Label

Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 15 Februari 2019

RANTAU



Karya : Enawati

Di rantau kumerindu Iyabelale Indo meninabobokanku di ayunan kasih yang tak bertepi

Di rantau kumerindu coppeng yang di beri garam atau gula lalu di goncang terasa menggiur liur bibir mengungu

Di rantau ku merindu angin barubu menanam semangka di sawah Ambo yang sepetak

Di rantau kumerindu bette berre' di saat musim panen

Di rantau ku merindu cobe-cobe dan gammi-gammi indo penambah selera meski tak ada lauk lain

Di rantau kumerindu terapung di laut pinggir pantai Mallusetasi dan pulau Dutungan menatap langit biru

Di rantau kumerindu mandi di bawah hempasan air mengalir di bebatuan sungai Nepo di hiasi pepohonan yang masih alami

Di rantau terantai rindu kampung halaman tak terlukiskan dengan kata

Merindu bagaikan musim kemarau menanti guyuran hujan menanti aroma basah

Di rantau ku merindu tanah kelahiran Sambil bercerita pada putri anak perantau lahir di rantau besar di rantau
Rantau jadi tempat bernaung
kampung halaman selalu di hati


Sei Menggaris, 20 Nopember 2018

Kamis, 14 Februari 2019

Bapakku Pahlawan di Dadaku


Karya: Enawati

Langkahmu merantau
Merayau di hutan-hutan masih berpayau
Di jalan berliku yang tak kau tahu tanpa ragu
Demi cemara di musim kemarau
Doamu melangit melejit di surau
Sebelum kau tinggal bumi pertiwi mengigau
Kau tak kunjung pulang dari rantau
Tersedu sedan ia merayau
Memanggil-manggil namamu

Separuh usiamu mengabdi pada cemara yang kau retas

Hingga renta memupuk cemara yang subur kau tanam tanpa pias
 di rinai hujan yang menetes

Hingga akhir hayat
tak kau lihat cemaramu mekar di tengah gersang kehidupan melarat
Aku bibit yang kau semai selalu rindu belaianmu dengan lekat
Terluka mengenang memoar yang belum terangkai terlihat pekat
dalam tangkai cemara yang mengerucut
Belum sempat mempersembahkan  benih cemara baru dari benihmu yang bersemat
Dukaku tersayat setiap memandang cemara yang kini tumbuh melangit
Yang Kau tanam dengan berpeluh-peluh keringat

Di saat tangan kekar hingga keriput dengan kuku yang aus
Bahu kekar menjadi ringkih masih semangat membara dengan ikhlas
Bapak, kaulah pahlawan yang menghidupi cemara di hidupmu yang keras
Walau pahlawan cemara tersemat di lahatmu, Aku anakmu takkan pernah puas
Karena aku berhutang banyak waktu dan kisah yang belum terangkai bersamamu di dalam bingkai yang belum kita toreh di kertas kenangan dengan pena kuas

Kini...
Istigfar tak pernah henti agar dosa dan bisa melapangkan kuburmu
Doa-doa tulus tak lepas di setiap sudut hembusan nafasku
Aku teramat ikhlas melepasmu pahlawan di dadaku
walau jasadmu di makamkan di tanah rantau yang sudah tak berpayau
Engkaulah tetap pahlawan di hati anakmu yang teramat bangga padamu

Sei Menggaris, 14 November 2018

Rabu, 13 Februari 2019

KASIHI SAUDARAKU DEMI KEMANUSIAAN


(Teruntuk Ibu Aung San Suu Kye)
Karya: ENAWATI

Aung San Suu Kye
Ibu yang harus mengayomi
Menganggap anak tiri bahkan tak mengakui saudaraku
Ia bangga menerima Novel perdamaian
tapi dikecam dunia karena membisu
Melihat saudaraku ditindas
Berdalih lebih mengetahui kondisi negaranya daripada yang lain
Padahal mata dunia melihat
Bukan puluhan atau ratusan yang menjadi saksi
Tapi 700 ribu orang bahkan lebih menjadi saksi
Mereka melarikan diri, disiksa, dan dibunuh
Mereka di suruh masuk ke rumah
Lalu rumah-rumah mereka di bakar
10 ribu tewas
Dibasmi bagaikan kecoa dan tikus-tikus penyebar hama penyakit
Sebegitu tak berhargakah nyawa yang idak seiman?
Tidak seetnis atau tidak sesuku?


Anak-anak, Ibu, dan perempuan
Yang harusnya dilindungi sebaliknya dianiaya
Gadis pemalu yang menjaga kesucian dan kehormatan dinodai
Dijadikan pemuas nafsu iblis militer Tatmadaw
Junta militer terkejam di dunia
Mereka...
melakukan kekejaman perang
Melakukan kejahatan kemanusiaan
Bahkan melakukan genosida
Yang di kutuk dunia

Suu Kye...
Meski seluruh rakyat membelamu itu tidak akan cukup
Seluruh dunia mengecammu
Mahathir Muhammad dari Malaysia
Memintamu mengakui kewarganegaraan Rohingya
Malala gadis belia penerima novel setelahmu turut mengecammu
Wapres AS mencecarmu melakukan kekerasan dan persekusi yang tidak bisa dimaafkan
Canada mencabut kewarganegaraan terhormatmu
Amnesty International mencabut penghargaan Duta Besar Hati Nurani
Bagaimana mungkin kau meyandang itu

sedangkan nuranimu tidak bergerak ketika Rohingya di bunuh jiwanya
Indonesia meminta agar kekerasan segera dihentikan

Oh...Aung San Suu kye
Bukalah mata dan hatimu
Bukankah kau juga pernah menjadi tahanan rumah selam 15 tahun?
Tidakkah itu menjadi pelajaran berharga?
Kau tidak bebas melakukan dan m3lanhkah kemana pun kau mau
Tapi mengapa hal itu kau semai
Ke anak yang tidak kau akui
Kau hilangkan hak dasar mereka untuk mendapatkan pendidikan
Kau hilangkan hak azasi mereka untuk mendapatkan kewarganegaraan
Kau hilangkan hak mereka untuk melangkah dan mendapatkan pekerjaan yang layak
Mana hati nuranimu Aung San Suu Kye...?

