Label

Sabtu, 20 April 2019

Catatan Buah Hati 7 Bunda Juga Manusia

Oleh: Bunda Ena

Kodrat manusia pernah melakukan salah. Sebaik, sesholeh atau sholeha apapun, sebagai insan pasti pernah melakukan kesalahan dan dosa. Nabi dan Rasul saja yang dijaga hatinya oleh Allah pernah melakukan kesalahan.

Meski tidak bisa mengambil alasan untuk berbuat kesalahan yang sama secara terus menerus karena beralasan dia manusia. Sebaiknya dari sebuah kesalahan hendaklah belajar dari kejadian tersebut.

Pernahkah diantara kita melakukan kesalahan pada buah hati? Saya pikir semuanya pernah. Demikian juga  saya. Insiden itu akhirnya membuat saya tersedu sedan dan menyesal melakukan hal demikian.

Waktu itu usia KK sekitar lima  tahun. Entah apa yang membuat saya melakukan hal demikian. Ingatan saya pendek ketika hal negatif yang terjadi. Bukan hanya pada putra putri saya. Ketika saya dan paksu ngambek-ngambekan saya juga cepat melupakan apa akar masalahnya.

Sering kali jika sudah berbaikan paksu tanya apa yang membuat saya ngambek sedemikian rupa. Saya pun melongo. Bertanya sendiri dalam hati, apa ya? Qodarullah, lupa. Ada manfaat juga ternyata orang pelupa, tidak dendam.

(Hadeehhh...tadi mau cerita buah hati. Ai, malah  jadi cerita paksu. Kita kembali fokus.)

Saat itu saya mencubit paha si KK hingga memar. Keesokan hari, saat memandikannya baru saya melihat. Benar-benar menyesal dengan perbuatan saya. Padahal anak saya masih sangat kecil. Tentu, apa pun alasan saya mencubitnya tidak akan diterima.

Saya membawa KK ke sekolah. Di lab yang sunyi hanya kami berdua. Saya mendudukkannya di meja sedangkan saya di kursi. Mulai mengajaknya bicara dari hati ke hati.

Saya minta maaf padanya. Air mata tidak dapat terbendung. Tersedu sedan di depan bocah cerminan diri. Memeluk erat tubuh mungilnya. Ia membalas, juga ikut menangis.

Jika orang melihat, mungkin akan mengatakan saya lebay. Mungkin pembaca juga akan mengatakan saya lebay.

Ibu normal mana pun pasti pernah merasakan marah tak terkontrol. Setelah  marah dan menimbulkan efek barulah menyesal melakukan hal demikian.

Sebelum hal itu terjadi maka kita sebagai seorang Ibu hendaklah senantiasa beristigfar. Menata hati kita agar tidak dikuasai oleh amarah yang disebabkan oleh rayuan syaitan. Hingga menimbulkan efek yang menimbulkan penyesalan.

Setelah tangis kami reda. Saya mengingatkan ia, agar jika saya marah sebaiknya ia meninggalkan saya. Entah itu solusi terbaik atau bukan. Yang jelas saya menjaga kejadian seperti itu tidak terulang lagi. Saya berjanji juga padanya dan diri saya sendiri agar tidak akan melukai fisiknya lagi.

Hingga kini, diusianya delapan tahun ia masih mengingat kejadian itu.

"Bunda pernah kan dulu Minta maaf sama aku sambil menangis. Kita sama-sama menangis di sekolah. Hanya kita berdua."

Maa syaa Allah, dia mengingatnya. Bersyukur yang dia ingat bukan pada saat saya melukainya.😭😭😭

Coba kita pandangi wajah anak kita saat terlelap. Betapa ia membutuhkan kita mengasihinya. Seaktif, seusil, sebesar apa pun ia membuat kita sibuk dan capek, ia tetap darah daging kita yang butuh kasih sayang.

Para bunda, ibu, moms, ummi, mari jadikan cerita ini sebagai pelajaran. Mari kita ambil ibrah dari kejadian ini.

Sei Menggaris, 29 Maret 2019

Tidak ada komentar:

Posting Komentar