Label

Tampilkan postingan dengan label Kuliner. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kuliner. Tampilkan semua postingan

Jumat, 24 April 2020

Lock Down Ramadan 1

Ramadan kali ini sangat berbeda. Semua merasakan hal ini. Bukan hanya kamu atau aku, tetapi kita semua. 

Ada sesak di dalam dada. Teringat semua keluarga. Saudaraku, apakah makanan tetap tersedia di rumah mereka? Suaminya kerja serabutan, apakah cukup untuk belanja makan mereka? 

Tetap di rumah itu jauh lebih baik. Masih bebas ingin melakukan apapun. Bagaimana dengan orang yang di dalam penjara. Tinggal di dalam sel yang hanya berapa meter tanpa jendela tanpa alas untuk tidur. Berbuka puasa pun sekedarnya. Hati ini bagai teriris. Ramadan kali ini sungguh berbeda.

Apa pun yang menjadi takdir Allah selalu disyukuri. Bagiku Ramadan kali ini meski berbeda tetapi berkah, malah berlimpah. Rezeki kami, Maasyaa Allah, meski lockdown makanan di rumah tetap banyak dan berbagai rupa. 

Tempat kami di perbatasan, terluar, dan terisolasi. Bahkan pasar sebulan sekali sekarang sudah ditiadakan. Tetapi, alhamdulillah, rupa-rupa santapan tetap tersaji. 

Bahan pokok juga tersedia jika kita ingin membeli. Ikan, udang, ayam daging. Padahal biasanya sulit, terkadang ingin membeli tiada dijual.

Ada pedagang yang rutin membawa ikan dari Berau. Ikan merah, putih, ikan yang mahal-mahal semua tersedia. Udang yang dulunya dibawa ke kabupaten sekarang sudah dijual di tempat kami. Daging juga sangat murah tersedia, daging rusa. Harganya dua kali lebih murah. Nikmat Tuhanmu mana lagi yang kamu dustakan?

Karena merasa rezeki cukup maka kami ingin berbagi. Yang membuat sesak saat berbagi rezeki dengan keluarga, apa yang mereka katakan? 

"Ada jugakah kamu pakai, dek. Kenapa kirimkan kami lagi?"

Kakak pertama mengatakan demikian. Kakak kedua juga, bahkan keluarga lainnya pun mengungkapkan hal yang sama.

Ya, Allah, terharu di saat mereka kesulitan masih memikirkan saya juga sekeluarga. Padahal tadinya mereka cerita jika sumber penghasilan mereka jadi berkurang karena tetap berada di rumah.

Ya, Allah semoga covid-19 segera berlalu.

Minggu, 17 Februari 2019

KEPITING kECAP



Ala Bunda Ena
Kebiasaan di waktu santai selalu berpikir makan apa. Maklum keluarga saya, keluarga tukang makan. Bepergian kemana saja tidak ketinggalan bekalnya.

Menghabiskan akhir pekan juga demikian. Makan apa ya? Berkumpul biasanya tidak berarti tanpa ada yang dikunyah.

Demikian juga sehari-hari di rumah. Hal pertama yang di lakukan setiap harinya adalah mengolah makanan buat keluarga.

Minggu lalu di ujung minggu paksu dapat kepiting. Menu andalan kepitingnya adalah goreng tepung berbumbu kecap atau saos.

Let's go kita ke dapur menghabiskan akhir pekan! Bahannya kepiting, tepung bumbu, bawang merah, putih, merica, serai, minyak goreng.

Caranya, kepiting di bersihkan dengan menggunakan sikat bersih. Sikat lumpur yg menempel pada kulit luar kepiting. Pisahkan jepit dan jemari-jemari kepiting dari badannya. Belah kepiting. Buang insangnya. Masukkan ke dalam tepung bumbu yg telah di campur air. Goreng hingga berubah warna.


Haluskan bumbu. Tumis bumbu dan masukkan serai yang telah dimemarkan. Tumis hingga berbau harum, lalu masukkan kecap, garam, gula, penyedap rasa. Masukkan kepiting yang telah digoreng. Aduk-aduk agar semua kepiting terkena bumbu.