Suu kye sayang
Lakukanlah...
Perbaikilah...
Buktikanlah...
Rangkullah anak-anakmu kembali

Saudaraku menantikan uluran kasih dari nuranimu
Berjuta mereka tersebar di Banglades kamp cox's
Di Indonesia, Malaysia, dan Thailand
Hingga dunia menjuluki mereka 'orang perahu'

Suu kye cintaku...
Panggillah mereka kembali
Berikan hak mereka
Buatlah dunia kembali memberimu rangkaian bunga semerbak
Masih ada waktu
Masih ada kesempatan
Untuk memperbaiki semuanya
Penuhilah 88 permintaan Kofi Annan sebelum wafatnya
Melalui Dewan PBB, bukankah kau juga yang memintanya menjadi ketua tim?
Buatlah ia tersenyum di alam sana

Jika kau tak mau menolong karena etnis
Sebab agama dan perbedaan
Rangkullah mereka karena rasa kemanusiaanmu!

Sei Menggaris, 7 Desember 2018

Selasa, 12 Februari 2019

Ijazah Sarjana Setara My Card?


Karya: Enawati

Gemerlap negara tetangga menyilaukan mata
Terpukau pukat hati
Pada kisah Hang Tuah dan Hang Jebat
Padahal kita punya cut Nyak Dien dari Aceh
Sultan Hasanuddin ayam jantannya Sulawesi
Yang begitu gigih mengusir penjajah dari negeri
Mengapa tidak bangga pada pejuang tanah sendiri?

Mereka para mamak berkata
Kawin saja padanya yang punya IC Malaysia
Sarjanamu tidak berguna tidak menghasilkan duit
Sekolah tinggi namun tinggal di rumah saja
Ia punya IC bekerja menghasilkan ringgit
Rupiah kalah dengan ringgit sebagai mas kawin

Tak apa, ikuti saja kehendak mamakmu yang buta
Karena berpuluh tahun di rantauan
Negeri Dauli Tuanku
Membuat ia krisis identitas

Sekolah menara gadingmu pergunakan untuk mencetak
Generasi penerus yang berbeda dengan otak opanya
Didiklah ia menjadi pribadi sholeh yang tidak lagi membandingkan materi keduniaan
Dua kadarullah tidak bisa di sanding bandingkan
Mengapa terlalu pongah
Manusia hidup hanya sementara
Lupakah ia terhadap itu?

Ingatkan,
Karena hidupnya sekarang hanya bekerja dan menimbun harta
Persis Qaarun yang tertimbun bersama harta karunnya
Pahamkan ia,
Transkrip nilai dan my card dua sisi berbeda
Tidak pernah bisa disetarakan meski boleh dikawinkan

Sei Menggaris, 12 Februari 2019





Kamis, 07 Februari 2019

SERPIHAN KEKACA DI TAPAL BATAS

Karya : ENAWATI

Menyisir rambut setengah basah sambil berkaca
A
Mendengar sesayup suara bass anak yang mulai akil balig
Suara memelas hampir tak terdengar
Meminta restu mencari uang ringgit di tengah hidup yang himpit
Suara ia naikkan setengah oktaf
Tak punya sekolah bisa kerja
Dengan sekolah pun tak dapat duit

Mata sayu menoleh ke kaca
Kita bebas di negeri ini anakku
Tak ada pengikat duli tuanku
Tak ada rasa takut saat cekking
Tak ada kelimpuyungan mencari tempat bersembunyi saat polis menggerebek
Tak ada siluet ketakutan di wajah saat membeli belah di tanjung
Tak ada rasa was-was saat menikmati teh tarik dan sedapnya martabak di restoran

Jemari kaku dengan kuku-kuku rusak karena sabun cuci
Menyapu bedak di wajah yang berkerut
Anakku tidakkah kau melihat
Anak terpisah dari orang tuanya
Kakak tak berjumpa adiknya
Kakek tak mengenali cucunya
Dan sanak tak terangkai dengan saudaranya
Sekali kau melangkah di tapal batas sulit kau kembali 
Inginkah kau seperti mereka yang terpisah dengan orang yang terkasih?

Anak akil balig kurang berakal ikut berkaca
Apa yang harus ku banggakan di sini?
Hasil taniku dibawa jauh dari tapal batas
Dijual dengan harga murah
Dan kemudian kerabatku membeli dengan harga mahal
Di sini, pangan negeri tak komplit
Konon penghasil beras terbanyak
Tapi beras yang dikonsumsi beras nasional Malaysia
Apalagi yang harus ku senangi?
Saat bertamu ke sana
Kudisambut di kastam diraja Malaysia
Dengan bengis tanpa senyum manis
Padahal mereka saudaraku sesuku yang hanya berubah menjadi orang tempatan Malaysia

Dengan tangan gemulai merangkul anak akil balig sambil menatap kaca
Kita masih punya satu anakku…
Rasa cinta pada negeri kita
INDONESIA

Sei Menggaris, 25 Nopember 2016