Label

Kamis, 14 Februari 2019

Tongkat Kayu Gading dan The Beauty and The Beast


Oleh Enawati

Bau kotoran yang menyengat di dapur membuat saya sangat tidak nyaman. Selalu mencari sumber bau yang tidak menyenangkan itu. Hingga saya memergok kayu yang di rendam oleh Abi. 
Menciumnya beberapa kali, tidak salah lagi inilah yang mengeluarkan aroma kotoran itu. Kayu yang dibawa oleh Abi dari sebakis beberapa minggu lalu. Sekitar sebulan lamanya harus sabar mencium aroma itu. Beruntung otak saya waras waktu itu, jika tidak sudah lama membuangnya.
Di otak sudah bercokol pertanyaan  seputar kayu itu akhirnya membuncah. 

"Oh, kak itu kayu apa juga? Baunya minta ampun," tanya saya akhirnya.

"Itu kayu langka dik. Tidak mudah mendapatkannya. Namanya kayu ulas."

Kayu ulas di benak saya kayu mengkilat. Bapak dulu punya seperti itu seingat saya. Tapi tidak jelas apa fungsinya dan manfaatnya. 

Setelah kayu itu di rendam kulitnya di kupas. Dicuci hingga bersih di keringkan dengan kain dan di jemur berhari-hari. Mulai tampak keindahannya. Hingga keringnya maksimal baru di cat vernis. masyaAllah terlihatlah keindahan sempurnanya.

Ternyata selain memiliki manfaat sebagai tongkat kayu ini juga memiliki manfaat sebagai pengusir hewan buas dan berbisa seperti ular. Entah ini fakta atau mitos. Yang jelasnya Abinya anak-anak menempatkan kayu yang di kenal dengan nama kayu Gading di setiap sudut ruang rumah. Katanya memudahkan jika terjadi sesuatu. Bisa dijadikan pertahanan diri.
Manfaat lain yang diperoleh adalah memperindah ruangan. Jika di pandang dari sisi emak-emak seperti saya.

The beauty and the beast

Tongkat kayu gading (ulas) memiliki kenangan bagi saya. Kala baru melahirkan anak ke 3. Sastrawan daerah Bulukumba melakukan perjalanan literasi ke daerah kalimantan utara, hinga ke Sei Menggaris tempat kami.

Tahun 2016 jaringan internet juga baru berfungsi di tempat kami. Saya membaca postingan di FB. kak Andhika Mappasomba melakukan jelajah literasi. Asyik sekali tampaknya. Ia membawa serta putra pertamanya. Melihat dunia yang belum pernah di tapaki.

Saya menceritakan hal tersebut pada suami. Dan meminta izin memintanya mampir ke tempat kami. Saya jelaskan bahwa beliau adalah senior saya di kampus.

Sebetulnya saya tidak begitu mengenal pak Andhika Mappasomba. Saya hanya mengingat-ingat namanya begitu familiar dan tidak asing. 

Belakangan baru mengetahui bahwa beliau adalah suami seletting saya angkatan 2004, hanya berbeda kelas, saya kelas B dan teman saya itu kelas C.

Saat sibuknya saya menyusun skripsi di kampus, beliau menelurkan bukunya "Ingin Kukencingi Mulut Monalisa yang Sedang Tersenyum". Berduet dengan senior yang kadang diajak berdiskusi mengenai cerpen, yaitu Kak Anis Kurniawan.

Sebenarnya saya tertarik dengan kecantikan-kecantikan goresan penanya. Kecintaannya pada literasi. Keindahan kata-kata pada puisinya. Begitu membuat saya kagum. Saya menganggapnya karyanya "the beauty".

Saat rombongan kak Andika ke rumah, tepatnya ke rumah tetangga kami. Saya mengatakan ke rumah karena  seatap dengan tetangga. Rumah kami hanya di pisahkan oleh dinding kayu.

Saat itu saya bingung mau memberikan apa. Ingin memberikan cendera mata atau sekedar buah tangan. Tapi tidak memiliki apa pun selain keinginan hendak memberi. 

Ia bercerita dengan semangat bahwa ia diberi tongkat kayu ulas. Suami saya menanggapi bahwa ia juga memiliki kayu seperti itu. Sebelum meninggalkan tempat kami, suami saya menghadiahinya tongkat kayu gading. Jadilah tongkatnya sepasang.

Setelah ia berlalu, saya kerap mengintip karya-karyanya. Kehidupan yang sederhana tidak menyurutkan langkahnya untuk mencari inspirasi bahan tulisan. Tulisan kritisnya kadang membuat saya tersinggung. Tidak jarang memantik semangat saya untuk menulis.

Tulisan saya layaknya disebut "the beast". Semoga suatu hari the beast bisa bersanding dengan the beauty.


4 komentar:

  1. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya pak... Sy juga sdh jarang kirim tulisan, si dedek sakit n konsen sini dulu... Rasanya kangen kehangatan man teman d sana

      Hapus