By: Bunda Ena
Belum usai lomba KK sudah menyampaikan niatnya ingin berkompetisi. Ia sangat berminat ikut lomba baca puisi pada ajang Festival Lomba Literasi Sekolah Nasional (FL2SN) tahun 2019.
Dapat info dari teman literasi di grup WA. Saya menceritakan ini pada KK. Setiap hari ia menanyakan hal tersebut meski saya sudah menjelaskan bahwa DLnya sudah lewat.
Untuk tingkat SMP ada perpanjangan hingga tanggal 30 April. Sedangkan untuk SD belum tahu informasinya.
Ia sudah semangat berlatih. Puisi "Surat Dari Ibu" karya Asrul Sani berulang di bacanya. Ia juga meminta agar puisi wajib dari panitia tersebut diketik. Tapi karena kesibukan saya tidak sempat mengetikkannya.
Ia berinisiatif mengetik sendiri. Laptop Abi diambilnya.
"Bunda Ajari Aku saja,biar kuketik sendiri."
"Dimana harus ku ketik?" lanjutnya beberapa menit kemudian setelah berhasil membuka laptop.
Aku menjelaskan agar membuka folder dan mencari folder atas namanya di sana. Setelah ia melihat namanya ia bertanya lagi tempat mengetiknya.
Kujelaskan agar ia mengklik kanan, mencari tulisan "new" lalu mencari aplikasi microsoft windows. Setelah menemukannya klik cepat dua kali.
Lama ia bungkam, lalu bertanya lagi langkah selanjutnya. Kujelaskan setelah muncul foldernya tulislah namanya, contohnya "puisi Asrul Sani" lalu enter. Bukalah folder itu dengan mengklik cepat dua kali.
"Berhasil Bunda!"
Ia mengetik sekitar 5 menit lalu azan Dzuhur. Saya menyuruhnya berhenti dan sholat Dzuhur terlebih dahulu. Setelah sholat ia melanjutkannya. Satu halaman puisi hampir 20 menit ia mengetiknya.
Disaat mengetik tidak banyak yang ia tanyakan. Hanya menanyakan cara mengetengahkan tulisan. Memang ia kadang latihan mengetik ketika diizinkan menggunakan laptop.
Setelah selesai, ia bertanya lagi cara mengeprint. Saya menjelaskan, colok sambungan print ke laptop dan listrik, lalu nyalakan tombol power pada print. Tekan "control + p" secara bersamaan lalu tekan enter. Rupanya ia tidak berhasil.
Saya lalu mendekat melihat apa kendalanya. Oh... Ternyata ia belum memilih jenis print yang ready. Beberapa menit kemudian print berbunyi dan mengeluarkan tulisan pada 2 lembar kertas.
"Berhasil Bunda. Jadi Aku klip kertasnya?"
"Tidak perlu. Bunda editkan saja jadi satu kertas."
Tidak lama berselang keluar kertas dari print dengan tulisan yang sama tapi hanya menggunakan satu kertas.
"Bagaimana Bunda bisa satukan hanya jadi satu kertas saja?"
"Bunda edit ukuran tulisan pada judulnya. Lihat... Tadi ukuran tulisannya 38, Bunda ubah menjadi 18. Jarak dari bait atau tulisan yang ada jarak ini terlalu jauh. KK mengenternya dua kali ya?"
"Iya." Sambil tersenyum.
Matanya berbinar setelah berhasil mengetik naskah puisinya sendiri.
Saat ini, ia selalu bertanya lagi kapan divideokan. Sudah ada kabar kapan terakhir pengumpulan puisinya. Dengan penuh antusias. Saya hanya bisa mengingatkan jika waktu pengumpulannya sudah lewat agar tidak kecewa.
"Jadi Bunda kalau Aku lulus, pakai duit siapalah beli tiket?"
"Aku nanti berpuisi di depan presiden, kan Bunda"
Demikianlah tuturnya di sela-sela latihan.
Ia bercerita ke adiknya, AS bahwa ia akan ke Jakarta ikut lomba puisi.
Aduh nak, belum apa-apa juga anganmu sudah melambung ke angkasa. Bunda hanya bisa mengaamiinkan di dalam hati saat mendengarmu bercerita.😊😘🤗
Sei Menggaris, 4 April 2019
Tidak ada komentar:
Posting Komentar