Label

Senin, 04 Februari 2019

Palekko




Ala Bunda Ena

Berbulan-bulan, baru berhasil merealisasikannya. Nasu palekko, entah itu ayam atau bebek. Alhamdulillah, malam ini Abinya anak-anak berhasil menemukan ayam kampung. Membeli dari pak Imam masjid.

Sebelum magrib, Pak Suami mengungkapkan keinginannya. Hanya mendengar kemauannya yang menggebu sambil tersenyum. "Bisa...yang penting ada bahan," jawab saya sekenanya.


Rutinitas magrib berjalan seperti biasa. Sholat dan murajaah hapalan si Kakak dan mendengar lantunan si Abang membaca Al Quran. Si Adik tak mau kalah, mengambil mazhabnya. Ia membaca taauz dan basmala berulang kali. Melafazkan surah Al Fatihah dan Annaba' sebagian ayat yang mulai di hafalnya. Menunjuk ke lembaran Al Quran. Entah ayat apa yang di tunjuknya.

Selesai kegiatan magrib, Abi datang dengan ayam kampungnya. Ia sendiri yang membersihkan bulu dan memotong-motong ayamnya. Hanya membantue Membakar ayam agar bulu halusnya hilang.

Lima menit setelah azan Isya berkumandang. Abi selesai mengerjakan ayamnya. Sisanya saya yang menyelesaikan. Abi bergegas ke mesjid sholat berjamaah. Saya mengajak anak-anak untuk segera melaksanakan kewajiban.

Saya mulai meracik bumbu mengingat-ingat kali ini menggunakan resep palekko yang mana. Pak Suami, salah satu makanan favoritnya palekko. Sudah beberapa resep palekko juga di pelajari dan praktikkan.

Nasu palekko merupakan salah satu masakan tradisional orang Bugis Sulawesi Selatan. Menurut cerita nasu palekko adalah menu andalan petani saat musim peralihan. Mereka beralih pekerjaan menjadi peternak bebek untuk sementara. Selama menantikan musim tanam berikutnya. Sawah mereka jadikan kandang untuk beternak.

Di saat beternak itulah mereka sering memotong bebek untuk di jadikan lauk. Karena bumbu di sawah terbatas mereka mengolah bebek menjadi nasu palekko. Karena proses dan bahan nasu palekko yang sangat simpel. Hanya dengan bahan bawang merah, bawang putih, cabai rawit dan serai. Tanpa minyak pun bisa jadi, mereka membuat minyak dari kulit bebeknya.

Setelah kulit bebeknya mengelurkan minyak barulah bumbu yang telah dihaluskan di masukkan, setelah bumbu berbau harum kemudian bebek yang sudah dipotong kecil dimasukkan, diberi air lalu ditutup. Sisa menunggu bebeknya matang.

Menikmati nasu palekko di persawahan dengan nasi hangat membuat penikmatnya berkeringat. Angin sepoi-sepoi dengan aroma khas tanah persawahan menambah nikmat santapan. Nikmat yang tidak bisa tergantikan.

Demikianlah cerita mengenai nasu palekko yang pernah saya dengar dan lihat langsung di Desa Patommo, Pinrang saat kuliah. Kakak saya berjodoh dengan orang di sana. Pernah sekali saat libur kuliah bertepatan dengan musim peralihan tersebut. Saya menikmati dan melihat langsung prosesnya.

MasyaAllah...membayangkannya saja saya jadi lupa pembahasan kita kali ini. Baiklah kita lanjut dengan palekko adaptasinya.

Menu ini sebenarnya mirip rica-rica. Akan tetapi lebih simpel dalam meramunya. Tiap daerah atau keluarga juga berbeda dalam pengolahannya. Sebut saja seorang koki yang dianggap jago di sini, Hamsah namanya. Oleh Abi pernah di minta bantuannya meracik ayam kampung kami. Ia menggunakan bumbu komplit, bawang merah, putih, merica, lengkuas, serai, jahe, kunyit mentah, cabai rawit dan saos.

Berbeda lagi Mama Wantis Bugis Bone, orang tua siswa di tempat kami mengajar. Mamanya juga menggunakan bumbu komplit. Bedanya bumbu tersebut di remas lagi dengan air asam. Cara ini sudah diaplikasikan juga beberapa kali. Uniknya dari pengolahan yaitu ia meletakkan banyak air pada nasu palekkonya. Kuahnya bisa dijadikan semacam kuah sayur saat menyantap bersama nasi.

Nasu palekko yang sering saya aplikasikan adalah nasu palekko resep mama Heru. Olahan dan bumbunya mirip resep kakak ipar saya. Kemungkinannya karena mereka dari satu kabupaten, yaitu Pinrang.

Jika tertarik mencoba nasu palekko berikut resepnya:

Bahan:

πŸ¦ƒ 1 ekor Ayam kampung
πŸ¦ƒ 12 siung bawang merah
πŸ¦ƒ 8 siung bawang putih
πŸ¦ƒ 20 biji cabai rawit (sesuai selera)
πŸ¦ƒ 5 batang serai
πŸ¦ƒ 1/4 sdm kunyit bubuk
πŸ¦ƒ 1 sdm garam (sesuai selera)
πŸ¦ƒ 5 sdm minyak
πŸ¦ƒ 1 sdm gula pasir (opsional/ sesuai seler)
πŸ¦ƒ penyedap rasa (opsional/ sesuai selera)
πŸ¦ƒ 400 ml air

Cara membuat:

1. Bersihkan ayam lalu bakar untuk menghilangkan bulu halus. Potong kecil-kecil dan cuci bersih.
2. Kupas bawang merah, putih serai, cabai tanggalkan tangkainya. Lalu haluskan bumbu tersebut.
3. Masukkan minyak ke dalam wajan tunggu panas lalu tumis bumbu masukkan kunyit bubuknya dan tumis hingga harum.
4. Masukkan ayam, air, garam, gula, penyedap rasa lalu tutup wajan. Sekali-kali ayamnya diaduk. Tunggu sekitar 20 menit / sesuai  kondisi daging ayam, semakin keras semakin lama di masak.
5. Sajikan nasu Palekko bersama nasi hangat.

πŸ’žSelamat MencobaπŸ’ž

Tidak ada komentar:

Posting Komentar