Label

Senin, 29 April 2019

Catatan Buah Hati 11 "Surat dari Ibu" Membuatnya Belajar Mengetik

By: Bunda Ena

Belum usai lomba KK sudah menyampaikan niatnya ingin berkompetisi. Ia sangat berminat ikut lomba baca puisi pada ajang Festival Lomba Literasi Sekolah Nasional (FL2SN) tahun 2019.

Dapat info dari teman literasi di grup WA. Saya menceritakan ini pada KK. Setiap hari ia menanyakan hal tersebut meski saya sudah menjelaskan bahwa DLnya sudah lewat.

Untuk tingkat SMP ada perpanjangan hingga tanggal 30 April. Sedangkan untuk SD belum tahu informasinya.

Ia sudah semangat berlatih. Puisi "Surat Dari Ibu" karya Asrul Sani berulang di bacanya. Ia juga meminta agar puisi wajib dari panitia tersebut diketik. Tapi karena kesibukan saya tidak sempat mengetikkannya.

Ia berinisiatif mengetik sendiri. Laptop Abi diambilnya.

"Bunda Ajari Aku saja,biar kuketik sendiri."

"Dimana harus ku ketik?" lanjutnya beberapa menit kemudian setelah berhasil membuka laptop.

Aku menjelaskan agar membuka folder dan mencari folder atas namanya di sana. Setelah ia melihat namanya ia bertanya lagi tempat mengetiknya.

Kujelaskan agar ia mengklik kanan, mencari tulisan "new" lalu mencari aplikasi microsoft windows. Setelah menemukannya klik cepat dua kali.

Lama ia bungkam, lalu bertanya lagi langkah selanjutnya. Kujelaskan setelah muncul foldernya tulislah namanya, contohnya "puisi Asrul Sani" lalu enter. Bukalah folder itu dengan mengklik cepat dua kali.

"Berhasil Bunda!"

Ia mengetik sekitar 5 menit lalu azan Dzuhur. Saya menyuruhnya berhenti dan sholat Dzuhur terlebih dahulu. Setelah sholat ia melanjutkannya. Satu halaman puisi hampir 20 menit ia mengetiknya.

Disaat mengetik tidak banyak yang ia tanyakan. Hanya menanyakan cara mengetengahkan tulisan. Memang ia kadang latihan mengetik ketika diizinkan menggunakan laptop.

Setelah selesai, ia bertanya lagi cara mengeprint. Saya menjelaskan, colok sambungan print ke laptop dan listrik, lalu nyalakan tombol power pada print. Tekan "control + p" secara bersamaan lalu tekan enter. Rupanya ia tidak berhasil.

Saya lalu mendekat melihat apa kendalanya. Oh... Ternyata ia belum memilih jenis print yang ready. Beberapa menit kemudian print berbunyi dan mengeluarkan tulisan pada 2 lembar kertas.

"Berhasil Bunda. Jadi Aku klip kertasnya?"

"Tidak perlu. Bunda editkan saja jadi satu kertas."

Tidak lama berselang keluar kertas dari print dengan tulisan yang sama tapi hanya menggunakan satu kertas.

"Bagaimana Bunda bisa satukan hanya jadi satu kertas saja?"

"Bunda edit ukuran tulisan pada judulnya. Lihat... Tadi ukuran tulisannya 38, Bunda ubah menjadi 18. Jarak dari bait atau tulisan yang ada jarak ini terlalu jauh. KK mengenternya dua kali ya?"

"Iya." Sambil tersenyum.

Matanya berbinar setelah berhasil mengetik naskah puisinya sendiri.

Saat ini, ia selalu bertanya lagi kapan divideokan. Sudah ada kabar kapan terakhir pengumpulan puisinya. Dengan penuh antusias. Saya hanya bisa mengingatkan jika waktu pengumpulannya sudah lewat agar tidak kecewa.

"Jadi Bunda kalau Aku lulus, pakai duit siapalah beli tiket?"

"Aku nanti berpuisi di depan presiden, kan Bunda"

Demikianlah tuturnya di sela-sela latihan.

Ia bercerita ke adiknya, AS bahwa ia akan ke Jakarta ikut lomba puisi.

