Label

Selasa, 19 Februari 2019

Catatan Buah Hati 5 Lanjutan 80 Juta VS X8

By: Bunda Ena



Tidak henti-hentinya mendoakan si Kakak. Semoga ia baik-baik saja di sekolah. Benar, doa seorang Ibu tiada penghalang bagi anaknya. Ternyata memang ia baik-baik saja di sekolah.

Dendangan beburung menghibur hati yang sedang resah. Teramat penasaran. Rasanya ingin mendengar cerita si Kakak sepulang sekolah. Kali ini sayalah yang akan bertanya duluan atau meminta dia menceritakan pengalamannya di kelas.

Ia memang baik-baik saja di SMP bersama Abinya. Ia melewati sekolahnya karena terlambat. Ia takut masuk ke kelasnya. Kemungkinan besar juga karena belum menghapal perkalian sembilan. Subehanallah...putri sulungku ini. Apakah terlalu membebaninya untuk selalu sempurna melakukan sesuatu?

Saya mengingat-ingat, apakah mendidiknya untuk selalu melakukan yang serba perfect. Rasanya tidak. Mungkin saya hanya butuh belajar lagi dalam membimbingnya. Selama ini,  berusaha agar tidak membebaninya. Selalu hanya memintanya berusaha, bekerja keras, belajar dengan giat.

Sore hari temannya datang. Ia bercerita bahwa ia di cari oleh gurunya tadi di sekolah. Mendengar itu saya lebih penasaran.

"Tadi di sekolah kegiatannya apa nak?"
"Kerja bakti, Bun."
"Menghapal perkalian?"
"Belum Bunda, kami hanya di suruh tulis perkalian enam."

Si Kakak hanya diam. Sepulang sekolah ia kelihatan lesu, tidak semangat. Saya meraihnya ke dalam dekapan. Berusaha memberikan semangat dan menasihatinya. Ia tetap diam, entah apa yang ada di pikirannya.
"Kakak Kiya mau turun main dengan teman-temannya?

Ia menggeleng. Lalu saya menawarinya mengaji dan mengajaknya menemani saya membuat bakwan. Ia mengiyakan. Terlihat ia mulai semangat lagi.

***

Mentari menyinari bumi dengan ceria pagi itu. Si Kakak sudah kembali ceria dan semangat. Ia bangun lebih awal. Tidak mau terlambat lagi. Pagi-pagi ia sudah siap dan melapor akan menunggu di teras. Ingin ikut dengan anak SMP yang lewat.

Karena tampak antusias saya membawakan sarapan di teras. Ia makan dengan lahap. Sepuluh menit kemudian tidak ada yang lewat. Ia menengok Abinya. "Abi, Ayolah berangkat!" Rupanya ia takut telat ke sekolah seperti kemarin.

***

Sepulang sekolah ia semangat lagi.  Ia bercerita mengenai pengalamannya di sekolah. Mendapat nilai seratus membuatnya sangat gembira. Ia juga bercerita kalau ditanya oleh guru pengganti wali kelasnya. Ditanya perihal ketidakhadirannya. Ia menjelas bahwa Abi terlambat ke sekolah jadinya ia juga terlambat.

Syukurlah ia berterus terang. Memang setiap hari Jumat Abi kadang agak santai ke sekolah karena ia tidak mengajar pada hari itu. Alhamdulillah sejak hari itu, si kakak selalu lebih duluan siap daripada Abinya.

Seminggu berselang si Kakak pulang dengan wajah yang berseri. Kicauan beburung di pagi hari  saja ia kalahkan. Ia berceloteh ke sana ke mari tanpa henti. Kadang lupa memberi jeda pada kalimatnya. Sambung menyambung.

Ia dapat seratus lagi dan berhasil menghapal perkalian di depan kelas. Ia mengalahkan temannya yang mendapat rangking satu.

"Masa' kan Bunda si D temanku yang dapat rangking satu dapat nol. Ia juga tidak hapal kali-kali tiga."

"Masa'?"

"Iya Bunda, bilang Ibu kenapa bisa rangking satunya dapat nol tidak hapal kali-kali tiga lagi"

"Kebetulan nda tau kali dia nak"

"Bu A tanya wali kelasku Bunda."
"Jadi?"

"Ditanyalah si D sama wali kelasku, bilang, bikin malu saja."

"Astagfirullah...! Kakak...ingat rangking bukan segalanya, yang penting kakak rajin belajar, tidak dapat rangking juga tidak apa-apa. Bunda sama Abi lebih suka kalau Kakak rajin belajar tidak dapat rangking daripada dapat tapi malas belajar. Tapi kalau rajin belajar dan rangking itu, alhamdulillah lebih bagus lagi."

"Dan ingat jangan sombong, kalau ada temannya bertanya dan Kakak tau, kasi belajar temannya. Tapi ingat jangan kasi menyontek. Begitu juga, kalau kiya tidak tau bertanya sama temannya yang tau atau langsung ke gurunya."

Rasanya sedih mendengar cerita si Kakak hari ini. Betapa masih banyak orang tua bahkan guru membebani anak untuk mendapatkan rangking. Cukuplah anak  diarahkan untuk belajar dengan giat. Tidak perlu lagi diberi beban harus dapat rangking.

Sebenarnya saya sudah banyak mendengar cerita jika si Kakak harusnya dapat rangking satu. Yang bercerita ini juga adalah guru di tempat si Kakak mengajar. Kata mereka Ibu anak yang rangking satu itu teman dekat wali kelas si Kakak.

Lebih parah lagi mereka cerita saat penerimaan raport. Saat nama kakak Kiya di sebut rangking dua semua bertepuk tangan, bersorak. Tapi, ketika rangking satu yang disebut hanya beberapa orang yang bertepuk tangan. Ah, sudahlah.

Saya sungguh tidak pernah mempermasalahkan hal tersebut. Yang menjadi perhatian saya adalah saya merasa kasian terhadap anak-anak ini. Sekali lagi, mengapa mereka harus dibebani hal seperti itu.

Alangkah indahnya jika mereka belajar bersama tanpa ada persaingan, tanpa beban. Mereka berkolaborasi meningkatkan kemampuan masing-masing.

Sei Menggaris, 19 Januari 2019

Tidak ada komentar:

Posting Komentar