Label

Tampilkan postingan dengan label Sastra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sastra. Tampilkan semua postingan

Jumat, 15 Februari 2019

RANTAU



Karya : Enawati

Di rantau kumerindu Iyabelale Indo meninabobokanku di ayunan kasih yang tak bertepi

Di rantau kumerindu coppeng yang di beri garam atau gula lalu di goncang terasa menggiur liur bibir mengungu

Di rantau ku merindu angin barubu menanam semangka di sawah Ambo yang sepetak

Di rantau kumerindu bette berre' di saat musim panen

Di rantau ku merindu cobe-cobe dan gammi-gammi indo penambah selera meski tak ada lauk lain

Di rantau kumerindu terapung di laut pinggir pantai Mallusetasi dan pulau Dutungan menatap langit biru

Di rantau kumerindu mandi di bawah hempasan air mengalir di bebatuan sungai Nepo di hiasi pepohonan yang masih alami

Di rantau terantai rindu kampung halaman tak terlukiskan dengan kata

Merindu bagaikan musim kemarau menanti guyuran hujan menanti aroma basah

Di rantau ku merindu tanah kelahiran Sambil bercerita pada putri anak perantau lahir di rantau besar di rantau
Rantau jadi tempat bernaung
kampung halaman selalu di hati


Sei Menggaris, 20 Nopember 2018

Kamis, 14 Februari 2019

Tongkat Kayu Gading dan The Beauty and The Beast


Oleh Enawati

Bau kotoran yang menyengat di dapur membuat saya sangat tidak nyaman. Selalu mencari sumber bau yang tidak menyenangkan itu. Hingga saya memergok kayu yang di rendam oleh Abi. 
Menciumnya beberapa kali, tidak salah lagi inilah yang mengeluarkan aroma kotoran itu. Kayu yang dibawa oleh Abi dari sebakis beberapa minggu lalu. Sekitar sebulan lamanya harus sabar mencium aroma itu. Beruntung otak saya waras waktu itu, jika tidak sudah lama membuangnya.
Di otak sudah bercokol pertanyaan  seputar kayu itu akhirnya membuncah. 

"Oh, kak itu kayu apa juga? Baunya minta ampun," tanya saya akhirnya.

"Itu kayu langka dik. Tidak mudah mendapatkannya. Namanya kayu ulas."

Kayu ulas di benak saya kayu mengkilat. Bapak dulu punya seperti itu seingat saya. Tapi tidak jelas apa fungsinya dan manfaatnya. 

Setelah kayu itu di rendam kulitnya di kupas. Dicuci hingga bersih di keringkan dengan kain dan di jemur berhari-hari. Mulai tampak keindahannya. Hingga keringnya maksimal baru di cat vernis. masyaAllah terlihatlah keindahan sempurnanya.

Ternyata selain memiliki manfaat sebagai tongkat kayu ini juga memiliki manfaat sebagai pengusir hewan buas dan berbisa seperti ular. Entah ini fakta atau mitos. Yang jelasnya Abinya anak-anak menempatkan kayu yang di kenal dengan nama kayu Gading di setiap sudut ruang rumah. Katanya memudahkan jika terjadi sesuatu. Bisa dijadikan pertahanan diri.
Manfaat lain yang diperoleh adalah memperindah ruangan. Jika di pandang dari sisi emak-emak seperti saya.

The beauty and the beast

Tongkat kayu gading (ulas) memiliki kenangan bagi saya. Kala baru melahirkan anak ke 3. Sastrawan daerah Bulukumba melakukan perjalanan literasi ke daerah kalimantan utara, hinga ke Sei Menggaris tempat kami.

Tahun 2016 jaringan internet juga baru berfungsi di tempat kami. Saya membaca postingan di FB. kak Andhika Mappasomba melakukan jelajah literasi. Asyik sekali tampaknya. Ia membawa serta putra pertamanya. Melihat dunia yang belum pernah di tapaki.

Saya menceritakan hal tersebut pada suami. Dan meminta izin memintanya mampir ke tempat kami. Saya jelaskan bahwa beliau adalah senior saya di kampus.

Sebetulnya saya tidak begitu mengenal pak Andhika Mappasomba. Saya hanya mengingat-ingat namanya begitu familiar dan tidak asing. 

Belakangan baru mengetahui bahwa beliau adalah suami seletting saya angkatan 2004, hanya berbeda kelas, saya kelas B dan teman saya itu kelas C.

Saat sibuknya saya menyusun skripsi di kampus, beliau menelurkan bukunya "Ingin Kukencingi Mulut Monalisa yang Sedang Tersenyum". Berduet dengan senior yang kadang diajak berdiskusi mengenai cerpen, yaitu Kak Anis Kurniawan.