Aduh nak, belum apa-apa juga anganmu sudah melambung ke angkasa. Bunda hanya bisa mengaamiinkan di dalam hati saat mendengarmu bercerita.πŸ˜ŠπŸ˜˜πŸ€—

Sei Menggaris, 4 April 2019

Catatan Buah Hati 10 Hasil Lomba sebagai Pembelajaran

By Bunda Ena


Hah... Rupanya saya berhutang cerita mengenai hasil lomba yang KK ikuti. Kemarin saya berjanji akan memberitahu hasil lombanya. Baiklah, saya akan penuhi perkataan tersebut. Yo', ikuti saja ceritanya.😊😁

Hari kedua pelaksanaan lomba diadakan di mesjid. Acaranya digelar sejak pukul 8 pagi. Dengan agenda lomba pidato tingkat TK, SD, dan SMP. Selain itu lomba tilawah dan tahfidz tingkat SMP dan SMA.

Penutupan dan pembagian hadiah dilaksanakan setelah sholat Dzuhur. Saya tidak mengetahui pasti jalan acaranya karena memang tidak berada di sana sewaktu acara diadakan.

Cukuplah cerita KK yang menggambarkan acaranya. Tidak banyak juga yang ia cerita pasalnya kami menghindari perayaan tersebut.

Sepulang dari mesjid KK membawa dua amplop putih. Rupanya amplop tersebut berisi hadiah atau uang pembinaan yang menjadi pemenang dalam lomba tersebut.

Alhamdulillah, KK juara III baik dalam kategori lomba hafidzah maupun tilawah. Alhamdulillah doa saya diijabah oleh Allah. Sejak mendengar akan diadakan lomba hafalan surah dan tilawah doa saya berikan hasil terbaik bagi KK. Dan juara III itulah yang terbaik baginya.

Artinya ia dituntut untuk menghafal dan memperbaiki hafalannya lagi. Sebenarnya jika dilihat memang ia telah melakukan yang terbaik. Kelas rendah hanya tiga orang yang mengikuti lomba. Satu orang dari kelas 1 SD, ia adalah sahabat KK, Ilmi.

Ingatkan dengannya? Tidak jarang saya bercerita menyebutkan namanya. Ia juga anak hebat karena tidak gentar melawan kakak kelasnya. Salut untukmu nak. Meski lomba kali ini ia tidak menyabet gelar juara. Tahun lalu ia sempat juara dikategori hafalan.

Juara pertahana yang patut diacungi jempol adalah teman sekelas KK, Diani. Sempat di cerita saya menyebutkan bahwa ada baiknya jika anak-anak ini dilejitkan potensi yang mereka miliki. Dialah orangnya. Teman sekelas KK.

Potensi mereka dibingkai dalam kolaborasi bukan persaingan. Tahun lalu ia mendapat juara satu lomba pidato mengalahkan kakak-kakaknya. Tahun ini ia mendapatkan juara satu kategori tilawah dan juara dua hapalan surah.

Sebenarnya ia juga ikut lomba pidato. Tapi tidak mendapatkan juara karena menurut informasi dari KK peserta hanya bisa mengikuti dua kategori saja.

Saya mengenal Ibunya Diani. Ia adalah seorang ibu-ibu juara. Ia mendampingi anaknya secara totalitas. Melatih anaknya dengan baik.

Ada kekhawatiran yang menyeruak di hati saya. Apakah caranya memotivasi anak bukan obsesi semata ingin menjadikan anaknya juara. Saya merasa kasihan jika demikian. Anaknya tergolong anak cerdas. Coba potensinya itu dibiarkan mengalir apa adanya.

Mengapa saya mengatakan demikian karena awalnya menurut penuturan KK temannya itu hanya mengikuti dua lomba. Lomba pidato dan hapalan. Tapi pada saat lomba ia mengikuti ketiganya.

Kasihan juga ia sudah berlatih pidato dengan giat tapi perolehan juaranya bukan di kategori itu. Dan lagi-lagi menurut KK penampilan  berpidato Dianilah yang terbaik.

Sebagai orang tua, banyak yang perlu dijadikan pelajaran dari ajang lomba semacam ini. Bukan hanya anak yang perlu belajar tapi orang tua dan pendidik juga. Hendaknya kita selalu berlapang dada mengenai perolehan juara.

Tujuan awal dari lomba bukan hanya untuk melihat siapa yang juara. Tapi lebih kepada menjadikan anak cinta Al Quran. Anak termotivasi untuk terus menghapalkan dan mengamalkan isi Al Quran.

