By: Bunda Ena
Hari Ahad yang di nanti oleh anak-anak. Meski di tempat kami sulit menemukan tempat rekresi. Teman-teman di sini tidak kehilangan akal, mereka mencari dan membuat tempat rekreasi sendiri. Walau pun hanya di pinggir sungai yang tidak bisa dipakai berenang itu sudah cukup.
Kami lima keluarga dan beberapa yang masih bujang ke pangkalan 3. Pangkalan 3 adalah tempat bersandarnya kapal, speed atau perahu menaik dan turunkan orang dan barang dari luar/kota. Kami ke sana ceritanya ingin berekreasi, sambil makan-makan dan bakar ikan.
Beberapa bulan lamanya saya sangat jarang ke luar rumah. Karena ngidam saya hanya bisa beraktifitas di rumah. Sudah beberapa kali tetangga mengajak jalan-jalan ke pangkalan 3. Setiap hari libur di sanalah tempat refreshing mereka.
Di sana terdapat pondok yang beratap daun kelapa sawit yang dibuat berjerami. Di dekat sungai jalur kendaraan laut keluar masuk. Di sekelilingnya pohon kelapa sawit. Tempat ini juga merupakan salah satu tempat favorit pemancing.
Tempatnya memang alami. Udara masih segar. Sangat berbeda dengan di kompleks perumahan yang kami tempati. Jaraknya yang hanya beberapa meter dari pabrik pengolahan kelapa sawit. Hal ini membuat udara terkontaminasi dengan polusi. Lain lagi ketika bau dari minyak kelapa sawit yang berbau aneh.
Sampai di sana kami sekeluarga membentangkan tikar lalu duduk. Bapak-bapak menyalakan api untuk membakar ikan. Salah satu tetangga menggantung hammok/ayunannya. Anak-anak bermain-main. Ada yang juga memegang gawai. Anak saya ingin melakukan hal yang sama. Segera saya mengeluarkan buku-buku. Lalu memintanya membaca.
Setelah ikan dan udang matang semua berkumpul dan menyantapnya. Terasa nikmat, meski lauk yang sama di rumah. Situasi yang berbeda membuat kenikmatannya berbeda. Selesai makan, tetangga berencan Pulang. Saya ingin tetap tinggal menikmati udara yang membuat saya agak baikan.
Setelah tetangga pulang tinggallah saya dan keluarga. Kami bercerita apa saja. Situasi ini, membuat saya semangat bercerita. Saya bercerita sewaktu kecil. Putri sulung saya sangat antusias mendengarnya.
Waktu sholat Dzuhur tiba. Suami dan putra saya kembali ke komplek perumahan untuk sholat berjamaah di mesjid. Mama dan putri saya yang ketiga pulang bersama rombongan tetangga. Setelah selesai sholat, putri saya meminta agar melanjutkan cerita. Ia sangat penasaran "lagi bunda...lagi bunda...ceritakan lagi..!" Rengeknya. Entah sudah berapa episode yang telah selesai saya ceritakan.
Saya akhirnya memulai lagi...
Banyak cerita gembira dan duka kala masih kecil. Memori yang tak bisa kuhapus dengan kenangan masa kini. Tahun 90-an tepatnya, masa ketika umurku masih sekitar 10 tahun. Ketika itu masih bersekolah di negeri jiran tepatnya Tawau Sabah Malaysia.
Masih jelas diingatan ketika itu Abang semata wayang lelaki sangat mahir membuat layang-layang besar, di sana di sebut Wau. Kerap kali aku memanjat tangki. Tangki model lama masih menggunakan besi berbentuk segi empat. Setelah berada di atas tangki lalu memanjat lagi ke atas seng atap rumah.
Bermain layangan bersama Abang merupakan memori terindah. Menarik-narik tali layangan memiliki sensasi tersendiri. Mata fokus menatap layang yang terbang mengangkasa. Sesekali burung terlihat. Ingin rasanya terbang bersama layang menikmati indahnya alam di udara.
Lain lagi ketika Abang pergi memancing. Aku sembunyi-sembunyi ikut dengannya. Kami menaiki sampan kecil yang hanya memuat 2 orang. Sesekali Abang menebar pukatnya. Jika ada ikan yang nyangkut Akulah yang bertugas melepasnya. Asyik, hingga lupa kami semakin jauh.
