By: Bunda Ena
Seminggu tidak posting tulisan. Rindu rasanya. Menulis tetap, meski selingkuh. Kadang menulis ini, belum tuntas, menulis lagi yang lain.
Semenjak resign mengajar selain jadi emak tulen, ikut kursus menulis online. Lumayanlah, tiga bulan sudah bisa tularkan virus menulis. Terutama orang di rumah. Pak suami dan putri sulung.
Mereka terlihat antusias. Entah sudah berapa artikel dan puisi yang pak suami miliki selesai diedit. Si Kakak pula sudah meningkat kemampuan menulisnya. Ia sudah menggunakan "Tolong dieditkan tulisanku Bunda!" tidak lagi menggunakan kata "periksakan".
Ada rasa bangga terbersit di dada meski hanya bergelar "editor keluarga". Saya menikmatinya. Berkumpul bersama anak, tidak meninggalkan rumah.
Meski kangen mengajar di kelas dan suasana sekolah terkadang menyeruak. Wajarlah, sepuluh tahun lebih menggeluti dunia mengajar. Tidak mudah melepas passion tersebut. Suatu ketika, InsyaAllah akan kembali mengabdi. Di saat tugas negara yang pertama dan utama telah tidak begitu berat.
(Emm.. Kok lari ke sana sih... Kita kembali ke laptop aja deh...😂😂)
Tulisan si Kakak sudah ada tujuh. Bermula ketika libur sekolah. Alhamdulillah di usianya yang baru akan memasuki delapan tahun pada tanggal 15 bulan Januari ini. Ia sudah mahir menulis apa yang dirasakan dan telah lakukan.
Virus menulis bukan waktu dekat ini baru di ajarkan pada si Kakak. Ketika baru mengenal aksara ia selalu diajak menulis pengalamannya. Ia sangat mahir menceritakan pengalamannya.
Melihat kondisi tersebut, si Kakak sekali-kali diajak menulis. Ia bercerita dan saya menulis ceritanya tersebut. Lalu menyuruhnya membaca kembali.
Mendengar ceritanya yang tiada akhir dan bertambah terus menerus membuat saya terkadang sedih. Maklum Ketika itu masih sibuk mengajar dan tetek bengek bisnis rumahan. Membuat saya kadang memintanya untuk menunda cerita.
InsyaAllah sekarang siap menjadi bank cerita untuk semua dan menjadi editor full time untuk keluraga.
Sei Menggaris, 6 Januari 2019


Tidak ada komentar:
Posting Komentar