Sei Menggaris, 3 Maret 2019

#KMSaskia
#Day19
Saskia Ratry Arsiwie

Catatan buah hati 9 Hari Lomba


By: Bunda Ena

Usai sholat Dzuhur suasana perumahan yang biasa di sebut apartemen Mattirobulue sunyi. Rupanya semua berkumpul di surau kilang, perumahan NJL. Ada lomba menghapal surah dan tilawah diadakan di sana.

Lombanya diadakan selama dua hari. Tiga kategori yang diperlombakan, hapalan surah, tilawah, dan pidato. Ajangnya mulai dari TK, SD, SMP, dan Setingkat SMA.

Peserta terlihat antusias dan penuh semangat. Apalagi yang tingkat SD. Tidak terkecuali anak saya si KK. Sejak dua minggu lalu ia sudah semangat memperlancar hapalan surahnya.

Alhamdulillah penampilannya juga tidak mengecewakan. Semoga hasilnya itulah yang terbaik baginya nanti.

Terlihat ada beberapa peserta yang mengatakan pas ketika menyambung ayat. Alhamdulillah, menyambung ayat dan membaca surah tidak ada yang terlewatkan oleh KK.

Ketika tilawah juga makhrajul huruf dan tajwidnya alhamdulillah cukup bagus. Ternyata meski pun hanya membaca ayat yang dipilih langsung oleh peserta sendiri. Masih banyak juga peserta yang salah dari segi mad dan pengucapan tajwidnya.

Ajang seperti ini baru kali pertama buat KK. Meski demikian ia dapat melewatinya dengan baik.

Sehari sebelum hari H ia memilih gamis yang akan di gunakannya. Ia memilih gamis seragam berwarna pink.

"Bunda, Opa, dan Adik Izzah (AI) pakai baju seragamnya ya. Bunda harus datang videokan Aku. Opa juga jangan ke Sebatik dulu tunggu selesai lihat Aku lomba baru keluar." Tuturnya sambil mengeluarkan baju gamis dari lemari.

Sepulang sekolah ia  memilih baju kembali. Gamis berwarna hitam bercadar hadiah sewaktu lebaran Haji. Saat ia berhasil menghapal surah An Naba', itulah menjadi pilihannya.

"Bunda, Opa nda jadi pakai baju pink dulu. Besok hari penutupan baru pakai baju itu. Aku sama Ilmi pakai gamis hitam hari ini."

Mendengar perkataan KK, Opa yang sedang meyetrika baju mengambil gamis hitamnya juga. Saya tersenyum melihatnya. Cucu dan nenek sangat kompak.

Bagaimana kalau KK pertandingan olahraga ya? Taruhlah misalnya bola, sebagai supporter Opa mungkin mengenakan kostum baju bola yang senada dengan pemainnya. πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚ Cucu dan nenek sungguh kompak.

Di saat lomba sudah di mulai saya masih di rumah. Membiarkan Abi istirahat dan makan siang dulu. Mendengar suara di surau sudah ramai AI, adik KK mencak-mencak.

"Ayolah Bunda... KK ngaji di mesjid. Tuh dengar..!" ucapnya.

Saat kami hendak berangkat terdengar suara KK. Ai... heran mendengar suara KK saya jadi deg-degan. Tapi melihat usahanya dua minggu ini, saya percaya ia dapat melaluinya dengan baik.

Ia sangat mandiri, semangat. Latihan murottal sendiri ia lakukan. Lain lagi ketika ia ke rumah wali kelasnya menghapal. Jadwalnya ia atur sendiri. Saya bahagia melihatnya.

Sekali lagi apa pun hasilnya. Ia sudah berusaha melakukan yang terbaik. Tanpa saya mengarahkan, ia mengatur sendiri jadwalnya dengan baik.

Berharap dan berdoa semangat KK menghapal tidak sampai pada saat ada lomba saja. Tapi terus berusaha menjadi hafidzah untuk lomba yang Allah adakan setiap hari. Yakni berlomba-lomba dalam melakukan kebaikan.

Nantikan cerita selanjutnya. Hasil lomba yang KK ikuti.πŸ€—πŸ€—πŸ€—

Sei Menggaris, 2 April 2019


Sabtu, 20 April 2019

Catatan Buah Hati 8 Mengarang, Dongeng, dan Fabel

Oleh: Bunda Ena

Kemarin, sepulang sekolah kami sekeluarga makan bersama. Seperti biasa KK menceritakan apa yang dialaminya di sekolah.