Tangkapan kami cukup banyak, berbagai jenis ikan. Ikan Belana, kuaci, beberapa lainnya tak kuketahui dengan jelas namanya. Matahari semakin condong ke barat dan air sudah mulai pasang. kami memutuskan untuk pulang.
Saat perjalanan pulang, sampan sering di ketepikan. Kini abang mengajakku untuk mencari kerang di lumpur yang tidak digenangi air. Jika ada lubang kecil dan terlihat uap-uap udara kemungkinan di dalamnya kerang. Cara mengambilnya cukup memasukkan jari telunjuk dan tengah.
Awalnya kakiku geli menginjak lumpur. Tekturnya yang lembek dan membuat kaki berubah hitam. Karena berhasil menemukan beberapa kerang aku semakin bersemangat. Tidak peduli lagi pada seluruh tubuhku penuh lumpur. Kadang aku berlari kecil dan terseok-seok disaat kaki terlalu masuk ke dalam lumpur. Aku berusaha lebih gesit, tak mau kalah cepat dari Abang mememukan kerang.
Abang menaikkan tangannya yang berlumpur. Memperlihatkan kerang besar yang ia temukan. Aku tertawa bahagia melihatnya. Tak jarang melempar lumpur ke arahnya karena cemburu ia menemukan kerang yang banyak dan besar.
Karena hari sudah semakin sore abang mengajakku menaiki sampan. Aku melihat ada gelembung besar di dekat air sungai. Saat berlari aku terpeleset masuk ke sungai yang dalam. Panik tidak tau harus berbuat apa. Aku berusaha memanggil Abang. Ia hanya tertawa melihat tingkahku. Di kiranya aku bergurau. Melihat yang tersisa hanya rambutku Abang berlari ke arahku. Ia menarik rambutku dan menaikkan tubuhku. Aku hampir tenggelam, aku memang tak pandai berenang.
Aku marah bukan karena terlambat di tolong. Tapi karena Abang menarik rambutku. Kenapa bukan tangan atau badan saja. Di dalam air seluruh badan akan licin, sulit di tarik. Hanya rambut yang bisa di tarik cepat karena teksturnya yang keset ketika berada di dalam air. Entah dari mana abang menemukan dan mempelajari teori itu.
Dalam perjalan pulang Abang mewanti-wanti agar tidak menceritakan kejadian itu. Termasuk pada bapak dan mama. Jika hal itu terjadi ia akan kena marah. Dan Aku tidak akan pernah ikut dengannya lagi ke sungai.
Beruntung tiba di rumah Bapak dan mama belum berada di rumah. Tangkapan kami lumayan setengah ember. Abang memintaku membersihkan diri secepatnya. Tepatnya sebelum Bapak dan Mama datang aku harus sudah selesai membersihkan diri.
Mama tiba di rumah pukul 5.10 menit. Tanpa diberitahu pun Mama tahu kalau aku ikut ke sungai. Tangan dan kakiku yang hitam berkeriput, mataku merah. "Lain kali tidak usah ikutkan adikmu Syam!" Padahal Aku masih sangat ingin ikut. Sekalian belajar berenang, biar tidak tenggelam.
Dengan antusias putri saya bertanya "kenapa pakcik Sam melarang Bunda cerita sama Bapak tua dan Opa". Saya menjelaskan bahwa Abang takut di marahi. Kami pergi tidak minta izin. Jadinya takut kejadian di sungai di ketahui.
Hingga kini cerita itu saya simpan hanya di dalam memori tanpa menceritakannya kepada siapa pun. Baru hari ini kisah itu terkenang kembali. Kenangan masa kecil yang membangkitkan rindu pada Abang yang mirip dengan Bapak. Tidak lupa saya berpesan bahwa putri saya harus akur dengan saudara-saudaranya. Kita tidak akan hidup bersama selamanya. Setelah besar akan berpisah dan di saat itu akan sangat saling merindukan. Dan jangan lupa minta izin jika ingin ke luar rumah. Pesan yang tidak kalah penting juga adalah pintarlah menjaga rahasia.
Sei menggaris, 2 Desember 2018


Saya share ya bun... suka deh, sama ceritanya
BalasHapusIya... Silakan, terima kasih😘
BalasHapus