Label

Senin, 11 Februari 2019

Berkaca dari Identitas Rempeyek

By Bunda Ena

Pagi ini keluarga kami sarapan pisang goreng kriuk. Ditemani kopi herbal untuk Abi. Susu kambing pula pilihan saya.

Kami biasanya menikmati pisang goreng dengan sambal tomat. Perpaduan manis, asin, dan pedas menambah selera. Anak-anak lebih suka menikmati kriuk-kriuknya. Melihat kondisi tersebut setiap mengolah pisang salutan tepungnya sering saya perbanyak.

Saya tidak heran dengan hobi anak-anak. Tetingat sewaktu kecil, saya pun demikian. Kadang meminta mama untuk memisahkan kriuk-kriuknya saja. Sensasinya renyah di mulut enak dilidah membuat ketagihan.

Mama kemudian rajin membuatkan kami kerupuk goyang-goyang. Saya menamainya demikian karena proses pembuatannya. Saat ingin melepas krupuk dari cetakannya dilakukan dengan menggoyang-goyangkan cetakan tersebut.

Berbeda dengan saya yang hobi membuatkan camilan rempeyek. Lebih memilih peyek karena selain anak suka suami juga sangat hobi. Menikmati krupuk tradisional Jawa tersebut enak juga disantap menemani makanan berat. Jadi di semua kondisi enak jika di temani kriuk-kruik yang satu itu.

Pernah juga membuat peyek untuk di jual. Hasilnya lumayan laris. Pembeli juga bertanya-tanya siapa pembuatnya. Penjual tempat menitipkan kripik tersebut menyebutkan nama saya. Orang-orang bertanya apakah saya orang Jawa. Saya lalu menjelaskan saya orang Bugis. Guru saya yang mengajari membuat peyek itulah yang orang Jawa.

Berkaca dari cerita tersebut. Ternyata makanan saja identik dengan identitas. Apalagi kita sebagai manusia. Laku, ucapan, tulisan, apapun yang kita kerjakan akan identik dengan pribadi pelakunya. So guys... Mari kita lakukan yang baik-baik dan bermanfaat. Entah itu perbuatan maupun menulis.

Apalagi di dunia ini manusia hanya sementara. Perbanyaklah bekal untuk kehidupan akhirat kelak. Jangan sampai kita terpedaya dengan amalan yang sia-sia.

Sei Menggaris, 19 Desember 2018



Tidak ada komentar:

Posting Komentar