Sebenarnya saya tertarik dengan kecantikan-kecantikan goresan penanya. Kecintaannya pada literasi. Keindahan kata-kata pada puisinya. Begitu membuat saya kagum. Saya menganggapnya karyanya "the beauty".

Saat rombongan kak Andika ke rumah, tepatnya ke rumah tetangga kami. Saya mengatakan ke rumah karena  seatap dengan tetangga. Rumah kami hanya di pisahkan oleh dinding kayu.

Saat itu saya bingung mau memberikan apa. Ingin memberikan cendera mata atau sekedar buah tangan. Tapi tidak memiliki apa pun selain keinginan hendak memberi. 

Ia bercerita dengan semangat bahwa ia diberi tongkat kayu ulas. Suami saya menanggapi bahwa ia juga memiliki kayu seperti itu. Sebelum meninggalkan tempat kami, suami saya menghadiahinya tongkat kayu gading. Jadilah tongkatnya sepasang.

Setelah ia berlalu, saya kerap mengintip karya-karyanya. Kehidupan yang sederhana tidak menyurutkan langkahnya untuk mencari inspirasi bahan tulisan. Tulisan kritisnya kadang membuat saya tersinggung. Tidak jarang memantik semangat saya untuk menulis.

Tulisan saya layaknya disebut "the beast". Semoga suatu hari the beast bisa bersanding dengan the beauty.


Bapakku Pahlawan di Dadaku


Karya: Enawati

Langkahmu merantau
Merayau di hutan-hutan masih berpayau
Di jalan berliku yang tak kau tahu tanpa ragu
Demi cemara di musim kemarau
Doamu melangit melejit di surau
Sebelum kau tinggal bumi pertiwi mengigau
Kau tak kunjung pulang dari rantau
Tersedu sedan ia merayau
Memanggil-manggil namamu

Separuh usiamu mengabdi pada cemara yang kau retas

Hingga renta memupuk cemara yang subur kau tanam tanpa pias
 di rinai hujan yang menetes

Hingga akhir hayat
tak kau lihat cemaramu mekar di tengah gersang kehidupan melarat
Aku bibit yang kau semai selalu rindu belaianmu dengan lekat
Terluka mengenang memoar yang belum terangkai terlihat pekat
dalam tangkai cemara yang mengerucut
Belum sempat mempersembahkan  benih cemara baru dari benihmu yang bersemat
Dukaku tersayat setiap memandang cemara yang kini tumbuh melangit
Yang Kau tanam dengan berpeluh-peluh keringat

Di saat tangan kekar hingga keriput dengan kuku yang aus
Bahu kekar menjadi ringkih masih semangat membara dengan ikhlas
Bapak, kaulah pahlawan yang menghidupi cemara di hidupmu yang keras
Walau pahlawan cemara tersemat di lahatmu, Aku anakmu takkan pernah puas
Karena aku berhutang banyak waktu dan kisah yang belum terangkai bersamamu di dalam bingkai yang belum kita toreh di kertas kenangan dengan pena kuas

Kini...
Istigfar tak pernah henti agar dosa dan bisa melapangkan kuburmu
Doa-doa tulus tak lepas di setiap sudut hembusan nafasku
Aku teramat ikhlas melepasmu pahlawan di dadaku
walau jasadmu di makamkan di tanah rantau yang sudah tak berpayau
Engkaulah tetap pahlawan di hati anakmu yang teramat bangga padamu

Sei Menggaris, 14 November 2018

Rabu, 13 Februari 2019

KASIHI SAUDARAKU DEMI KEMANUSIAAN


(Teruntuk Ibu Aung San Suu Kye)
Karya: ENAWATI

Aung San Suu Kye
Ibu yang harus mengayomi
Menganggap anak tiri bahkan tak mengakui saudaraku
Ia bangga menerima Novel perdamaian
tapi dikecam dunia karena membisu
Melihat saudaraku ditindas
Berdalih lebih mengetahui kondisi negaranya daripada yang lain
Padahal mata dunia melihat
Bukan puluhan atau ratusan yang menjadi saksi
Tapi 700 ribu orang bahkan lebih menjadi saksi
Mereka melarikan diri, disiksa, dan dibunuh
Mereka di suruh masuk ke rumah
Lalu rumah-rumah mereka di bakar
10 ribu tewas
Dibasmi bagaikan kecoa dan tikus-tikus penyebar hama penyakit
Sebegitu tak berhargakah nyawa yang idak seiman?
Tidak seetnis atau tidak sesuku?


