Label

Senin, 25 Februari 2019

Catatan Buah Hati 6 VIRUS MENULIS

By: Bunda Ena



Seminggu tidak posting tulisan. Rindu rasanya. Menulis tetap, meski selingkuh. Kadang menulis ini, belum tuntas, menulis lagi yang lain.

Semenjak resign mengajar selain jadi emak tulen, ikut kursus menulis online. Lumayanlah, tiga bulan sudah bisa tularkan virus menulis. Terutama orang di rumah. Pak suami dan putri sulung.

Mereka terlihat antusias. Entah sudah berapa artikel dan puisi yang pak suami miliki selesai diedit. Si Kakak pula sudah meningkat kemampuan menulisnya. Ia sudah menggunakan "Tolong dieditkan tulisanku Bunda!" tidak lagi menggunakan kata "periksakan".

Ada rasa bangga terbersit di dada meski hanya bergelar "editor keluarga".  Saya menikmatinya. Berkumpul bersama anak, tidak meninggalkan rumah.

Meski kangen mengajar di kelas dan suasana sekolah terkadang menyeruak. Wajarlah, sepuluh tahun lebih menggeluti dunia mengajar. Tidak mudah melepas passion tersebut. Suatu ketika, InsyaAllah akan kembali mengabdi. Di saat tugas negara yang pertama dan utama telah tidak begitu berat.

(Emm.. Kok lari ke sana sih... Kita kembali ke laptop aja deh...πŸ˜‚πŸ˜‚)

Tulisan si Kakak sudah ada tujuh. Bermula ketika libur sekolah. Alhamdulillah di usianya yang baru akan memasuki delapan tahun pada tanggal 15 bulan Januari ini. Ia sudah mahir menulis apa yang dirasakan dan telah lakukan.

Virus menulis bukan waktu dekat ini baru di ajarkan pada si Kakak. Ketika baru mengenal aksara ia selalu diajak menulis pengalamannya. Ia sangat mahir menceritakan pengalamannya.

Melihat kondisi tersebut, si Kakak sekali-kali diajak menulis. Ia bercerita dan saya menulis ceritanya tersebut. Lalu menyuruhnya membaca kembali.

Mendengar ceritanya yang tiada akhir dan bertambah terus menerus membuat saya terkadang sedih. Maklum Ketika itu masih sibuk mengajar dan tetek bengek bisnis rumahan. Membuat saya kadang memintanya untuk menunda cerita.

InsyaAllah sekarang siap menjadi bank cerita untuk semua dan menjadi editor full time untuk keluraga.

Sei Menggaris, 6 Januari 2019

Selasa, 19 Februari 2019

Catatan Buah Hati 5 Lanjutan 80 Juta VS X8

By: Bunda Ena



Tidak henti-hentinya mendoakan si Kakak. Semoga ia baik-baik saja di sekolah. Benar, doa seorang Ibu tiada penghalang bagi anaknya. Ternyata memang ia baik-baik saja di sekolah.

Dendangan beburung menghibur hati yang sedang resah. Teramat penasaran. Rasanya ingin mendengar cerita si Kakak sepulang sekolah. Kali ini sayalah yang akan bertanya duluan atau meminta dia menceritakan pengalamannya di kelas.

Ia memang baik-baik saja di SMP bersama Abinya. Ia melewati sekolahnya karena terlambat. Ia takut masuk ke kelasnya. Kemungkinan besar juga karena belum menghapal perkalian sembilan. Subehanallah...putri sulungku ini. Apakah terlalu membebaninya untuk selalu sempurna melakukan sesuatu?

Saya mengingat-ingat, apakah mendidiknya untuk selalu melakukan yang serba perfect. Rasanya tidak. Mungkin saya hanya butuh belajar lagi dalam membimbingnya. Selama ini,  berusaha agar tidak membebaninya. Selalu hanya memintanya berusaha, bekerja keras, belajar dengan giat.

Sore hari temannya datang. Ia bercerita bahwa ia di cari oleh gurunya tadi di sekolah. Mendengar itu saya lebih penasaran.

"Tadi di sekolah kegiatannya apa nak?"
"Kerja bakti, Bun."
"Menghapal perkalian?"
"Belum Bunda, kami hanya di suruh tulis perkalian enam."

Si Kakak hanya diam. Sepulang sekolah ia kelihatan lesu, tidak semangat. Saya meraihnya ke dalam dekapan. Berusaha memberikan semangat dan menasihatinya. Ia tetap diam, entah apa yang ada di pikirannya.
"Kakak Kiya mau turun main dengan teman-temannya?

Ia menggeleng. Lalu saya menawarinya mengaji dan mengajaknya menemani saya membuat bakwan. Ia mengiyakan. Terlihat ia mulai semangat lagi.

***

Mentari menyinari bumi dengan ceria pagi itu. Si Kakak sudah kembali ceria dan semangat. Ia bangun lebih awal. Tidak mau terlambat lagi. Pagi-pagi ia sudah siap dan melapor akan menunggu di teras. Ingin ikut dengan anak SMP yang lewat.

Karena tampak antusias saya membawakan sarapan di teras. Ia makan dengan lahap. Sepuluh menit kemudian tidak ada yang lewat. Ia menengok Abinya. "Abi, Ayolah berangkat!" Rupanya ia takut telat ke sekolah seperti kemarin.

***

Sepulang sekolah ia semangat lagi.  Ia bercerita mengenai pengalamannya di sekolah. Mendapat nilai seratus membuatnya sangat gembira. Ia juga bercerita kalau ditanya oleh guru pengganti wali kelasnya. Ditanya perihal ketidakhadirannya. Ia menjelas bahwa Abi terlambat ke sekolah jadinya ia juga terlambat.

Syukurlah ia berterus terang. Memang setiap hari Jumat Abi kadang agak santai ke sekolah karena ia tidak mengajar pada hari itu. Alhamdulillah sejak hari itu, si kakak selalu lebih duluan siap daripada Abinya.

Seminggu berselang si Kakak pulang dengan wajah yang berseri. Kicauan beburung di pagi hari  saja ia kalahkan. Ia berceloteh ke sana ke mari tanpa henti. Kadang lupa memberi jeda pada kalimatnya. Sambung menyambung.

Ia dapat seratus lagi dan berhasil menghapal perkalian di depan kelas. Ia mengalahkan temannya yang mendapat rangking satu.

"Masa' kan Bunda si D temanku yang dapat rangking satu dapat nol. Ia juga tidak hapal kali-kali tiga."

"Masa'?"

"Iya Bunda, bilang Ibu kenapa bisa rangking satunya dapat nol tidak hapal kali-kali tiga lagi"

"Kebetulan nda tau kali dia nak"

"Bu A tanya wali kelasku Bunda."
"Jadi?"

"Ditanyalah si D sama wali kelasku, bilang, bikin malu saja."

"Astagfirullah...! Kakak...ingat rangking bukan segalanya, yang penting kakak rajin belajar, tidak dapat rangking juga tidak apa-apa. Bunda sama Abi lebih suka kalau Kakak rajin belajar tidak dapat rangking daripada dapat tapi malas belajar. Tapi kalau rajin belajar dan rangking itu, alhamdulillah lebih bagus lagi."

"Dan ingat jangan sombong, kalau ada temannya bertanya dan Kakak tau, kasi belajar temannya. Tapi ingat jangan kasi menyontek. Begitu juga, kalau kiya tidak tau bertanya sama temannya yang tau atau langsung ke gurunya."

Rasanya sedih mendengar cerita si Kakak hari ini. Betapa masih banyak orang tua bahkan guru membebani anak untuk mendapatkan rangking. Cukuplah anak  diarahkan untuk belajar dengan giat. Tidak perlu lagi diberi beban harus dapat rangking.

Sebenarnya saya sudah banyak mendengar cerita jika si Kakak harusnya dapat rangking satu. Yang bercerita ini juga adalah guru di tempat si Kakak mengajar. Kata mereka Ibu anak yang rangking satu itu teman dekat wali kelas si Kakak.

Lebih parah lagi mereka cerita saat penerimaan raport. Saat nama kakak Kiya di sebut rangking dua semua bertepuk tangan, bersorak. Tapi, ketika rangking satu yang disebut hanya beberapa orang yang bertepuk tangan. Ah, sudahlah.

Saya sungguh tidak pernah mempermasalahkan hal tersebut. Yang menjadi perhatian saya adalah saya merasa kasian terhadap anak-anak ini. Sekali lagi, mengapa mereka harus dibebani hal seperti itu.

Alangkah indahnya jika mereka belajar bersama tanpa ada persaingan, tanpa beban. Mereka berkolaborasi meningkatkan kemampuan masing-masing.

Sei Menggaris, 19 Januari 2019

Senin, 18 Februari 2019

Catatan Buah Hati 4 80 JUTA VS X8

By Bunda Ena

Lagi viral 80 juta di semua media. Sebagai emak-emak yang hanya sibuk urus pekerjaan rumah, anak, dan pak suami kepo juga sedikit. Sempat juga, bertanya-tanya apa sih 80 juta itu? Apalagi TV sudah stop di rumah.

Harusnya lebih kepo dengan bimbingan putri sulung saya. Ada tugas dari sekolah, Ibu guru menyuruhnya menghapal perkalian satu sampai sembilan.