Jadi deh... Siap dinikmati bersama keluarga di akhir pekan. Masakannya buat lauk ya say bukan camilan...πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

Sei Menggaris, 27 Januari 2019

Kamis, 14 Februari 2019

KAGET KARENA PETE DAN BETE

By: Bunda Ena

Perbincangan hangat mengenai berita presiden RI kaget. Saat mengetahui masih ada gaji honorer 300 dan 500 ribu.

Sebagai mantan honorer saya juga merasa heran. Bisa-bisanya pak Presiden baru tahu jika gaji honorer masih ada yang demikian. Lalu saya pun memposting kembali berita tersebut. Dan melanjutkan pertanyaan, bagaimana honorer yang tinggal di pelosok, tentu kebutuhan hidup dan biaya perjalanannya juga tinggi.

Dari postingan itu banyaklah yang memberikan komentar. Amazing...semuanya memberikan komentar yang kontra. Tapi kemudian sebuah pernyataan yang membuat perbincangan menjadi perdebatan.
Pernyataan datang dari pak asnan

(Hahahhaa Masih ada yg 300 ribu dan dengan bodohnya dia masih mau mengajar.

Itulah kenapa presiden kaget.)

Pernyataan tersebut banyak yang menuai komentar. Diantaranya komentar Ibu Darma yang langsung memberikan contoh kongkret yang di temukan di lapangan. Ibu Darma mengemukakan bahwa di NTT masih ada guru yang di gaji 150 ribu. Mereka mau bukan karena bodoh tapi karena tidak ada pilihan dan di sana masih kekurangan guru. Jadinya guri di sana selain mengajar juga bekerja sebagai petani, pedagang,....

Lama berselang masuklah komentar pak Hery yang mempertanyakan komentar pak Asnan yang terdapat kata "bodoh"...setelah itu saya tidak tahu lagi apa komentar-komentar selanjutnya karena jaringan yang kurang bersahabat.
Karena BETE dengan jaringan lebih baik saya mengolah PETE. Pete atau petai yang sudah lama saya idamkan. Karena pak Suami kurang menyukai makanan yang mengandung gizi makro lengkap ini,  saya tidak pernah meminta dicarikan. Meski ngidam saya masih bisa memendam keinginan. Beberapa bulan lalu melihat postingan pak kum sahabat menulis di SMA membuat saya ngiler.

Malam ini Alhamdulillah...bisa menikmati PETE. Ia datang dengan sendirinya. Meski KAGET dengan anugrah yang Allah berikan membuat saya lupa mengenai berita viral kagetnya Presiden baru mengetahui gaji guru honorer. Terima kasih bu Ranti. oleh-olehnya dari Sulsel.

Pagi masih sangat awal, pukul 6.15 WITA saya kembali mengolah sisa petai. Sensasi kelezatannya sungguh luar biasa. Apalagi dibuat sambal dan dicampur udang. Bagi yang tidak menyukai pete saya bisa memberikan gambaran kelezatannya mirip dengan kacang mente yang diolah bersama coklat. Perpaduan yang sangat serasi. Atau Perpaduan coklat dan susu.

Em...mumtaz... Cek percek, ternyata salah satu manfaat petai adalah dapat mencegah mual pada ibu hamil. Jika tahu demikian sudah lama saya merengek ke pak suami untuk di carikan. Meski paksu tidak suka, kan ada alasan.

Senin, 11 Februari 2019

Berkaca dari Identitas Rempeyek

By Bunda Ena

Pagi ini keluarga kami sarapan pisang goreng kriuk. Ditemani kopi herbal untuk Abi. Susu kambing pula pilihan saya.

Kami biasanya menikmati pisang goreng dengan sambal tomat. Perpaduan manis, asin, dan pedas menambah selera. Anak-anak lebih suka menikmati kriuk-kriuknya. Melihat kondisi tersebut setiap mengolah pisang salutan tepungnya sering saya perbanyak.

Saya tidak heran dengan hobi anak-anak. Tetingat sewaktu kecil, saya pun demikian. Kadang meminta mama untuk memisahkan kriuk-kriuknya saja. Sensasinya renyah di mulut enak dilidah membuat ketagihan.

