai berikut.
1. Paparan radiasi gadget sangat berbahaya bagi kesehatan.
2. Gadget dapat membuat anak ketergantungan sehingga mereka bisa tumbuh menjadi anak-anak dengan sifat tertutup dan tidak mempunyai kemampuan bersosialisasi yang baik.
3. Gadget bisa menjadi pemicu rasa tertekan, gangguan bipolar dan autis.
4. Anak-anak bisa mengalami kelebihan berat badan atau obesitas.
5. Saat bermain, anak-anak cenderung lupa waktu. Apalagi jika terlalu asyik main games. Hal ini tentu saja bisa mengganggu waktu tidurnya.
6. Awalnya, membelikan gadget agar dimanfaatkan anak saat mencari informasi terkait tugas sekolah. Tapi, ia tidak sengaja membuka situs pornografi atau situs lain yang mempertontonkan tayangan yang tidak seharusnya ia lihat. Nah, pengaruh tayangan ini bisa berdampak negatif pada anak.


Trik jitu  mengatasi anak kecanduan televisi dan gadget.

Trik yang akan diutarakan ini adalah trik-trik yang penulis gunakan pada anaknya sendiri. Dulunya anggota keluarga merupakan penonton yang dikategorikan berat yaitu menonton lebih dari 4 jam sehari. Saat ini Alhamdulillah, sudah terbebas dari menonton dan penggunaan gadget pada buah hati.

1. Komitmen antara Ayah dan Ibu.

Orang tua juga harus berkomitmen  untuk tidak menonton ketika memberi arahan kepada anak. Sebisa mungkin untuk tidak meletakkan televisi di kamar, baik di kamar anak maupun di kamar sendiri. Demikian juga gadget,  Ibu dan ayah harus bersepakat tidak memberikan ke anak. Gadget ibu dan ayah harus aman dari jangkauan anak.

2. Membatasi waktu untuk menonton atau menggunakan gadget.

Bisa dilakukan hanya sejam sehari dan pada program tertentu yang mendidik. Setelah sebulan tingkatkan lagi aturannya menonton hanya sekali dalam seminggu yaitu di hari libur.

Demikian juga gadget. Anak harus diberikan waktu dan gadget tersebut tidak tersambung dengan jaringan internet. Aplikasi juga harus disepakati bersama. Misalnya hanya menggunakan aplikasi pemotretan atau game-game yang mendidik.

3. Padatkan waktu untuk melakukan hal-hal positif di rumah.

Hal ini dapat dilakukan mengajak anak bermain bersama orang tua. Mengajak untuk melakukan hal-hal positif seperti memasak, membersihkan rumah, menanam atau menyiram bunga, membersihkan halaman, menulis hal-hal yang menyenangkan, menulis kegiatan apa yang ingin lakukan, atau menghias kamar. Hal ini dilakukan dengan hanya melibatkan mereka minimal mereka antuasias melihat kita melakukan hal-hal positif tersebut.

4. Perkenalkan atau mengajak anak bermain tradisional di rumah.

Permainan tradisional Seperti bola bekel, petak umpet, tepuk-tepuk yang ada nyanyiannya,

bermain pesawat-pesawat atau perahu dari kertas bermain peran contohnya masak-masak, jual beli, dan lain-lain. Jika perlu ikutlah bermain bersama anak.

5. Luangkan waktu untuk anak.

Meluangkan waktu bercengkrama bersama anak sangatlah penting. Selain bisa mengajak anak berbagi cerita. Orang tua juga dapat memberikan penjelasan mengapa mereka tidak bisa menghabiskan waktu hanya dengan menonton televisi dan bermain gadget.

6. Hindari memarahi anak jika kondisi rumah berantakan.

Rumah akan cenderung berantakan jika mereka dibiarkan bermain yang positif di rumah. Misalnya, batu, main, peralatan bermain anak senantiasa berhamburan. Jika hal ini terjadi maka ajak anak membersihkan dan merapikan mainan bersama-sama.

7. Ajak anak menyediakan peralatan main sendiri.
Mengajak anak menyediakan peralatan main sendiri memiliki sensasi keseruan tersendiri. Selain mengajarkan anak untuk kreatif mencari dan menemukan. Waktu mereka juga habis dengan tidak mengingat televisi dan gadget.
Peralatan bisa berupa kertas, karton, batu, kayu bekas, botol bekas, plastik bekas atau peralatan lainnya yang di gunakan oleh anak.

8. Berikan waktu anak untuk bermain di luar.

Waktu terbaik yang bisa digunakan anak untuk bermain di luar adalah sore hari. Setelah

mereka istirahat siang, dan selesai mengaji. Ingatkanlah untuk bermain yang positif. Sebelum magrib atau sebelum pukul 18.00 mereka harus sudah berada di rumah. Agar ada waktu membersihkan diri dan bersiap untuk melakukan ibadah salat magrib.

Demikianlah trik jitu  yang bisa digunakan oleh orang tua untuk mengatasi anak yang kecanduan menonton televisi dan menggunakan gadget. Semoga bermanfaat.

Sumber:
https://raniyuliandani.wordpress.com/2009/05/26/pengaruh-televisi-terhadap-perkembangan-anak/
http://ulilfazmi.blogspot.com/2015/02/pengaruh-televisi-terhadap-sosial.html?m=
https://www.kompasiana.com/abhieammm/597055b6da1e4a35a24b22d2/dampak-televisi-bagi-masyarakat-khususnya-anakanak-di-indonesia?page=all
Parentinganak.com.


KIAT MENGATASI NGIDAM MENURUT ISLAM


Oleh : Enawati

Masa krusial seorang Ibu ketika mengandung adalah triwulan pertama. Masa ini biasa juga di kenal dengan masa ngidam. Ngidam biasanya ditandai dengan nafsu makan berkurang, pusing-pusing, merasa mual, dan muntah. Bukan saja dari dunia kedokteran mengakui hal ini, agama pun mengakui adanya hal tersebut.