Jumat lalu, seperti biasa sepulang sekolah si Kakak menceritakan pengalamannya di sekolah. Ia mendapat nilai 100 dan berhasil menyelesai tugasnya tercepat kedua. Ia dikalahkan oleh temannya yang bernama Erwin katanya. Sudah dua kali ia dikalahkan.

Mendengarnya berceritanya demikian, saya lalu mengingatkan. Nilai,  dan rangking bukanlah segalanya. Yang terpenting adalah kita mengerjakan sesuatu dengan jujur, kerja keras, dan tetap bisa bekerja sama bersama teman dalam hal yang positif.

Setelah istirahat saya mengingatkan si Kakak mengenai tugasnya. Dengan enteng di jawab "Sebentar Bunda sekarang, kan jadwal main." Ia belari keluar bergabung dengan teman-temannya yang sudah menunggu.

Akhirnya ia menghapal perkalian setelah sholat magrib dan mengaji. Ia memang sudah pernah menghapal perkalian satu sampai empat sebelumnya, hanya sisa memperlancar.

Ia menghapal sampai perkalian tujuh malam itu. Ia meminta saya membangunkannya jam 4 subuh. Saya bernegosiasi, "Ayolah nak hapal lagi, lagian masih awal, masih jam sembilan."

Ia tak bergeming. Saya juga kasian melihatnya sudah keletihan. Akhirnya membiarkan dia tidur.

Pukul lima subuh baru membangunkan si Kakak. Pagi itu ia ke sekolah dengan perasaan galau. Ia baru menghapal perkalian sampai X 8. Itu pun belum terlalu lancar. Saya memberitahunya bahwa gurunya tidak mungkin serta merta menyuruhnya langsung menghapal semuanya.

Dari kemarin ingin mengatakan itu padanya, tapi takut menyurutkan semangatnya akhirnya saya tidak memberitahunya. Saya hanya berdoa semoga anak saya baik-baik saja di sekolah.

karena anak saya sudah ke sekolah kita kembali ke 80 juta tadi yuk...

Melirik tulisan seorang remaja yang di viralkan karena pendapatnya mengenai 80 juta. Ya...pendapat dan tulisannya sangat  dewasa. Menurut saya sih tidak sesuai dengan usianya. Isinya juga...Astagfirullah membandingkan nilai seorang istri sah dan tugas emak-emak dengan rupiah.

Em...itu emak-emak seperti saya yang memiliki segudang pekerjaan dan tetek bengek tidak ada habisnya. Em...semua itu dikerjakan dengan sepenuh hati dengan niat mendapat pahala. Tidak bisa sebandinglah dengan uang yang hanya 80 juta. Digunakan untuk prostitusi lagi.

Hanya bisa berdoa semoga anak-anak bangsa lainnya tidak berpikiran liberalis sepertinya. Terutama anak saya. Karena 80 juta tersebut saya akan memberikan pemahaman ke anak saya bahwa tidak semua Perkara itu dapat dikalikan. Apalagi membanding-bandingkan suatu amalan dengan nilai rupiah.

Saya jadi teringat anak saya lagi dengan X 8nya... Penasaran juga kan say...nanti dilajutkan j8ka ada kesempatan....

Mat beraktifitas buat seluruh Emak-Emak dan Bapak-Bapak...
Semoga kita tetap semangat mengabdi pada anak bangsa meski pun itu anak kita sendiri... Dan apa yang kita kerjakan terhitung sebagai ibadah...

Minggu, 17 Februari 2019

Buah Hati 3 Mabuk-mabukan Membawa Bencana


Oleh: Bunda Ena

Anak saya kerap kali bermain sambil bercanda. Tertawa terbahak-bahak dan berkejar-kejaran. Bercanda dan tertawa berlebih-lebihan, saya menyebutnya bermain mabuk-mabukan. Tak jarang setelahnya menimbulkan pertengkaran dan  berlanjut hingga ada yang menangis.

Malam kemarin mereka bermain seperti itu. Saya menegur dua kali, berhenti sejenak keluar kamar lalu mulai lagi. Si adik juga ikut berpartisipasi. Tak ayal sambil tertawa berlari sekencang-kencangnya menuju kasur tempat saya berbaring.

Kepalanya dua kali menghantam kepala saya. Beruntung badan dalam posisi miring hingga perut aman tidak kena hantaman juga. Baru hendak bangun tetiba si kakak dan abang datang berlari naik ke kasur sambil berkejaran. Kakak langsung naik tak sengaja menindis perut saya. Si Abang datang terjatuh di samping saya.

Saya naik pitam jurus seribu bayangan emak-emak muncul tetiba. Menjepit paha si kakak dengan ibu jari dan jari telunjuk. Si Abang pula kena kibasan telapak tangan saya di pantatnya. Mulut mulai monyong "kan...dari tadi Bunda bilang sudah main mabok-maboknya...! Tuh...kan... Kena sudah perutnya Bunda" semua diam membisu. "Keluar semua...! Pigi belajar atau mengaji".

Ketiganya berhamburan keluar dari kamar saya. Mereka berlari ke kamar Opanya. Suasana menjadi hening. Berkali-kali saya mengucapkan istigfar. Saya mencubit si Kakak dan memukul si Abang, beruntung si Adik tidak saya apa-apain. Merasa bersalah merajai hati.

Ya...beginilah kalau emak-emak sudah bertanduk. Tanpa di sadari menyentuh tubuh anak, tapi saya sadar meski kesal saya melakukannya tidak terlalu keras tadi. Tapi tetap saja merasa bersalah kepada anak-anak.

Saya memanggil si Kakak, tidak ada respon. Dia merajuk. Memanggil si Abang, ia langsung berlari ke dekat saya. "Apa yang di kerja kakak Kiya?" sambil mengelus-elus pantatnya. "Dia menulis Bunda". Si Abang lalu berlari kembali ke kamar Opanya.

Tidak lama berselang ia datang membawa dua lembar kertas. "Dari kakak Kiya", ucapnya sambil  menyerahkan kertas kepada saya. "Tolong panggilkan Kakak ke sini, Bang!"

Beberapa menit kemudian abang Syah memperlihatkan kepalanya di pintu. Sambil menarik kakaknya. Si Kakak duduk depan pintu tak mau masuk. Kakaknya Malu kata Abang syah berusaha menarik ke dalam kamar saya.

'Drama apa lagi ini anak-anak', batinku. "Kakak...!" Kupanggil ia mendekat. Ia melangkah memiringkan kepala sambil menutup sebagian wajahnya. Ada-ada saja tingkah anak-anak ini.

Aku bertanya padanya apakah pahanya sakit. Ia menggeleng. "Bunda maafkan Kiya. Bunda juga minta maaf ya Nak." Ucapku sambil memeluknya. Kuingatkan agar bermain yang baik-baik saja. Segala yang berlebihan itu tidak baik. Termasuk tertawa terbahak-bahak. Dan bermain yang bercandanya berlebihan juga.
***
Malam ini terasa legang. Sisa saya bertiga di rumah. Meski celoteh Bocah 2 tahun adik Syah tanpa henti tetap saja terasa sunyi. Empat personil keluar berlibur. Hanya beberapa hari. Tapi ketiadaanya terasa sangat berbeda.

Saya membayangkan perasaan saudara yang terkena musibah. Mereka yang berada di palu, lampung dan Banten. Kehilangan keluarga atau harta. Gempa dan tsunami yang menjadikan trauma. Kepedihan yang lama mereka rasakan. Tanpa iman akan semakin sulit sembuh.

Semuanya memang hanya titipan dari Allah. Manusia hidup juga hanya sekejap. Ibaratnya hanya pengelana yang singgah berteduh di bawah pohon sejenak. Lalu harus melanjutkan perjalanannya kembali.

Semoga setiap musibah yang menimpa di dapat dijadikan pelajaran. Sudah terlalu lama merasakan nikmat dari Allah. Bisa jadi manusia semakin jauh dari mengingat Allah. Dan kemaksiatan di bumi semakin merajalela. Di depan mata tanpa bisa mencegahnya.

Sesungguhnya kesalahan dengan membuat kerusakan di bumi akan membawa bencana. Mabuk dunia yang berlebihan juga merupakan kesalahan hingga lupa mengingat Allah. Hal ini mengingatkan saya akan firman Allah.

"Nikmat apa pun yang kamu terima, maka itu dari Allah, dan bencana apa saja yang menimpamu, maka itu karena (kesalahan) dirimu sendiri." (QS. An-Nisaa: 79)

Allahu taala a'lam. Semoga bermanfaat.

Sei Menggaris, 24 Desember 2018


KEPITING kECAP



Ala Bunda Ena
Kebiasaan di waktu santai selalu berpikir makan apa. Maklum keluarga saya, keluarga tukang makan. Bepergian kemana saja tidak ketinggalan bekalnya.

Menghabiskan akhir pekan juga demikian. Makan apa ya? Berkumpul biasanya tidak berarti tanpa ada yang dikunyah.

Demikian juga sehari-hari di rumah. Hal pertama yang di lakukan setiap harinya adalah mengolah makanan buat keluarga.

Minggu lalu di ujung minggu paksu dapat kepiting. Menu andalan kepitingnya adalah goreng tepung berbumbu kecap atau saos.

Let's go kita ke dapur menghabiskan akhir pekan! Bahannya kepiting, tepung bumbu, bawang merah, putih, merica, serai, minyak goreng.

