Oleh: Bunda Ena
Kemarin, sepulang sekolah kami sekeluarga makan bersama. Seperti biasa KK menceritakan apa yang dialaminya di sekolah.
Wali kelasnya berhalangan. Ia digantikan oleh guru lain. Alhamdulillah, katanya ia dapat 100 lagi.
"Fabel itu dongeng dunia binatang kan, Bunda?"
"Iya, fabel itu dongeng yang menceritakan mengenai binatang, seolah-olah binatang berlaku seperti manusia. Hewan bisa bicara seperti manusia. Padahal di dunia nyata hewan kan, tidak bisa bicara."
"Dongeng itu cerita bohong." Ucap Abi memotong pembicaraan kami.
"Abi... Bukan bohong tapi tidak benar-benar terjadi."
"Iya samalah saja tuh... Terjadi betulankah KK?" tanya Abi untuk mendapatkan pembenaran.
KK hanya menggeleng. Membenarkan ucapan Abinya.
"Iya Abi... Tau, tapi ketika mengajar usahakan menggunakan kata-kata yang baik dan berkonotasi positif. Kalau bohong itu termasuk kata yang berkonotasi negatif, jadi harus dihindari penggunaanya. Yang tepatnya adalah, tidak benar terjadi." jelas saya panjang lebar.
"Begitu juga di bilang bu guruku, Bunda."
"Apa itu nak?"
"Cerita yang tidak benar terjadi bukan cerita bohong."
Abi memang selalu mengingatkan agar menghindari mendongeng pada buah hatinya. Dia lebih menyarankan agar menceritakan kisah-kisah teladan. kisah yang benar terjadi, seperti kisah Rasulullah, nabi-nabi, atau para sahabat.
Baginya mengapa harus cerita bohong yang disuguhkan pada anak. Padahal banyak cerita benar terjadi dan dapat dipetik pelajaran darinya.
Saran itu saya lakukan. Sejak kecil ketika KK masih tidur bersama kami, selalu saya ceritakan kisah-kisah nyata. Kisah nyata tersebut kemudian saya ramu di dalamnya terdapat doa-doa atau surah pendek. Saat saya membacakan doa-doa atau surah pendek tesebut ia akan ikut melafazkannya.
Cerita KK tidak hanya sampai di situ. Ia bercerita sahabatnya Ilmi pernah di bawa jalan oleh wali kelasnya. Ia kemudian di suruh mengarang. Mereka disuruh menceritakan ular, mesjid, pohon kelapa sawit, ruko, dan sekolah.
Suatu metode pembelajaran menulis yang menurut saya sangat brilliant. Mengajak anak jalan, menikmati pemandangan di luar kelas. Kemudian meminta anak agar menulis apa yang baru saja mereka alami.
"Tapi kan, Bunda Ilmi hanya menulis nomor satu ular, nomor dua mesjid, sampai nomor limaka tu dia tulis. Bukanlah mengarang. Hahaha" ulasnya diakhiri dengan tawa.
"Bakat dan kemampuan tiap orang berbeda, ada yang bisa mengarang, tapi tidak terlalu bisa berhitung atau sebaliknya."
"Iya Bunda, ada juga temannya Ilmi laki-laki bisa mengarang, tapi sedikit saja. Dulu aku disuruh mengarang satu halaman lebih kutulis."
"Alhamdulillah kalau anaknya Bunda bisa mengarang. KK kan, memang sudah kelas dua jadinya tulisannya lebih panjang. Mereka baru kelas satu. Iya kan...?"
"Iya."Jawabnya sambil tersenyum.
Selesai makan siang bersama, karena merasa keletihan mereka saya tinggal. Dan meminta KK dan Abang Syah merapikan tempat makan. Mereka melakukannya dengan baik. Alhamdulillah mereka akur lagi.
Baju batik yang di gunakan KK terpercik makanan. Ia berinisiatif mencuci sendiri bajunya. Dengan percaya diri mengatakan jika ia telah bisa mencucinya sendiri tanpa menggunakan mesin cuci. Rupanya ia berkolaborasi dengan adiknya. Senang melihat mereka rukun. Tak jarang mereka juga berdebat berujung tangis. Atau bergantian saling melapor.
Senang melihat kalian nak... Tetaplah rukun selalu๐๐๐

Tidak ada komentar:
Posting Komentar