Mama kemudian rajin membuatkan kami kerupuk goyang-goyang. Saya menamainya demikian karena proses pembuatannya. Saat ingin melepas krupuk dari cetakannya dilakukan dengan menggoyang-goyangkan cetakan tersebut.

Berbeda dengan saya yang hobi membuatkan camilan rempeyek. Lebih memilih peyek karena selain anak suka suami juga sangat hobi. Menikmati krupuk tradisional Jawa tersebut enak juga disantap menemani makanan berat. Jadi di semua kondisi enak jika di temani kriuk-kruik yang satu itu.

Pernah juga membuat peyek untuk di jual. Hasilnya lumayan laris. Pembeli juga bertanya-tanya siapa pembuatnya. Penjual tempat menitipkan kripik tersebut menyebutkan nama saya. Orang-orang bertanya apakah saya orang Jawa. Saya lalu menjelaskan saya orang Bugis. Guru saya yang mengajari membuat peyek itulah yang orang Jawa.

Berkaca dari cerita tersebut. Ternyata makanan saja identik dengan identitas. Apalagi kita sebagai manusia. Laku, ucapan, tulisan, apapun yang kita kerjakan akan identik dengan pribadi pelakunya. So guys... Mari kita lakukan yang baik-baik dan bermanfaat. Entah itu perbuatan maupun menulis.

Apalagi di dunia ini manusia hanya sementara. Perbanyaklah bekal untuk kehidupan akhirat kelak. Jangan sampai kita terpedaya dengan amalan yang sia-sia.

Sei Menggaris, 19 Desember 2018



Senin, 04 Februari 2019

Palekko




Ala Bunda Ena

Berbulan-bulan, baru berhasil merealisasikannya. Nasu palekko, entah itu ayam atau bebek. Alhamdulillah, malam ini Abinya anak-anak berhasil menemukan ayam kampung. Membeli dari pak Imam masjid.

Sebelum magrib, Pak Suami mengungkapkan keinginannya. Hanya mendengar kemauannya yang menggebu sambil tersenyum. "Bisa...yang penting ada bahan," jawab saya sekenanya.


KAPURRUNG


By Bunda Ena


Masyarakat Indonesia di kenal dengan keramah tamahannya. Selain itu, sikap kegotongroyongan juga masih melekat. Hingga kini, sikap gotong royong itu tetap ada meski sedikit tergerus oleh modernisasi.

Sikap gotong royong, berkumpul-kumpul sambil melakukan sesuatu bersama masih sering dilakukan. Salah satu contohnya pada masyarakat Sulawesi Selatan khususnya suku Bugis yang berada di rantauan melakukannya hari ini di rumah saya.

Ingin melihat keseruannya, ayo ikuti terus cerita saya.

Pukul 9 pagi saya mendapat chat dari adik yang mengajar di SD.

[Bu...kita buat kapurrung yok....😁 kalo mau kami go iniπŸ˜‚]

(iya mau...ke sinilah. Beli bahan di ruko dulu, masuk buku atas nama Abinya Kiya)

***

Acara kali ini personilnya sebagian Ibu-Ibu SDN 1 dan SMP 1 Sei menggaris. Mereka sangat antuasias untuk mangacara kapurrung. Mangacara adalah kegiatan kumpul-kumpul yang di adakan dalam rangka membuat suatu makanan yang nantinya akan di santap bersama.

Kapurrung adalah salah satu makanan tradisional dari Sulawesi Selatan, khususnya daerah Palopo. Di Luwuk yang tidak jauh dari Palopo menyebutnya dengan Pugalu atau Bugalu.

Makanan tradisional yang mulai terkenal ini terbuat dari tepung sagu dan campuran sayuran. Di daerah Sulawesi Tenggara juga di kenal dengan sinonggi.

Cara pengolahannya hampir sama. Yaitu sagu di cairkan dengan sedikit air. Diaduk hingga tidak ada yang menggumpal setelah itu di masukkan air mendidih ke dalamnya dan diaduk lagi hingga berwarna bening.