Wali kelasnya berhalangan. Ia digantikan oleh guru lain. Alhamdulillah, katanya ia dapat 100 lagi.

"Fabel itu dongeng dunia binatang kan, Bunda?"

"Iya, fabel itu dongeng yang menceritakan mengenai binatang, seolah-olah binatang berlaku seperti manusia. Hewan bisa bicara seperti manusia. Padahal di dunia nyata hewan kan, tidak bisa bicara."

"Dongeng itu cerita bohong." Ucap Abi memotong pembicaraan kami.

"Abi... Bukan bohong tapi tidak benar-benar terjadi."

"Iya samalah saja tuh... Terjadi betulankah KK?" tanya Abi untuk mendapatkan pembenaran.

KK hanya menggeleng. Membenarkan ucapan Abinya.

"Iya Abi... Tau, tapi ketika mengajar usahakan menggunakan kata-kata yang baik dan berkonotasi positif. Kalau bohong itu termasuk kata yang berkonotasi negatif, jadi harus dihindari penggunaanya. Yang tepatnya adalah, tidak benar terjadi." jelas saya panjang lebar.

"Begitu juga di bilang bu guruku, Bunda."

"Apa itu nak?"

"Cerita yang tidak benar terjadi bukan cerita bohong."

Abi memang selalu mengingatkan agar menghindari mendongeng pada buah hatinya. Dia lebih menyarankan agar menceritakan kisah-kisah teladan.  kisah yang benar terjadi, seperti kisah Rasulullah, nabi-nabi, atau para sahabat.

Baginya mengapa harus cerita bohong yang disuguhkan pada anak. Padahal banyak cerita benar terjadi dan dapat dipetik pelajaran darinya.

Saran itu saya lakukan. Sejak kecil ketika KK masih tidur bersama kami, selalu saya ceritakan kisah-kisah nyata. Kisah nyata tersebut kemudian saya ramu di dalamnya terdapat doa-doa atau surah pendek.  Saat saya membacakan doa-doa atau surah pendek  tesebut ia akan ikut melafazkannya.

Cerita KK tidak hanya sampai di situ. Ia bercerita sahabatnya Ilmi pernah di bawa jalan oleh wali kelasnya. Ia kemudian di suruh mengarang. Mereka disuruh menceritakan ular, mesjid, pohon kelapa sawit, ruko, dan sekolah.

Suatu metode pembelajaran menulis yang menurut saya sangat brilliant. Mengajak anak jalan, menikmati pemandangan di luar kelas. Kemudian meminta anak agar menulis apa yang baru saja mereka alami.

"Tapi kan, Bunda Ilmi hanya menulis nomor satu ular, nomor dua mesjid, sampai nomor limaka tu dia tulis. Bukanlah mengarang. Hahaha" ulasnya diakhiri dengan tawa.

"Bakat dan kemampuan tiap orang berbeda, ada yang bisa mengarang, tapi tidak terlalu bisa berhitung atau sebaliknya."

"Iya Bunda, ada juga temannya Ilmi laki-laki bisa mengarang, tapi sedikit saja. Dulu aku disuruh mengarang satu halaman lebih kutulis."

"Alhamdulillah kalau anaknya Bunda bisa mengarang. KK kan, memang sudah kelas dua jadinya tulisannya lebih panjang. Mereka baru kelas satu. Iya kan...?"

"Iya."Jawabnya sambil tersenyum.

Selesai makan siang bersama, karena merasa keletihan mereka saya tinggal. Dan meminta KK dan Abang Syah merapikan tempat makan. Mereka melakukannya dengan baik. Alhamdulillah mereka akur lagi.

Baju batik yang di gunakan KK terpercik makanan. Ia berinisiatif mencuci sendiri bajunya. Dengan percaya diri mengatakan jika ia telah bisa mencucinya sendiri tanpa menggunakan mesin cuci. Rupanya ia berkolaborasi dengan adiknya. Senang melihat mereka rukun. Tak jarang mereka juga berdebat berujung tangis. Atau bergantian saling melapor.

Senang melihat kalian nak... Tetaplah rukun selalu😘😘😘

Catatan Buah Hati 7 Bunda Juga Manusia

Oleh: Bunda Ena

Kodrat manusia pernah melakukan salah. Sebaik, sesholeh atau sholeha apapun, sebagai insan pasti pernah melakukan kesalahan dan dosa. Nabi dan Rasul saja yang dijaga hatinya oleh Allah pernah melakukan kesalahan.