Anak-anak, Ibu, dan perempuan
Yang harusnya dilindungi sebaliknya dianiaya
Gadis pemalu yang menjaga kesucian dan kehormatan dinodai
Dijadikan pemuas nafsu iblis militer Tatmadaw
Junta militer terkejam di dunia
Mereka...
melakukan kekejaman perang
Melakukan kejahatan kemanusiaan
Bahkan melakukan genosida
Yang di kutuk dunia

Suu Kye...
Meski seluruh rakyat membelamu itu tidak akan cukup
Seluruh dunia mengecammu
Mahathir Muhammad dari Malaysia
Memintamu mengakui kewarganegaraan Rohingya
Malala gadis belia penerima novel setelahmu turut mengecammu
Wapres AS mencecarmu melakukan kekerasan dan persekusi yang tidak bisa dimaafkan
Canada mencabut kewarganegaraan terhormatmu
Amnesty International mencabut penghargaan Duta Besar Hati Nurani
Bagaimana mungkin kau meyandang itu

sedangkan nuranimu tidak bergerak ketika Rohingya di bunuh jiwanya
Indonesia meminta agar kekerasan segera dihentikan

Oh...Aung San Suu kye
Bukalah mata dan hatimu
Bukankah kau juga pernah menjadi tahanan rumah selam 15 tahun?
Tidakkah itu menjadi pelajaran berharga?
Kau tidak bebas melakukan dan m3lanhkah kemana pun kau mau
Tapi mengapa hal itu kau semai
Ke anak yang tidak kau akui
Kau hilangkan hak dasar mereka untuk mendapatkan pendidikan
Kau hilangkan hak azasi mereka untuk mendapatkan kewarganegaraan
Kau hilangkan hak mereka untuk melangkah dan mendapatkan pekerjaan yang layak
Mana hati nuranimu Aung San Suu Kye...?

Suu kye sayang
Lakukanlah...
Perbaikilah...
Buktikanlah...
Rangkullah anak-anakmu kembali

Saudaraku menantikan uluran kasih dari nuranimu
Berjuta mereka tersebar di Banglades kamp cox's
Di Indonesia, Malaysia, dan Thailand
Hingga dunia menjuluki mereka 'orang perahu'

Suu kye cintaku...
Panggillah mereka kembali
Berikan hak mereka
Buatlah dunia kembali memberimu rangkaian bunga semerbak
Masih ada waktu
Masih ada kesempatan
Untuk memperbaiki semuanya
Penuhilah 88 permintaan Kofi Annan sebelum wafatnya
Melalui Dewan PBB, bukankah kau juga yang memintanya menjadi ketua tim?
Buatlah ia tersenyum di alam sana

Jika kau tak mau menolong karena etnis
Sebab agama dan perbedaan
Rangkullah mereka karena rasa kemanusiaanmu!

Sei Menggaris, 7 Desember 2018

Kamis, 07 Februari 2019

SERPIHAN KEKACA DI TAPAL BATAS

Karya : ENAWATI

Menyisir rambut setengah basah sambil berkaca
A
Mendengar sesayup suara bass anak yang mulai akil balig
Suara memelas hampir tak terdengar
Meminta restu mencari uang ringgit di tengah hidup yang himpit
Suara ia naikkan setengah oktaf
Tak punya sekolah bisa kerja
Dengan sekolah pun tak dapat duit

Mata sayu menoleh ke kaca
Kita bebas di negeri ini anakku
Tak ada pengikat duli tuanku
Tak ada rasa takut saat cekking
Tak ada kelimpuyungan mencari tempat bersembunyi saat polis menggerebek
Tak ada siluet ketakutan di wajah saat membeli belah di tanjung
Tak ada rasa was-was saat menikmati teh tarik dan sedapnya martabak di restoran

Jemari kaku dengan kuku-kuku rusak karena sabun cuci
Menyapu bedak di wajah yang berkerut
Anakku tidakkah kau melihat
Anak terpisah dari orang tuanya
Kakak tak berjumpa adiknya
Kakek tak mengenali cucunya
Dan sanak tak terangkai dengan saudaranya
Sekali kau melangkah di tapal batas sulit kau kembali 
Inginkah kau seperti mereka yang terpisah dengan orang yang terkasih?

Anak akil balig kurang berakal ikut berkaca
Apa yang harus ku banggakan di sini?
Hasil taniku dibawa jauh dari tapal batas
Dijual dengan harga murah
Dan kemudian kerabatku membeli dengan harga mahal
Di sini, pangan negeri tak komplit
Konon penghasil beras terbanyak
Tapi beras yang dikonsumsi beras nasional Malaysia
Apalagi yang harus ku senangi?
Saat bertamu ke sana
Kudisambut di kastam diraja Malaysia
Dengan bengis tanpa senyum manis
Padahal mereka saudaraku sesuku yang hanya berubah menjadi orang tempatan Malaysia

Dengan tangan gemulai merangkul anak akil balig sambil menatap kaca
Kita masih punya satu anakku…
Rasa cinta pada negeri kita
INDONESIA

Sei Menggaris, 25 Nopember 2016