Ada pula yang memanaskan air di wajan atau periuk setelah mendidih baru campuran tepung sagu tadi dimasukkan ke dalam air yang telah mendidih tersebut.

Kapurrung biasanya di campur dengan ikan, udang, ayam dan kacang. Sayur yang digunakan biasanya kacang panjang, rebung, jantung, pisang, kangkung, bayam atau sayur lainnya.

***

Sebelum berangkat ke rumah, genk Ibu-Ibu guru ini hanting bahan di mall kebanggaan kami di sini yaitu roku. Mereka hanya berhasil mendapatkan kacang panjang, kangkung, ikan dan ikan sardin. Mereka kurang beruntung karena udang baru saja habis. Padahal mencampur udang ke dalam kapurrung sangatlah nikmat.

"Apa boleh buat" istilah orang di sini yang hidup serba terbatas, maklum daerah perbatasan.😁

Sesampai di rumah mereka langsung beraksi. Ada yang memotong-motong kacang panjang, ada pula memotong kangkung. Saya sebagai tuan rumah lebih memilih membersihkan ikan untuk di masak. Sayur bayam dan jeruk di perik di kebun samping rumah.

Setelah itu, ada yang mengolah bahan utamanya. Kami menggunakan tepung tapioka alias kanji. Karena tidak menemukan tepung sagu. Orang di sini,  berpendapat bahwa tepung kanji lebih mereka sukai daripada tepung sagu. Alasannya karena tepung kanji tidak memiliki aroma (lain) khas seperti tepung sagu.

Tahap pertama, di lakukan dengan mengolah tepung kanji.
Tahap kedua menggoreng kacang tanah.
Tahap ketiga memasak ikan.
Tahap keempat memasak sayur.
Tahap kelima membuat sambal.

Dalam penyajiannya orang Palopo, Luwuk, dan Tolaki (orang Sulawesi Tenggara) lebih menyukai semua bahan di pisah. Olahan tepung sagu terpisah dari sayur dan ikan.

Pada penyajiannya kami lebih suka mencampur semua bahan. Setelah sayur matang, olahan tepung kanji di masukkan, lalu ikan sardin yang di tumis sebelumnya bersama kacang yang telah di haluskan di masukkan pula. Tambah garam, penyedap rasa, dan gula. Jadi deh...

Jika ada yang belum mengetahui pengolahannya berikut akan saya ulas resepnya. Bahan kapurrung di sesuaikan dengan bahan yang tersedia di tempat masing-masing pengolah.

RESEP KAPURRUNG
(Ala Ibu-Ibu Sei Menggaris)

Bahan:

1. Tepung sagu atau tapioka secukupnya
2. Sayur campuran
3. Ikan, udang, ayam, atau ikan sardin
4. Kacang tanah
5. Bahan untuk sambal (cabe rawit, terasi, dan tomat)

Cara membuat:

1. Pengolahan tepung sagu. Tepung sagu di campur dengan sedikit air hingga tidak ada yang menggumpal. Lalu di masukkan ke dalam air panas yang telah dididihkan sebelumnya. Diaduk hingga berwarna bening. Lalu di sendok sedikit demi sedikit ke dalam wadah lain yang telah diberi air dingin.

2. Masak ikan. Ikan di campur air asam jawa, garam, penyedap rasa, kunyit bubuk, lalu di beri air.

3. Goreng kacang tanah. Haluskan.

4. Memasak sayur bening. Didihkan air masukkan kacang panjang, setelah setengah matang masukkan sayur berdaun. Beri garam, gula, dan penyedap rasa.

5. Sambal. Olah sambal sesuai selera. Lebih nikmat sambal tomat mentah.

6. Tumis ikan sardin dengan bawang merah dan putih. Aduk-aduk, ikan sardin di hancur-hancurkan lalu masukkan cakang tanah yang telah di blender atau di tumbuk.

7. Masukkan olahan tepung sagu, tumis ikan sardin ke dalam sayur matang, aduk-aduk, cek rasa.

8. Sajikan kapurrung bersama sambal dan ikan masak.

Selamat menoba..