Menurut teori kedokteran, penyebab ngidam adalah terjadinya perubahan hormonal di dalam tubuh. Beberapa indera menjadi lebih sensitif. Tubuh bumil juga  mengalami kekurangan nutrisi tertentu  dan nutrisi tersebut terdapat pada makanan yang diinginkan.

Ngidam diakui oleh ilmu kedokteran tapi hingga saat ini belum di temukan obat untuk mengatasi hal tersebut. Salah satu solusi yang bisa dilakukan untuk mengatasinya adalah melakukan hipnoterapi. Hipnoterapi ini di lakukan 20 menit sehari, pagi hari dan malam sebelum tidur.

Dari hasil penelitian mutakhir yang dilansir Dailymail dalam kompasianahealty, fenomena itu sebenarnya tak terjadi pada perempuan saja, tetapi sebagian suami juga merasakannya ngidam. Fenomena calon ayah yang ngidam dialami oleh para pria yang terlibat secara penuh dalam kehamilan istrinya.

Hasil penelitian  menyimpulkan bahwa dari 2.000 pria berusia 16-65 tahu, sekitar 26 persen calon ayah mengalami perubahan emosi, 10 persen mengaku ngidam makanan dan 6 persen pria ikut merasakan gejala mual dan muntah. Bahkan, 3 persen pria seolah-olah merasakan sakit kehamilan.

Di dalam pandangan Islam suami dianjurkan untuk berbuat baik kepada istrinya. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: "Aku wasiatkan kepada kalian (para suami) untuk berbuat baik kepada Istri-istri." Muttafaqun alaih.

Hadits tersebut menunjukkan bahwa suami hendaknya berbuat baik kepada istrinya disaat apapun, lebih dituntut lagi tatkala istri ngidam karena hamil. Karena keadaan psikologis seorang wanita saat hamil kadang berubah-ubah.
Beberapa tips yang islami untuk mengatasi ngidam:
Pertama, tips mengatasi ngidam menurut Islam yang dapat dilakukan adalah membuat pikiran rileks dengan  mendengarkan murottal Al Quran atau membaca Al Quran langsung. Sesuai firman Allah Azza wa Jalla Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi obat dan rahmat bagi orang-orang yang beriman” (QS. Al-Isra’: 82).

Kedua, Memotivasi agar banyak berpikir positif dan memberi sugesti pada diri sendiri mengenai hal-hal positif. Menanamkan dalam diri bahwa ngidam dan hamil adalah sebuah ibadah yang besar pahalanya. Muntah dan mual yang dirasakan akan menggugurkan dosa dengan banyak beristigfar dan berzikir.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memberi jaminan. Resiko apapun yang diderita wanita ketika hamil, terutama yang mengancam kematian, akan dinilai sebagai syahid. Kemuliaan Ibu hamil bahkan di sebutkan Rasulullah Sallahu Alaihi Wasallam, ketika  wanita hamil dan meninggal termasuk salah satu dari 7 mati syahid bukan karena terbunuh di jalan Allah.

Orang yang mati karena thaun, syahid. Orang yang mati tenggelam, syahid. Orang yang mati karena ada luka parah di dalam perutnya, syahid. Orang yang mati sakit perut, syahid. Orang yang mati terbakar, syahid. Orang yang mati karena tertimpa benda keras, syahid. Dan wanita yang mati, sementara ada janin dalam kandungannya.” (HR. Abu Daud 3111 dan dishahihkan al-Albani)

Ketiga, tips selanjutnya adalah memberikan makanan yang sehat, bergizi dan halal yang disenangi wanita yang sedang ngidam. Salah satu buah terbaik dikonsumsi ketika ngidam dan hamil  yaitu buah kurma. Hal ini di gambarkan di dalam Al Quran.

Goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu, maka makan, minum dan bersenang hatilah kamu,” (QS. Maryam: 25-26).

Bukan hanya buah kurma dianjurkan tapi juga mengkomsi madu saat ngidam sangat dianjurkan.  Keaadaan bumil saat ngidam sangat lemah, mengkomsumsi madu dapat menyembuhkan stamina. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang memikirkan” [An-Nahl : 69]

Selain itu dianjurkan juga meminum susu, memakan sayur- sayuran dan buah- buahan. Memakan buah-buahan lain juga sangat dianjurkan Contohnya Karena ngidam biasanya membuat nafsu makan berkurang dan mual akibatnya muncul keinginan untuk memakan buah yang memiliki rasa asam. Untuk menggabungkan semua rasa maka biasanya akan diolah menjadi rujak.

Yang lebih penting dari semua itu adalah memberikan makanan yang halal baik dari segi kehalalan makan tersebut atau dari segi kehalalan mendapatkannya. Karena sesungguhnya Allah tidak akan menerima sesuatu yang tidak bersih atau haram dan tidak akan mengabulkan doa ketika memakan sesuatu yang haram. Padahal ketika ngidam dan hamil hendaklah banyak berdoa agar di beri kekuatan, kesehatan, terlebih lagi berdoa agar diberikan anak yang soleh dan soleha.

Sumber rujukan:
Al Quran dan Terjemahan
https://konsultasisyariah.com/29205-pahala-bagi-wanita-hamil.html
https://almanhaj.or.id/2452-pengobatan-menggunakan-habbatus-sawda-dengan-madu-dan-dengan-bekam.html
Www.dakwahsunnah.com
Https.//muslimah.or.id
http://jogja.tribunnews.com/2015/02/22/suami-wajib-turuti-istri-saat-ngidam-ini-pandangan-menurut-agamak