Oleh: Bunda Ena
Anak saya kerap kali bermain sambil bercanda. Tertawa terbahak-bahak dan berkejar-kejaran. Bercanda dan tertawa berlebih-lebihan, saya menyebutnya bermain mabuk-mabukan. Tak jarang setelahnya menimbulkan pertengkaran dan berlanjut hingga ada yang menangis.
Malam kemarin mereka bermain seperti itu. Saya menegur dua kali, berhenti sejenak keluar kamar lalu mulai lagi. Si adik juga ikut berpartisipasi. Tak ayal sambil tertawa berlari sekencang-kencangnya menuju kasur tempat saya berbaring.
Kepalanya dua kali menghantam kepala saya. Beruntung badan dalam posisi miring hingga perut aman tidak kena hantaman juga. Baru hendak bangun tetiba si kakak dan abang datang berlari naik ke kasur sambil berkejaran. Kakak langsung naik tak sengaja menindis perut saya. Si Abang datang terjatuh di samping saya.
Saya naik pitam jurus seribu bayangan emak-emak muncul tetiba. Menjepit paha si kakak dengan ibu jari dan jari telunjuk. Si Abang pula kena kibasan telapak tangan saya di pantatnya. Mulut mulai monyong "kan...dari tadi Bunda bilang sudah main mabok-maboknya...! Tuh...kan... Kena sudah perutnya Bunda" semua diam membisu. "Keluar semua...! Pigi belajar atau mengaji".
Ketiganya berhamburan keluar dari kamar saya. Mereka berlari ke kamar Opanya. Suasana menjadi hening. Berkali-kali saya mengucapkan istigfar. Saya mencubit si Kakak dan memukul si Abang, beruntung si Adik tidak saya apa-apain. Merasa bersalah merajai hati.
Ya...beginilah kalau emak-emak sudah bertanduk. Tanpa di sadari menyentuh tubuh anak, tapi saya sadar meski kesal saya melakukannya tidak terlalu keras tadi. Tapi tetap saja merasa bersalah kepada anak-anak.
Saya memanggil si Kakak, tidak ada respon. Dia merajuk. Memanggil si Abang, ia langsung berlari ke dekat saya. "Apa yang di kerja kakak Kiya?" sambil mengelus-elus pantatnya. "Dia menulis Bunda". Si Abang lalu berlari kembali ke kamar Opanya.
Tidak lama berselang ia datang membawa dua lembar kertas. "Dari kakak Kiya", ucapnya sambil menyerahkan kertas kepada saya. "Tolong panggilkan Kakak ke sini, Bang!"
Beberapa menit kemudian abang Syah memperlihatkan kepalanya di pintu. Sambil menarik kakaknya. Si Kakak duduk depan pintu tak mau masuk. Kakaknya Malu kata Abang syah berusaha menarik ke dalam kamar saya.
'Drama apa lagi ini anak-anak', batinku. "Kakak...!" Kupanggil ia mendekat. Ia melangkah memiringkan kepala sambil menutup sebagian wajahnya. Ada-ada saja tingkah anak-anak ini.
Aku bertanya padanya apakah pahanya sakit. Ia menggeleng. "Bunda maafkan Kiya. Bunda juga minta maaf ya Nak." Ucapku sambil memeluknya. Kuingatkan agar bermain yang baik-baik saja. Segala yang berlebihan itu tidak baik. Termasuk tertawa terbahak-bahak. Dan bermain yang bercandanya berlebihan juga.
***
Malam ini terasa legang. Sisa saya bertiga di rumah. Meski celoteh Bocah 2 tahun adik Syah tanpa henti tetap saja terasa sunyi. Empat personil keluar berlibur. Hanya beberapa hari. Tapi ketiadaanya terasa sangat berbeda.
Saya membayangkan perasaan saudara yang terkena musibah. Mereka yang berada di palu, lampung dan Banten. Kehilangan keluarga atau harta. Gempa dan tsunami yang menjadikan trauma. Kepedihan yang lama mereka rasakan. Tanpa iman akan semakin sulit sembuh.
Semuanya memang hanya titipan dari Allah. Manusia hidup juga hanya sekejap. Ibaratnya hanya pengelana yang singgah berteduh di bawah pohon sejenak. Lalu harus melanjutkan perjalanannya kembali.
Semoga setiap musibah yang menimpa di dapat dijadikan pelajaran. Sudah terlalu lama merasakan nikmat dari Allah. Bisa jadi manusia semakin jauh dari mengingat Allah. Dan kemaksiatan di bumi semakin merajalela. Di depan mata tanpa bisa mencegahnya.
Sesungguhnya kesalahan dengan membuat kerusakan di bumi akan membawa bencana. Mabuk dunia yang berlebihan juga merupakan kesalahan hingga lupa mengingat Allah. Hal ini mengingatkan saya akan firman Allah.
"Nikmat apa pun yang kamu terima, maka itu dari Allah, dan bencana apa saja yang menimpamu, maka itu karena (kesalahan) dirimu sendiri." (QS. An-Nisaa: 79)
Allahu taala a'lam. Semoga bermanfaat.
Sei Menggaris, 24 Desember 2018


Tidak ada komentar:
Posting Komentar