Caranya, kepiting di bersihkan dengan menggunakan sikat bersih. Sikat lumpur yg menempel pada kulit luar kepiting. Pisahkan jepit dan jemari-jemari kepiting dari badannya. Belah kepiting. Buang insangnya. Masukkan ke dalam tepung bumbu yg telah di campur air. Goreng hingga berubah warna.


Haluskan bumbu. Tumis bumbu dan masukkan serai yang telah dimemarkan. Tumis hingga berbau harum, lalu masukkan kecap, garam, gula, penyedap rasa. Masukkan kepiting yang telah digoreng. Aduk-aduk agar semua kepiting terkena bumbu.

Jadi deh... Siap dinikmati bersama keluarga di akhir pekan. Masakannya buat lauk ya say bukan camilan...πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

Sei Menggaris, 27 Januari 2019

Jumat, 15 Februari 2019

Catatan Buah Hati 2 Rekreasi Membuka Lembar Romantisme Masa Kecil


By: Bunda Ena

Hari Ahad yang di nanti oleh anak-anak. Meski di tempat kami sulit menemukan tempat rekresi. Teman-teman  di sini tidak kehilangan akal, mereka mencari dan membuat tempat rekreasi sendiri. Walau pun hanya di pinggir sungai yang tidak bisa dipakai berenang itu sudah cukup.

Kami lima keluarga dan beberapa yang masih bujang ke pangkalan 3. Pangkalan 3 adalah tempat bersandarnya kapal, speed atau perahu menaik dan turunkan orang dan barang dari luar/kota. Kami ke sana ceritanya ingin berekreasi, sambil makan-makan dan bakar ikan.

Beberapa bulan lamanya saya sangat jarang ke luar rumah. Karena ngidam saya hanya bisa beraktifitas di rumah. Sudah beberapa kali tetangga mengajak jalan-jalan ke pangkalan 3. Setiap hari libur di sanalah tempat refreshing mereka.

Di sana terdapat pondok yang beratap daun kelapa sawit yang dibuat berjerami. Di dekat sungai jalur kendaraan laut keluar masuk. Di sekelilingnya pohon kelapa sawit. Tempat ini juga merupakan salah satu tempat favorit pemancing.

Tempatnya memang alami. Udara masih segar. Sangat berbeda dengan  di kompleks perumahan yang kami tempati. Jaraknya yang hanya beberapa meter dari pabrik pengolahan kelapa sawit. Hal ini membuat udara terkontaminasi dengan polusi. Lain lagi ketika bau dari minyak kelapa sawit yang berbau aneh.

Sampai di sana kami sekeluarga membentangkan tikar lalu duduk. Bapak-bapak menyalakan api untuk membakar ikan. Salah satu tetangga menggantung hammok/ayunannya. Anak-anak bermain-main. Ada yang juga memegang gawai. Anak saya ingin melakukan hal yang sama.  Segera saya mengeluarkan buku-buku. Lalu memintanya membaca.

Setelah ikan dan udang matang semua berkumpul dan menyantapnya. Terasa nikmat, meski lauk yang sama di rumah. Situasi yang berbeda membuat kenikmatannya berbeda. Selesai makan, tetangga berencan Pulang. Saya ingin tetap tinggal menikmati udara yang membuat saya agak baikan.
Setelah tetangga pulang tinggallah saya dan keluarga. Kami bercerita apa saja. Situasi ini, membuat saya semangat bercerita. Saya bercerita sewaktu kecil. Putri sulung saya sangat antusias mendengarnya.

Waktu sholat Dzuhur tiba. Suami dan putra saya kembali ke komplek perumahan untuk sholat berjamaah di mesjid. Mama dan putri saya yang ketiga pulang bersama rombongan tetangga. Setelah selesai sholat, putri saya meminta agar melanjutkan cerita. Ia sangat penasaran "lagi bunda...lagi bunda...ceritakan lagi..!" Rengeknya. Entah sudah berapa episode yang telah selesai saya ceritakan.

Saya akhirnya memulai lagi...

Banyak cerita gembira dan duka kala masih kecil. Memori yang tak bisa kuhapus dengan kenangan masa kini. Tahun 90-an tepatnya, masa ketika umurku masih sekitar 10 tahun. Ketika itu masih bersekolah di negeri jiran tepatnya Tawau Sabah Malaysia.

Masih jelas diingatan ketika itu Abang semata wayang lelaki sangat mahir membuat layang-layang besar, di sana di sebut Wau. Kerap kali aku memanjat tangki. Tangki model lama masih menggunakan besi berbentuk segi empat. Setelah berada di atas tangki lalu memanjat lagi ke atas seng atap rumah.

Bermain layangan bersama Abang merupakan memori terindah. Menarik-narik tali layangan memiliki sensasi tersendiri.  Mata fokus menatap layang yang terbang mengangkasa. Sesekali burung terlihat. Ingin rasanya terbang bersama layang menikmati indahnya alam di udara.

Lain lagi ketika Abang pergi memancing. Aku sembunyi-sembunyi ikut dengannya. Kami menaiki sampan kecil yang hanya memuat 2 orang. Sesekali Abang menebar pukatnya. Jika ada ikan yang nyangkut Akulah yang bertugas melepasnya. Asyik, hingga lupa kami semakin jauh.

Tangkapan kami cukup banyak, berbagai jenis ikan. Ikan Belana, kuaci, beberapa lainnya tak kuketahui dengan jelas namanya. Matahari semakin condong ke barat dan air sudah mulai pasang. kami memutuskan untuk pulang.

Saat perjalanan pulang, sampan sering di ketepikan. Kini abang mengajakku untuk mencari kerang di lumpur yang tidak digenangi air. Jika ada lubang kecil dan terlihat uap-uap udara kemungkinan di dalamnya kerang. Cara mengambilnya cukup memasukkan jari telunjuk dan tengah.

Awalnya kakiku geli menginjak lumpur. Tekturnya yang lembek dan membuat kaki berubah hitam. Karena berhasil menemukan beberapa kerang aku semakin bersemangat. Tidak peduli lagi pada seluruh tubuhku penuh lumpur. Kadang aku berlari kecil dan terseok-seok disaat kaki terlalu masuk ke dalam lumpur. Aku berusaha lebih gesit, tak mau kalah cepat dari Abang mememukan kerang.

Abang menaikkan tangannya yang berlumpur. Memperlihatkan kerang besar yang ia temukan. Aku tertawa bahagia melihatnya. Tak jarang melempar lumpur ke arahnya karena cemburu ia menemukan kerang yang banyak dan besar.

Karena hari sudah semakin sore abang mengajakku menaiki sampan. Aku melihat ada gelembung besar di dekat air sungai. Saat berlari aku terpeleset masuk ke sungai yang dalam. Panik tidak tau harus berbuat apa. Aku berusaha memanggil Abang. Ia hanya tertawa melihat tingkahku. Di kiranya aku bergurau. Melihat yang tersisa hanya rambutku Abang berlari ke arahku. Ia menarik rambutku dan menaikkan tubuhku. Aku hampir tenggelam, aku memang tak pandai berenang.

Aku marah bukan karena terlambat di tolong. Tapi karena Abang menarik rambutku. Kenapa bukan tangan atau badan saja. Di dalam air seluruh badan akan licin, sulit di tarik. Hanya rambut yang bisa di tarik cepat karena teksturnya yang keset ketika berada di dalam air. Entah dari mana abang menemukan dan mempelajari teori itu.

Dalam perjalan pulang Abang mewanti-wanti agar tidak menceritakan kejadian itu. Termasuk pada bapak dan mama. Jika hal itu terjadi ia akan kena marah. Dan Aku tidak akan pernah ikut dengannya lagi ke sungai.

Beruntung tiba di rumah Bapak dan mama belum berada di rumah. Tangkapan kami lumayan setengah ember. Abang memintaku membersihkan diri secepatnya. Tepatnya sebelum Bapak dan Mama datang aku harus sudah selesai membersihkan diri.

Mama tiba di rumah pukul 5.10 menit. Tanpa diberitahu pun Mama tahu kalau aku ikut ke sungai. Tangan dan kakiku yang hitam berkeriput, mataku merah. "Lain kali tidak usah ikutkan adikmu Syam!" Padahal Aku masih sangat ingin ikut. Sekalian belajar berenang, biar tidak tenggelam.

Dengan antusias putri saya bertanya "kenapa pakcik Sam melarang Bunda cerita sama Bapak tua dan Opa". Saya menjelaskan bahwa Abang takut di marahi. Kami pergi tidak minta izin. Jadinya takut kejadian di sungai di ketahui.

Hingga kini cerita itu saya simpan hanya di dalam memori tanpa menceritakannya kepada siapa pun. Baru hari ini kisah itu terkenang kembali. Kenangan masa kecil yang membangkitkan rindu pada Abang yang mirip dengan Bapak. Tidak lupa saya berpesan bahwa putri saya harus akur dengan saudara-saudaranya. Kita tidak akan hidup bersama selamanya. Setelah besar akan berpisah dan di saat itu akan sangat saling merindukan. Dan jangan lupa minta izin jika ingin ke luar rumah. Pesan yang tidak kalah penting juga adalah pintarlah menjaga rahasia.