Meski tidak bisa mengambil alasan untuk berbuat kesalahan yang sama secara terus menerus karena beralasan dia manusia. Sebaiknya dari sebuah kesalahan hendaklah belajar dari kejadian tersebut.

Pernahkah diantara kita melakukan kesalahan pada buah hati? Saya pikir semuanya pernah. Demikian juga  saya. Insiden itu akhirnya membuat saya tersedu sedan dan menyesal melakukan hal demikian.

Waktu itu usia KK sekitar lima  tahun. Entah apa yang membuat saya melakukan hal demikian. Ingatan saya pendek ketika hal negatif yang terjadi. Bukan hanya pada putra putri saya. Ketika saya dan paksu ngambek-ngambekan saya juga cepat melupakan apa akar masalahnya.

Sering kali jika sudah berbaikan paksu tanya apa yang membuat saya ngambek sedemikian rupa. Saya pun melongo. Bertanya sendiri dalam hati, apa ya? Qodarullah, lupa. Ada manfaat juga ternyata orang pelupa, tidak dendam.

(Hadeehhh...tadi mau cerita buah hati. Ai, malah  jadi cerita paksu. Kita kembali fokus.)

Saat itu saya mencubit paha si KK hingga memar. Keesokan hari, saat memandikannya baru saya melihat. Benar-benar menyesal dengan perbuatan saya. Padahal anak saya masih sangat kecil. Tentu, apa pun alasan saya mencubitnya tidak akan diterima.

Saya membawa KK ke sekolah. Di lab yang sunyi hanya kami berdua. Saya mendudukkannya di meja sedangkan saya di kursi. Mulai mengajaknya bicara dari hati ke hati.

Saya minta maaf padanya. Air mata tidak dapat terbendung. Tersedu sedan di depan bocah cerminan diri. Memeluk erat tubuh mungilnya. Ia membalas, juga ikut menangis.

Jika orang melihat, mungkin akan mengatakan saya lebay. Mungkin pembaca juga akan mengatakan saya lebay.

Ibu normal mana pun pasti pernah merasakan marah tak terkontrol. Setelah  marah dan menimbulkan efek barulah menyesal melakukan hal demikian.

Sebelum hal itu terjadi maka kita sebagai seorang Ibu hendaklah senantiasa beristigfar. Menata hati kita agar tidak dikuasai oleh amarah yang disebabkan oleh rayuan syaitan. Hingga menimbulkan efek yang menimbulkan penyesalan.

Setelah tangis kami reda. Saya mengingatkan ia, agar jika saya marah sebaiknya ia meninggalkan saya. Entah itu solusi terbaik atau bukan. Yang jelas saya menjaga kejadian seperti itu tidak terulang lagi. Saya berjanji juga padanya dan diri saya sendiri agar tidak akan melukai fisiknya lagi.

Hingga kini, diusianya delapan tahun ia masih mengingat kejadian itu.

"Bunda pernah kan dulu Minta maaf sama aku sambil menangis. Kita sama-sama menangis di sekolah. Hanya kita berdua."

Maa syaa Allah, dia mengingatnya. Bersyukur yang dia ingat bukan pada saat saya melukainya.😭😭😭

Coba kita pandangi wajah anak kita saat terlelap. Betapa ia membutuhkan kita mengasihinya. Seaktif, seusil, sebesar apa pun ia membuat kita sibuk dan capek, ia tetap darah daging kita yang butuh kasih sayang.

Para bunda, ibu, moms, ummi, mari jadikan cerita ini sebagai pelajaran. Mari kita ambil ibrah dari kejadian ini.

Sei Menggaris, 29 Maret 2019

Senin, 25 Februari 2019

Catatan Buah Hati 6 VIRUS MENULIS

By: Bunda Ena



Seminggu tidak posting tulisan. Rindu rasanya. Menulis tetap, meski selingkuh. Kadang menulis ini, belum tuntas, menulis lagi yang lain.

Semenjak resign mengajar selain jadi emak tulen, ikut kursus menulis online. Lumayanlah, tiga bulan sudah bisa tularkan virus menulis. Terutama orang di rumah. Pak suami dan putri sulung.

Mereka terlihat antusias. