Kebiasaan si Kakak sepulang sekolah adalah curhat. Semenjak saya tidak ke sekolah dia kerap melakukannya. Berganti pakaian atau duduk di samping saya sambil bercerita.
Bukan hanya pulang sekolah dari bermain pun rutinitas itu sering di lakukannya. Terkadang sambil matanya berbinar. Kadang pula sambil ekpresi menitikkan air mata.
Kadang saya koreksi karena banyaknya pengulangan kata "lepas tu kan Bunda" atau "baru itu". Jika saya mengintrupsinya...dia meminta agar saya memberikan contoh tanpa menggunakan kata-kata yang saya maksud.
Selesai menceritakan kembali kami pun tertawa terbahak. "Iya kan... Bunda memang pandai" ucapnya sambil tertawa riang.
Suatu sore sepulang bermain. Ia bercerita pengalamannya ketika bermain bersama adiknya. "Syah kan Bunda pandainya...dia kalahkan aku main engke'-engke'. Masa' kan tiga sudah rumahnya, aku belum ada. Jagonya dia Bunda. Padahal baru tadi dia belajar. Dia jago melempar kobat. Aku sering keluar atau terkena garis kalau melempar kobat."
Demikianlah dia bercerita panjang lebar tanpa jeda. Banyak cerita yang harusnya saya rekam dan jadikan cerita, tapi tidak dilakukan. Lupa... Padahal momen-momen seperti ini mungkin tidak akan terulang kembali.
Pernah sekali saya meminta dia untuk menulisnya. Lumayanlah anak umur 7 tahun bisa menuliskan seperti itu.
Saya membayangkan waktu masih kecil seperti Kakak Kiya, saya seperti apa ya bersama Mama. Yang kuat di memori, saya sakit hati saat di tinggal pergi oleh Mama.
Saya pernah di titip tinggal bersama tante beberapa minggu. Saya juga pernah tinggal bersama kakak dalam waktu yang sangat lama. Sewaktu melanjutkan pendidikan SMP sampai perguruan tinggi tidak pernah tinggal bersama Mama.
Saya tidak mengingat bahwa pernah curhat dengan Mama. Anehnya karena saya anak bungsu. Biasanya anak terakhir akan manja dan lengket dengan Mamanya.
Setelah menikah barulah Mama kebanyakan tinggal bersama saya. Usianya kini sudah lebih 60 tahun. Selalu berniat untuk mengabdi. Tapi kenyataanya Mamalah yang banyak membantu.
Selalu menginginkan kebaikan buat Mama. Tapi kenyataannya kadang mama jadi tersinggung. Beruntung jika mama marah hanya sebentar.
Tidak ada ucapan selamat hari Ibu untuk mama karena saya tidak menyakini itu. Semoga bisa selalu berbakti. Semoga bisa menjadi Bunda sholeha bagi anak dan suami.
Sei Menggaris, 22 Desember 2018

Tidak ada komentar:
Posting Komentar