Sei menggaris, 2 Desember 2018


RANTAU



Karya : Enawati

Di rantau kumerindu Iyabelale Indo meninabobokanku di ayunan kasih yang tak bertepi

Di rantau kumerindu coppeng yang di beri garam atau gula lalu di goncang terasa menggiur liur bibir mengungu

Di rantau ku merindu angin barubu menanam semangka di sawah Ambo yang sepetak

Di rantau kumerindu bette berre' di saat musim panen

Di rantau ku merindu cobe-cobe dan gammi-gammi indo penambah selera meski tak ada lauk lain

Di rantau kumerindu terapung di laut pinggir pantai Mallusetasi dan pulau Dutungan menatap langit biru

Di rantau kumerindu mandi di bawah hempasan air mengalir di bebatuan sungai Nepo di hiasi pepohonan yang masih alami

Di rantau terantai rindu kampung halaman tak terlukiskan dengan kata

Merindu bagaikan musim kemarau menanti guyuran hujan menanti aroma basah

Di rantau ku merindu tanah kelahiran Sambil bercerita pada putri anak perantau lahir di rantau besar di rantau
Rantau jadi tempat bernaung
kampung halaman selalu di hati


Sei Menggaris, 20 Nopember 2018

Catatan Buah Hati 1 Curhat Si Kakak

By Bunda Ena

Kebiasaan si Kakak sepulang sekolah adalah curhat. Semenjak saya tidak ke sekolah dia kerap melakukannya. Berganti pakaian atau duduk di samping saya sambil bercerita.

Bukan hanya pulang sekolah dari bermain pun rutinitas itu sering di lakukannya. Terkadang sambil matanya berbinar. Kadang pula sambil ekpresi menitikkan air mata.

Kadang saya koreksi karena banyaknya pengulangan kata "lepas tu kan Bunda" atau "baru itu". Jika saya mengintrupsinya...dia meminta agar saya memberikan contoh tanpa menggunakan kata-kata yang saya maksud.

Selesai menceritakan kembali kami pun tertawa terbahak. "Iya kan... Bunda memang pandai" ucapnya sambil tertawa riang.

Suatu sore sepulang bermain. Ia bercerita pengalamannya ketika bermain bersama adiknya. "Syah kan Bunda pandainya...dia kalahkan aku main engke'-engke'. Masa' kan tiga sudah rumahnya, aku belum ada. Jagonya dia Bunda. Padahal baru tadi dia belajar. Dia jago melempar kobat. Aku sering keluar atau terkena garis kalau melempar kobat."

Demikianlah dia bercerita panjang lebar tanpa jeda. Banyak cerita yang harusnya saya rekam dan jadikan cerita, tapi tidak dilakukan. Lupa... Padahal momen-momen seperti ini mungkin tidak akan terulang kembali.

Pernah sekali saya meminta dia untuk menulisnya. Lumayanlah anak umur 7 tahun bisa menuliskan seperti itu.


Saya membayangkan waktu masih kecil seperti Kakak Kiya, saya seperti apa ya bersama Mama. Yang  kuat di memori, saya sakit hati saat di tinggal pergi oleh Mama.

Saya pernah di titip tinggal bersama tante beberapa minggu. Saya juga pernah tinggal bersama kakak dalam waktu yang sangat lama. Sewaktu melanjutkan pendidikan SMP sampai perguruan tinggi tidak pernah tinggal bersama Mama.

Saya tidak mengingat bahwa pernah curhat dengan Mama. Anehnya karena saya anak bungsu. Biasanya anak terakhir akan manja dan lengket dengan Mamanya.

Setelah menikah barulah Mama kebanyakan tinggal bersama saya. Usianya kini sudah lebih  60 tahun. Selalu berniat untuk mengabdi. Tapi kenyataanya Mamalah yang banyak membantu.

Selalu menginginkan kebaikan buat Mama. Tapi kenyataannya kadang mama jadi tersinggung. Beruntung jika mama marah hanya sebentar.

Tidak ada  ucapan selamat hari Ibu untuk mama karena saya tidak menyakini itu. Semoga bisa selalu berbakti. Semoga bisa menjadi Bunda sholeha bagi anak dan suami.

Sei Menggaris, 22 Desember 2018

Kamis, 14 Februari 2019

KAGET KARENA PETE DAN BETE

By: Bunda Ena

Perbincangan hangat mengenai berita presiden RI kaget. Saat mengetahui masih ada gaji honorer 300 dan 500 ribu.

Sebagai mantan honorer saya juga merasa heran. Bisa-bisanya pak Presiden baru tahu jika gaji honorer masih ada yang demikian. Lalu saya pun memposting kembali berita tersebut. Dan melanjutkan pertanyaan, bagaimana honorer yang tinggal di pelosok, tentu kebutuhan hidup dan biaya perjalanannya juga tinggi.

Dari postingan itu banyaklah yang memberikan komentar. Amazing...semuanya memberikan komentar yang kontra. Tapi kemudian sebuah pernyataan yang membuat perbincangan menjadi perdebatan.
Pernyataan datang dari pak asnan

(Hahahhaa Masih ada yg 300 ribu dan dengan bodohnya dia masih mau mengajar.

Itulah kenapa presiden kaget.)

Pernyataan tersebut banyak yang menuai komentar. Diantaranya komentar Ibu Darma yang langsung memberikan contoh kongkret yang di temukan di lapangan. Ibu Darma mengemukakan bahwa di NTT masih ada guru yang di gaji 150 ribu. Mereka mau bukan karena bodoh tapi karena tidak ada pilihan dan di sana masih kekurangan guru. Jadinya guri di sana selain mengajar juga bekerja sebagai petani, pedagang,....

Lama berselang masuklah komentar pak Hery yang mempertanyakan komentar pak Asnan yang terdapat kata "bodoh"...setelah itu saya tidak tahu lagi apa komentar-komentar selanjutnya karena jaringan yang kurang bersahabat.
Karena BETE dengan jaringan lebih baik saya mengolah PETE. Pete atau petai yang sudah lama saya idamkan. Karena pak Suami kurang menyukai makanan yang mengandung gizi makro lengkap ini,  saya tidak pernah meminta dicarikan. Meski ngidam saya masih bisa memendam keinginan. Beberapa bulan lalu melihat postingan pak kum sahabat menulis di SMA membuat saya ngiler.

Malam ini Alhamdulillah...bisa menikmati PETE. Ia datang dengan sendirinya. Meski KAGET dengan anugrah yang Allah berikan membuat saya lupa mengenai berita viral kagetnya Presiden baru mengetahui gaji guru honorer. Terima kasih bu Ranti. oleh-olehnya dari Sulsel.

Pagi masih sangat awal, pukul 6.15 WITA saya kembali mengolah sisa petai. Sensasi kelezatannya sungguh luar biasa. Apalagi dibuat sambal dan dicampur udang. Bagi yang tidak menyukai pete saya bisa memberikan gambaran kelezatannya mirip dengan kacang mente yang diolah bersama coklat. Perpaduan yang sangat serasi. Atau Perpaduan coklat dan susu.

Em...mumtaz... Cek percek, ternyata salah satu manfaat petai adalah dapat mencegah mual pada ibu hamil. Jika tahu demikian sudah lama saya merengek ke pak suami untuk di carikan. Meski paksu tidak suka, kan ada alasan.

Tongkat Kayu Gading dan The Beauty and The Beast


Oleh Enawati

Bau kotoran yang menyengat di dapur membuat saya sangat tidak nyaman. Selalu mencari sumber bau yang tidak menyenangkan itu. Hingga saya memergok kayu yang di rendam oleh Abi. 
Menciumnya beberapa kali, tidak salah lagi inilah yang mengeluarkan aroma kotoran itu. Kayu yang dibawa oleh Abi dari sebakis beberapa minggu lalu. Sekitar sebulan lamanya harus sabar mencium aroma itu. Beruntung otak saya waras waktu itu, jika tidak sudah lama membuangnya.
Di otak sudah bercokol pertanyaan  seputar kayu itu akhirnya membuncah. 

"Oh, kak itu kayu apa juga? Baunya minta ampun," tanya saya akhirnya.

"Itu kayu langka dik. Tidak mudah mendapatkannya. Namanya kayu ulas."

Kayu ulas di benak saya kayu mengkilat. Bapak dulu punya seperti itu seingat saya. Tapi tidak jelas apa fungsinya dan manfaatnya. 

Setelah kayu itu di rendam kulitnya di kupas. Dicuci hingga bersih di keringkan dengan kain dan di jemur berhari-hari. Mulai tampak keindahannya. Hingga keringnya maksimal baru di cat vernis. masyaAllah terlihatlah keindahan sempurnanya.

Ternyata selain memiliki manfaat sebagai tongkat kayu ini juga memiliki manfaat sebagai pengusir hewan buas dan berbisa seperti ular. Entah ini fakta atau mitos. Yang jelasnya Abinya anak-anak menempatkan kayu yang di kenal dengan nama kayu Gading di setiap sudut ruang rumah. Katanya memudahkan jika terjadi sesuatu. Bisa dijadikan pertahanan diri.
Manfaat lain yang diperoleh adalah memperindah ruangan. Jika di pandang dari sisi emak-emak seperti saya.

The beauty and the beast

Tongkat kayu gading (ulas) memiliki kenangan bagi saya. Kala baru melahirkan anak ke 3. Sastrawan daerah Bulukumba melakukan perjalanan literasi ke daerah kalimantan utara, hinga ke Sei Menggaris tempat kami.

Tahun 2016 jaringan internet juga baru berfungsi di tempat kami. Saya membaca postingan di FB. kak Andhika Mappasomba melakukan jelajah literasi. Asyik sekali tampaknya. Ia membawa serta putra pertamanya. Melihat dunia yang belum pernah di tapaki.

Saya menceritakan hal tersebut pada suami. Dan meminta izin memintanya mampir ke tempat kami. Saya jelaskan bahwa beliau adalah senior saya di kampus.

Sebetulnya saya tidak begitu mengenal pak Andhika Mappasomba. Saya hanya mengingat-ingat namanya begitu familiar dan tidak asing. 

Belakangan baru mengetahui bahwa beliau adalah suami seletting saya angkatan 2004, hanya berbeda kelas, saya kelas B dan teman saya itu kelas C.

Saat sibuknya saya menyusun skripsi di kampus, beliau menelurkan bukunya "Ingin Kukencingi Mulut Monalisa yang Sedang Tersenyum". Berduet dengan senior yang kadang diajak berdiskusi mengenai cerpen, yaitu Kak Anis Kurniawan.

Sebenarnya saya tertarik dengan kecantikan-kecantikan goresan penanya. Kecintaannya pada literasi. Keindahan kata-kata pada puisinya. Begitu membuat saya kagum. Saya menganggapnya karyanya "the beauty".

Saat rombongan kak Andika ke rumah, tepatnya ke rumah tetangga kami. Saya mengatakan ke rumah karena  seatap dengan tetangga. Rumah kami hanya di pisahkan oleh dinding kayu.

Saat itu saya bingung mau memberikan apa. Ingin memberikan cendera mata atau sekedar buah tangan. Tapi tidak memiliki apa pun selain keinginan hendak memberi. 

Ia bercerita dengan semangat bahwa ia diberi tongkat kayu ulas. Suami saya menanggapi bahwa ia juga memiliki kayu seperti itu. Sebelum meninggalkan tempat kami, suami saya menghadiahinya tongkat kayu gading. Jadilah tongkatnya sepasang.

Setelah ia berlalu, saya kerap mengintip karya-karyanya. Kehidupan yang sederhana tidak menyurutkan langkahnya untuk mencari inspirasi bahan tulisan. Tulisan kritisnya kadang membuat saya tersinggung. Tidak jarang memantik semangat saya untuk menulis.

Tulisan saya layaknya disebut "the beast". Semoga suatu hari the beast bisa bersanding dengan the beauty.


Bapakku Pahlawan di Dadaku


Karya: Enawati

Langkahmu merantau
Merayau di hutan-hutan masih berpayau
Di jalan berliku yang tak kau tahu tanpa ragu
Demi cemara di musim kemarau
Doamu melangit melejit di surau
Sebelum kau tinggal bumi pertiwi mengigau
Kau tak kunjung pulang dari rantau
Tersedu sedan ia merayau
Memanggil-manggil namamu

Separuh usiamu mengabdi pada cemara yang kau retas

Hingga renta memupuk cemara yang subur kau tanam tanpa pias
 di rinai hujan yang menetes

Hingga akhir hayat
tak kau lihat cemaramu mekar di tengah gersang kehidupan melarat
Aku bibit yang kau semai selalu rindu belaianmu dengan lekat
Terluka mengenang memoar yang belum terangkai terlihat pekat
dalam tangkai cemara yang mengerucut
Belum sempat mempersembahkan  benih cemara baru dari benihmu yang bersemat
Dukaku tersayat setiap memandang cemara yang kini tumbuh melangit
Yang Kau tanam dengan berpeluh-peluh keringat

Di saat tangan kekar hingga keriput dengan kuku yang aus
Bahu kekar menjadi ringkih masih semangat membara dengan ikhlas
Bapak, kaulah pahlawan yang menghidupi cemara di hidupmu yang keras
Walau pahlawan cemara tersemat di lahatmu, Aku anakmu takkan pernah puas
Karena aku berhutang banyak waktu dan kisah yang belum terangkai bersamamu di dalam bingkai yang belum kita toreh di kertas kenangan dengan pena kuas

Kini...
Istigfar tak pernah henti agar dosa dan bisa melapangkan kuburmu
Doa-doa tulus tak lepas di setiap sudut hembusan nafasku
Aku teramat ikhlas melepasmu pahlawan di dadaku
walau jasadmu di makamkan di tanah rantau yang sudah tak berpayau
Engkaulah tetap pahlawan di hati anakmu yang teramat bangga padamu

Sei Menggaris, 14 November 2018

Rabu, 13 Februari 2019

KASIHI SAUDARAKU DEMI KEMANUSIAAN


(Teruntuk Ibu Aung San Suu Kye)
Karya: ENAWATI

Aung San Suu Kye
Ibu yang harus mengayomi
Menganggap anak tiri bahkan tak mengakui saudaraku
Ia bangga menerima Novel perdamaian
tapi dikecam dunia karena membisu
Melihat saudaraku ditindas
Berdalih lebih mengetahui kondisi negaranya daripada yang lain
Padahal mata dunia melihat
Bukan puluhan atau ratusan yang menjadi saksi
Tapi 700 ribu orang bahkan lebih menjadi saksi
Mereka melarikan diri, disiksa, dan dibunuh
Mereka di suruh masuk ke rumah
Lalu rumah-rumah mereka di bakar
10 ribu tewas
Dibasmi bagaikan kecoa dan tikus-tikus penyebar hama penyakit
Sebegitu tak berhargakah nyawa yang idak seiman?
Tidak seetnis atau tidak sesuku?


Anak-anak, Ibu, dan perempuan
Yang harusnya dilindungi sebaliknya dianiaya
Gadis pemalu yang menjaga kesucian dan kehormatan dinodai
Dijadikan pemuas nafsu iblis militer Tatmadaw
Junta militer terkejam di dunia
Mereka...
melakukan kekejaman perang
Melakukan kejahatan kemanusiaan
Bahkan melakukan genosida
Yang di kutuk dunia

Suu Kye...
Meski seluruh rakyat membelamu itu tidak akan cukup
Seluruh dunia mengecammu
Mahathir Muhammad dari Malaysia
Memintamu mengakui kewarganegaraan Rohingya
Malala gadis belia penerima novel setelahmu turut mengecammu
Wapres AS mencecarmu melakukan kekerasan dan persekusi yang tidak bisa dimaafkan
Canada mencabut kewarganegaraan terhormatmu
Amnesty International mencabut penghargaan Duta Besar Hati Nurani
Bagaimana mungkin kau meyandang itu

sedangkan nuranimu tidak bergerak ketika Rohingya di bunuh jiwanya
Indonesia meminta agar kekerasan segera dihentikan

Oh...Aung San Suu kye
Bukalah mata dan hatimu
Bukankah kau juga pernah menjadi tahanan rumah selam 15 tahun?
Tidakkah itu menjadi pelajaran berharga?
Kau tidak bebas melakukan dan m3lanhkah kemana pun kau mau
Tapi mengapa hal itu kau semai
Ke anak yang tidak kau akui
Kau hilangkan hak dasar mereka untuk mendapatkan pendidikan
Kau hilangkan hak azasi mereka untuk mendapatkan kewarganegaraan
Kau hilangkan hak mereka untuk melangkah dan mendapatkan pekerjaan yang layak
Mana hati nuranimu Aung San Suu Kye...?

Suu kye sayang
Lakukanlah...
Perbaikilah...
Buktikanlah...
Rangkullah anak-anakmu kembali

Saudaraku menantikan uluran kasih dari nuranimu
Berjuta mereka tersebar di Banglades kamp cox's
Di Indonesia, Malaysia, dan Thailand
Hingga dunia menjuluki mereka 'orang perahu'

Suu kye cintaku...
Panggillah mereka kembali
Berikan hak mereka
Buatlah dunia kembali memberimu rangkaian bunga semerbak
Masih ada waktu
Masih ada kesempatan
Untuk memperbaiki semuanya
Penuhilah 88 permintaan Kofi Annan sebelum wafatnya
Melalui Dewan PBB, bukankah kau juga yang memintanya menjadi ketua tim?
Buatlah ia tersenyum di alam sana

Jika kau tak mau menolong karena etnis
Sebab agama dan perbedaan
Rangkullah mereka karena rasa kemanusiaanmu!

Sei Menggaris, 7 Desember 2018

Selasa, 12 Februari 2019

Ijazah Sarjana Setara My Card?


Karya: Enawati

Gemerlap negara tetangga menyilaukan mata
Terpukau pukat hati
Pada kisah Hang Tuah dan Hang Jebat
Padahal kita punya cut Nyak Dien dari Aceh
Sultan Hasanuddin ayam jantannya Sulawesi
Yang begitu gigih mengusir penjajah dari negeri
Mengapa tidak bangga pada pejuang tanah sendiri?

Mereka para mamak berkata
Kawin saja padanya yang punya IC Malaysia
Sarjanamu tidak berguna tidak menghasilkan duit
Sekolah tinggi namun tinggal di rumah saja
Ia punya IC bekerja menghasilkan ringgit
Rupiah kalah dengan ringgit sebagai mas kawin

Tak apa, ikuti saja kehendak mamakmu yang buta
Karena berpuluh tahun di rantauan
Negeri Dauli Tuanku
Membuat ia krisis identitas

Sekolah menara gadingmu pergunakan untuk mencetak
Generasi penerus yang berbeda dengan otak opanya
Didiklah ia menjadi pribadi sholeh yang tidak lagi membandingkan materi keduniaan
Dua kadarullah tidak bisa di sanding bandingkan
Mengapa terlalu pongah
Manusia hidup hanya sementara
Lupakah ia terhadap itu?

Ingatkan,
Karena hidupnya sekarang hanya bekerja dan menimbun harta
Persis Qaarun yang tertimbun bersama harta karunnya
Pahamkan ia,
Transkrip nilai dan my card dua sisi berbeda
Tidak pernah bisa disetarakan meski boleh dikawinkan

Sei Menggaris, 12 Februari 2019





Senin, 11 Februari 2019

Berkaca dari Identitas Rempeyek

By Bunda Ena

Pagi ini keluarga kami sarapan pisang goreng kriuk. Ditemani kopi herbal untuk Abi. Susu kambing pula pilihan saya.

Kami biasanya menikmati pisang goreng dengan sambal tomat. Perpaduan manis, asin, dan pedas menambah selera. Anak-anak lebih suka menikmati kriuk-kriuknya. Melihat kondisi tersebut setiap mengolah pisang salutan tepungnya sering saya perbanyak.

Saya tidak heran dengan hobi anak-anak. Tetingat sewaktu kecil, saya pun demikian. Kadang meminta mama untuk memisahkan kriuk-kriuknya saja. Sensasinya renyah di mulut enak dilidah membuat ketagihan.

Mama kemudian rajin membuatkan kami kerupuk goyang-goyang. Saya menamainya demikian karena proses pembuatannya. Saat ingin melepas krupuk dari cetakannya dilakukan dengan menggoyang-goyangkan cetakan tersebut.

Berbeda dengan saya yang hobi membuatkan camilan rempeyek. Lebih memilih peyek karena selain anak suka suami juga sangat hobi. Menikmati krupuk tradisional Jawa tersebut enak juga disantap menemani makanan berat. Jadi di semua kondisi enak jika di temani kriuk-kruik yang satu itu.

Pernah juga membuat peyek untuk di jual. Hasilnya lumayan laris. Pembeli juga bertanya-tanya siapa pembuatnya. Penjual tempat menitipkan kripik tersebut menyebutkan nama saya. Orang-orang bertanya apakah saya orang Jawa. Saya lalu menjelaskan saya orang Bugis. Guru saya yang mengajari membuat peyek itulah yang orang Jawa.

Berkaca dari cerita tersebut. Ternyata makanan saja identik dengan identitas. Apalagi kita sebagai manusia. Laku, ucapan, tulisan, apapun yang kita kerjakan akan identik dengan pribadi pelakunya. So guys... Mari kita lakukan yang baik-baik dan bermanfaat. Entah itu perbuatan maupun menulis.

Apalagi di dunia ini manusia hanya sementara. Perbanyaklah bekal untuk kehidupan akhirat kelak. Jangan sampai kita terpedaya dengan amalan yang sia-sia.

Sei Menggaris, 19 Desember 2018



Kamis, 07 Februari 2019

TRIK JITU MENGATASI ANAK KECANDUAN TELEVISI GADGET

OLEH: BUNDA ENA

Hari libur adalah momen yang dinanti keluarga, terutama anak-anak. Demikian pula buah hati saya. Pasalnya mereka akan diberi waktu untuk menonton dan menggunakan gadget.  Hampir setahun televisi dinonaktifkan dan bermain gadget dibatasi. Saya dan suami melihat  dampak negatif dan pengaruhnya sangat merusak.

Putra saya yang berusia 6 tahun 1 bulan kerap menendang dan meninju menirukan film yang telah ditontonnya. Putri sulung saya berbeda lagi ia kerap menirukan gaya percakapan sinetron remaja yang telah ia tonton. Belum lagi ketika mereka sempat melihat film-film horor yang dapat menjadikan mental mereka rusak, menjadi penakut.

Dari pengamatan saya siaran televisi sekarang memang lebih banyak yang kurang mendidik. Hampir semua sinetron menyajikan cerita romansa percintaan antar lawan jenis. Kalaupun setiap siaran di cantumkan usia penonton, telah lulus sensor, dan anak harus tetap didampingi oleh orang tua tapi tetap saja ada adegan yang tidak pantas dilihat.

Fenomena tersebut merupakan satu problematika yang melanda kehidupan masyarakat di Indonesia. Kejadian ini mewakili permasalahan yang dihadapi orang tua dalam menghadapi anak. Khususnya anak yang telah menjadikan televisi dan gadget sebagai cerminan tingkah lakunya di dalam kehidupan nyata. Dan parahnya mereka sampai ada yang kecanduan oleh kedua benda tersebut.

Artikel kali ini akan membahas trik jitu mengatasi anak kecanduan televisi dan gadget. Sebelum lebih jauh mengemukakan trik-trik jitu ada baiknya kita mengetahui pengertian, fungsi,  dan pengaruh televisi dan gadget.

Pengertian televisi dan gadget

Pertama, kita akan mengetahui apa pengertian televisi dan gadget. Menurut KBBI televisi adalah sistem penyiaran gambar yang disertai dengan bunyi (suara) melalui kabel atau melalui angkasa dengan menggunakan alat yang  mengubah cahaya (gambar) dan bunyi (suara) menjadi gelombang listrik dan mengubahnya kembali menjadi berkas cahaya yang dapat dilihat dan bunyi yang dapat didengar.

Sedangkan gadget adalah perangkat elektronik dengan model penggunaan yang praktis dan memiliki fungsi khusus (Jurnalponsel.com). Gadget yang sering digunakan adalah gawai atau HP, tablet, laptop, IPad, kamera digital, dan HP (headshet).

Fungsi televisi dan gadget.

Fungsi televisi dan gadget hampir sama. Meskipun pada perkembangannya gadget memiliki kelebihan dibanding televisi. Mengakses informasi, menambah wawasan, hiburan, dan gaya hidup. Fungsi yang hanya dimiliki gadget adalah memperlancar komunikasi.

Pengaruh televisi dan gadget pada kehidupan khususnya anak.

Penggunaan televisi dan gadget memiliki dampak positif dan negatif. Keduanya bagai mata pisau. Jika pemiliknya mampu menggunakannya dengan baik maka pisau tersebut sangat bermanfaat. Tapi jika pemiliknya tidak paham menggunakannya. Pisau tersebut akan melukai, baik disengaja maupun tidak.

Pengaruh Positif televisi dan gadget yaitu sebagai sumber belajar anak. Selain itu dapat juga dijadikan sumber menambah wawasan bagi anak. Dan bisa dijadikan sebagai sarana hiburan.

Pengaruh negatif televisi pada anak telah di paparkan di dalam tulisan  Adhi Aziz Maher di Kompasiana sebagai berikut.
1. Anak yang awalnya rajin menjadi malas karena  sebagian besar waktunya di gunakan untuk menonton televisi.
2. Aksi-aksi kekerasan juga sering dilakukan akibat meniru tontonan di televisi.
3. Minat baca anak akan berkurang karena banyaknya hiburan di televisi yang hanya bisa langsung ditonton tanpa membaca.
4. Anak juga cenderung mengikuti tren-tren gaya barat sehingga menyimpang dari agama.
5. Suguhan di televisi juga menghancurkan budaya-budaya Indonesia karena lebih banyak  mempertontonkan budaya luar.
6. Tontonannya juga dapat mengubah tingkah laku dan watak, dulunya anak bersikap sabar menjadi cepat emosi akibat tontonannya.

Di dalam artikel tersebut memberikan dua solusi yaitu meminimalkan waktu menonton televisi dan membatasi hanya menonton program-program tertentu. Dan kedua menyarankan kepada pemerintah untuk lebih keras membatasi tayangan televisi.

Sedangkan pengaruh gadget yaitu sebagai berikut.
1. Paparan radiasi gadget sangat berbahaya bagi kesehatan.
2. Gadget dapat membuat anak ketergantungan sehingga mereka bisa tumbuh menjadi anak-anak dengan sifat tertutup dan tidak mempunyai kemampuan bersosialisasi yang baik.
3. Gadget bisa menjadi pemicu rasa tertekan, gangguan bipolar dan autis.
4. Anak-anak bisa mengalami kelebihan berat badan atau obesitas.
5. Saat bermain, anak-anak cenderung lupa waktu. Apalagi jika terlalu asyik main games. Hal ini tentu saja bisa mengganggu waktu tidurnya.
6. Awalnya, membelikan gadget agar dimanfaatkan anak saat mencari informasi terkait tugas sekolah. Tapi, ia tidak sengaja membuka situs pornografi atau situs lain yang mempertontonkan tayangan yang tidak seharusnya ia lihat. Nah, pengaruh tayangan ini bisa berdampak negatif pada anak.


Trik jitu  mengatasi anak kecanduan televisi dan gadget.

Trik yang akan diutarakan ini adalah trik-trik yang penulis gunakan pada anaknya sendiri. Dulunya anggota keluarga merupakan penonton yang dikategorikan berat yaitu menonton lebih dari 4 jam sehari. Saat ini Alhamdulillah, sudah terbebas dari menonton dan penggunaan gadget pada buah hati.

1. Komitmen antara Ayah dan Ibu.

Orang tua juga harus berkomitmen  untuk tidak menonton ketika memberi arahan kepada anak. Sebisa mungkin untuk tidak meletakkan televisi di kamar, baik di kamar anak maupun di kamar sendiri. Demikian juga gadget,  Ibu dan ayah harus bersepakat tidak memberikan ke anak. Gadget ibu dan ayah harus aman dari jangkauan anak.

2. Membatasi waktu untuk menonton atau menggunakan gadget.

Bisa dilakukan hanya sejam sehari dan pada program tertentu yang mendidik. Setelah sebulan tingkatkan lagi aturannya menonton hanya sekali dalam seminggu yaitu di hari libur.

Demikian juga gadget. Anak harus diberikan waktu dan gadget tersebut tidak tersambung dengan jaringan internet. Aplikasi juga harus disepakati bersama. Misalnya hanya menggunakan aplikasi pemotretan atau game-game yang mendidik.

3. Padatkan waktu untuk melakukan hal-hal positif di rumah.

Hal ini dapat dilakukan mengajak anak bermain bersama orang tua. Mengajak untuk melakukan hal-hal positif seperti memasak, membersihkan rumah, menanam atau menyiram bunga, membersihkan halaman, menulis hal-hal yang menyenangkan, menulis kegiatan apa yang ingin lakukan, atau menghias kamar. Hal ini dilakukan dengan hanya melibatkan mereka minimal mereka antuasias melihat kita melakukan hal-hal positif tersebut.

4. Perkenalkan atau mengajak anak bermain tradisional di rumah.

Permainan tradisional Seperti bola bekel, petak umpet, tepuk-tepuk yang ada nyanyiannya,

bermain pesawat-pesawat atau perahu dari kertas bermain peran contohnya masak-masak, jual beli, dan lain-lain. Jika perlu ikutlah bermain bersama anak.

5. Luangkan waktu untuk anak.

Meluangkan waktu bercengkrama bersama anak sangatlah penting. Selain bisa mengajak anak berbagi cerita. Orang tua juga dapat memberikan penjelasan mengapa mereka tidak bisa menghabiskan waktu hanya dengan menonton televisi dan bermain gadget.

6. Hindari memarahi anak jika kondisi rumah berantakan.

Rumah akan cenderung berantakan jika mereka dibiarkan bermain yang positif di rumah. Misalnya, batu, main, peralatan bermain anak senantiasa berhamburan. Jika hal ini terjadi maka ajak anak membersihkan dan merapikan mainan bersama-sama.

7. Ajak anak menyediakan peralatan main sendiri.
Mengajak anak menyediakan peralatan main sendiri memiliki sensasi keseruan tersendiri. Selain mengajarkan anak untuk kreatif mencari dan menemukan. Waktu mereka juga habis dengan tidak mengingat televisi dan gadget.
Peralatan bisa berupa kertas, karton, batu, kayu bekas, botol bekas, plastik bekas atau peralatan lainnya yang di gunakan oleh anak.

8. Berikan waktu anak untuk bermain di luar.

Waktu terbaik yang bisa digunakan anak untuk bermain di luar adalah sore hari. Setelah

mereka istirahat siang, dan selesai mengaji. Ingatkanlah untuk bermain yang positif. Sebelum magrib atau sebelum pukul 18.00 mereka harus sudah berada di rumah. Agar ada waktu membersihkan diri dan bersiap untuk melakukan ibadah salat magrib.

Demikianlah trik jitu  yang bisa digunakan oleh orang tua untuk mengatasi anak yang kecanduan menonton televisi dan menggunakan gadget. Semoga bermanfaat.

Sumber:
https://raniyuliandani.wordpress.com/2009/05/26/pengaruh-televisi-terhadap-perkembangan-anak/
http://ulilfazmi.blogspot.com/2015/02/pengaruh-televisi-terhadap-sosial.html?m=
https://www.kompasiana.com/abhieammm/597055b6da1e4a35a24b22d2/dampak-televisi-bagi-masyarakat-khususnya-anakanak-di-indonesia?page=all
Parentinganak.com.


SERPIHAN KEKACA DI TAPAL BATAS

Karya : ENAWATI

Menyisir rambut setengah basah sambil berkaca
A
Mendengar sesayup suara bass anak yang mulai akil balig
Suara memelas hampir tak terdengar
Meminta restu mencari uang ringgit di tengah hidup yang himpit
Suara ia naikkan setengah oktaf
Tak punya sekolah bisa kerja
Dengan sekolah pun tak dapat duit

Mata sayu menoleh ke kaca
Kita bebas di negeri ini anakku
Tak ada pengikat duli tuanku
Tak ada rasa takut saat cekking
Tak ada kelimpuyungan mencari tempat bersembunyi saat polis menggerebek
Tak ada siluet ketakutan di wajah saat membeli belah di tanjung
Tak ada rasa was-was saat menikmati teh tarik dan sedapnya martabak di restoran

Jemari kaku dengan kuku-kuku rusak karena sabun cuci
Menyapu bedak di wajah yang berkerut
Anakku tidakkah kau melihat
Anak terpisah dari orang tuanya
Kakak tak berjumpa adiknya
Kakek tak mengenali cucunya
Dan sanak tak terangkai dengan saudaranya
Sekali kau melangkah di tapal batas sulit kau kembali 
Inginkah kau seperti mereka yang terpisah dengan orang yang terkasih?

Anak akil balig kurang berakal ikut berkaca
Apa yang harus ku banggakan di sini?
Hasil taniku dibawa jauh dari tapal batas
Dijual dengan harga murah
Dan kemudian kerabatku membeli dengan harga mahal
Di sini, pangan negeri tak komplit
Konon penghasil beras terbanyak
Tapi beras yang dikonsumsi beras nasional Malaysia
Apalagi yang harus ku senangi?
Saat bertamu ke sana
Kudisambut di kastam diraja Malaysia
Dengan bengis tanpa senyum manis
Padahal mereka saudaraku sesuku yang hanya berubah menjadi orang tempatan Malaysia

Dengan tangan gemulai merangkul anak akil balig sambil menatap kaca
Kita masih punya satu anakku…
Rasa cinta pada negeri kita
INDONESIA

Sei Menggaris, 25 Nopember 2016

 

KIAT MENGATASI NGIDAM MENURUT ISLAM


Oleh : Enawati

Masa krusial seorang Ibu ketika mengandung adalah triwulan pertama. Masa ini biasa juga di kenal dengan masa ngidam. Ngidam biasanya ditandai dengan nafsu makan berkurang, pusing-pusing, merasa mual, dan muntah. Bukan saja dari dunia kedokteran mengakui hal ini, agama pun mengakui adanya hal tersebut.

Menurut teori kedokteran, penyebab ngidam adalah terjadinya perubahan hormonal di dalam tubuh. Beberapa indera menjadi lebih sensitif. Tubuh bumil juga  mengalami kekurangan nutrisi tertentu  dan nutrisi tersebut terdapat pada makanan yang diinginkan.

Ngidam diakui oleh ilmu kedokteran tapi hingga saat ini belum di temukan obat untuk mengatasi hal tersebut. Salah satu solusi yang bisa dilakukan untuk mengatasinya adalah melakukan hipnoterapi. Hipnoterapi ini di lakukan 20 menit sehari, pagi hari dan malam sebelum tidur.

Dari hasil penelitian mutakhir yang dilansir Dailymail dalam kompasianahealty, fenomena itu sebenarnya tak terjadi pada perempuan saja, tetapi sebagian suami juga merasakannya ngidam. Fenomena calon ayah yang ngidam dialami oleh para pria yang terlibat secara penuh dalam kehamilan istrinya.

Hasil penelitian  menyimpulkan bahwa dari 2.000 pria berusia 16-65 tahu, sekitar 26 persen calon ayah mengalami perubahan emosi, 10 persen mengaku ngidam makanan dan 6 persen pria ikut merasakan gejala mual dan muntah. Bahkan, 3 persen pria seolah-olah merasakan sakit kehamilan.

Di dalam pandangan Islam suami dianjurkan untuk berbuat baik kepada istrinya. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: "Aku wasiatkan kepada kalian (para suami) untuk berbuat baik kepada Istri-istri." Muttafaqun alaih.

Hadits tersebut menunjukkan bahwa suami hendaknya berbuat baik kepada istrinya disaat apapun, lebih dituntut lagi tatkala istri ngidam karena hamil. Karena keadaan psikologis seorang wanita saat hamil kadang berubah-ubah.
Beberapa tips yang islami untuk mengatasi ngidam:
Pertama, tips mengatasi ngidam menurut Islam yang dapat dilakukan adalah membuat pikiran rileks dengan  mendengarkan murottal Al Quran atau membaca Al Quran langsung. Sesuai firman Allah Azza wa Jalla Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi obat dan rahmat bagi orang-orang yang beriman” (QS. Al-Isra’: 82).

Kedua, Memotivasi agar banyak berpikir positif dan memberi sugesti pada diri sendiri mengenai hal-hal positif. Menanamkan dalam diri bahwa ngidam dan hamil adalah sebuah ibadah yang besar pahalanya. Muntah dan mual yang dirasakan akan menggugurkan dosa dengan banyak beristigfar dan berzikir.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memberi jaminan. Resiko apapun yang diderita wanita ketika hamil, terutama yang mengancam kematian, akan dinilai sebagai syahid. Kemuliaan Ibu hamil bahkan di sebutkan Rasulullah Sallahu Alaihi Wasallam, ketika  wanita hamil dan meninggal termasuk salah satu dari 7 mati syahid bukan karena terbunuh di jalan Allah.

Orang yang mati karena thaun, syahid. Orang yang mati tenggelam, syahid. Orang yang mati karena ada luka parah di dalam perutnya, syahid. Orang yang mati sakit perut, syahid. Orang yang mati terbakar, syahid. Orang yang mati karena tertimpa benda keras, syahid. Dan wanita yang mati, sementara ada janin dalam kandungannya.” (HR. Abu Daud 3111 dan dishahihkan al-Albani)

Ketiga, tips selanjutnya adalah memberikan makanan yang sehat, bergizi dan halal yang disenangi wanita yang sedang ngidam. Salah satu buah terbaik dikonsumsi ketika ngidam dan hamil  yaitu buah kurma. Hal ini di gambarkan di dalam Al Quran.

Goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu, maka makan, minum dan bersenang hatilah kamu,” (QS. Maryam: 25-26).

Bukan hanya buah kurma dianjurkan tapi juga mengkomsi madu saat ngidam sangat dianjurkan.  Keaadaan bumil saat ngidam sangat lemah, mengkomsumsi madu dapat menyembuhkan stamina. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang memikirkan” [An-Nahl : 69]

Selain itu dianjurkan juga meminum susu, memakan sayur- sayuran dan buah- buahan. Memakan buah-buahan lain juga sangat dianjurkan Contohnya Karena ngidam biasanya membuat nafsu makan berkurang dan mual akibatnya muncul keinginan untuk memakan buah yang memiliki rasa asam. Untuk menggabungkan semua rasa maka biasanya akan diolah menjadi rujak.

Yang lebih penting dari semua itu adalah memberikan makanan yang halal baik dari segi kehalalan makan tersebut atau dari segi kehalalan mendapatkannya. Karena sesungguhnya Allah tidak akan menerima sesuatu yang tidak bersih atau haram dan tidak akan mengabulkan doa ketika memakan sesuatu yang haram. Padahal ketika ngidam dan hamil hendaklah banyak berdoa agar di beri kekuatan, kesehatan, terlebih lagi berdoa agar diberikan anak yang soleh dan soleha.

Sumber rujukan:
Al Quran dan Terjemahan
https://konsultasisyariah.com/29205-pahala-bagi-wanita-hamil.html
https://almanhaj.or.id/2452-pengobatan-menggunakan-habbatus-sawda-dengan-madu-dan-dengan-bekam.html
Www.dakwahsunnah.com
Https.//muslimah.or.id
http://jogja.tribunnews.com/2015/02/22/suami-wajib-turuti-istri-saat-ngidam-ini-pandangan-menurut-agamak

Senin, 04 Februari 2019

Palekko




Ala Bunda Ena

Berbulan-bulan, baru berhasil merealisasikannya. Nasu palekko, entah itu ayam atau bebek. Alhamdulillah, malam ini Abinya anak-anak berhasil menemukan ayam kampung. Membeli dari pak Imam masjid.

Sebelum magrib, Pak Suami mengungkapkan keinginannya. Hanya mendengar kemauannya yang menggebu sambil tersenyum. "Bisa...yang penting ada bahan," jawab saya sekenanya.


KAPURRUNG


By Bunda Ena


Masyarakat Indonesia di kenal dengan keramah tamahannya. Selain itu, sikap kegotongroyongan juga masih melekat. Hingga kini, sikap gotong royong itu tetap ada meski sedikit tergerus oleh modernisasi.

Sikap gotong royong, berkumpul-kumpul sambil melakukan sesuatu bersama masih sering dilakukan. Salah satu contohnya pada masyarakat Sulawesi Selatan khususnya suku Bugis yang berada di rantauan melakukannya hari ini di rumah saya.

Ingin melihat keseruannya, ayo ikuti terus cerita saya.

Pukul 9 pagi saya mendapat chat dari adik yang mengajar di SD.

[Bu...kita buat kapurrung yok....😁 kalo mau kami go iniπŸ˜‚]

(iya mau...ke sinilah. Beli bahan di ruko dulu, masuk buku atas nama Abinya Kiya)

***

Acara kali ini personilnya sebagian Ibu-Ibu SDN 1 dan SMP 1 Sei menggaris. Mereka sangat antuasias untuk mangacara kapurrung. Mangacara adalah kegiatan kumpul-kumpul yang di adakan dalam rangka membuat suatu makanan yang nantinya akan di santap bersama.

Kapurrung adalah salah satu makanan tradisional dari Sulawesi Selatan, khususnya daerah Palopo. Di Luwuk yang tidak jauh dari Palopo menyebutnya dengan Pugalu atau Bugalu.

Makanan tradisional yang mulai terkenal ini terbuat dari tepung sagu dan campuran sayuran. Di daerah Sulawesi Tenggara juga di kenal dengan sinonggi.

Cara pengolahannya hampir sama. Yaitu sagu di cairkan dengan sedikit air. Diaduk hingga tidak ada yang menggumpal setelah itu di masukkan air mendidih ke dalamnya dan diaduk lagi hingga berwarna bening.

Ada pula yang memanaskan air di wajan atau periuk setelah mendidih baru campuran tepung sagu tadi dimasukkan ke dalam air yang telah mendidih tersebut.

Kapurrung biasanya di campur dengan ikan, udang, ayam dan kacang. Sayur yang digunakan biasanya kacang panjang, rebung, jantung, pisang, kangkung, bayam atau sayur lainnya.

***

Sebelum berangkat ke rumah, genk Ibu-Ibu guru ini hanting bahan di mall kebanggaan kami di sini yaitu roku. Mereka hanya berhasil mendapatkan kacang panjang, kangkung, ikan dan ikan sardin. Mereka kurang beruntung karena udang baru saja habis. Padahal mencampur udang ke dalam kapurrung sangatlah nikmat.

"Apa boleh buat" istilah orang di sini yang hidup serba terbatas, maklum daerah perbatasan.😁

Sesampai di rumah mereka langsung beraksi. Ada yang memotong-motong kacang panjang, ada pula memotong kangkung. Saya sebagai tuan rumah lebih memilih membersihkan ikan untuk di masak. Sayur bayam dan jeruk di perik di kebun samping rumah.

Setelah itu, ada yang mengolah bahan utamanya. Kami menggunakan tepung tapioka alias kanji. Karena tidak menemukan tepung sagu. Orang di sini,  berpendapat bahwa tepung kanji lebih mereka sukai daripada tepung sagu. Alasannya karena tepung kanji tidak memiliki aroma (lain) khas seperti tepung sagu.

Tahap pertama, di lakukan dengan mengolah tepung kanji.
Tahap kedua menggoreng kacang tanah.
Tahap ketiga memasak ikan.
Tahap keempat memasak sayur.
Tahap kelima membuat sambal.

Dalam penyajiannya orang Palopo, Luwuk, dan Tolaki (orang Sulawesi Tenggara) lebih menyukai semua bahan di pisah. Olahan tepung sagu terpisah dari sayur dan ikan.

Pada penyajiannya kami lebih suka mencampur semua bahan. Setelah sayur matang, olahan tepung kanji di masukkan, lalu ikan sardin yang di tumis sebelumnya bersama kacang yang telah di haluskan di masukkan pula. Tambah garam, penyedap rasa, dan gula. Jadi deh...

Jika ada yang belum mengetahui pengolahannya berikut akan saya ulas resepnya. Bahan kapurrung di sesuaikan dengan bahan yang tersedia di tempat masing-masing pengolah.

RESEP KAPURRUNG
(Ala Ibu-Ibu Sei Menggaris)

Bahan:

1. Tepung sagu atau tapioka secukupnya
2. Sayur campuran
3. Ikan, udang, ayam, atau ikan sardin
4. Kacang tanah
5. Bahan untuk sambal (cabe rawit, terasi, dan tomat)

Cara membuat:

1. Pengolahan tepung sagu. Tepung sagu di campur dengan sedikit air hingga tidak ada yang menggumpal. Lalu di masukkan ke dalam air panas yang telah dididihkan sebelumnya. Diaduk hingga berwarna bening. Lalu di sendok sedikit demi sedikit ke dalam wadah lain yang telah diberi air dingin.

2. Masak ikan. Ikan di campur air asam jawa, garam, penyedap rasa, kunyit bubuk, lalu di beri air.

3. Goreng kacang tanah. Haluskan.

4. Memasak sayur bening. Didihkan air masukkan kacang panjang, setelah setengah matang masukkan sayur berdaun. Beri garam, gula, dan penyedap rasa.

5. Sambal. Olah sambal sesuai selera. Lebih nikmat sambal tomat mentah.

6. Tumis ikan sardin dengan bawang merah dan putih. Aduk-aduk, ikan sardin di hancur-hancurkan lalu masukkan cakang tanah yang telah di blender atau di tumbuk.

7. Masukkan olahan tepung sagu, tumis ikan sardin ke dalam sayur matang, aduk-aduk, cek rasa.

8. Sajikan kapurrung bersama sambal dan ikan masak.

Selamat menoba..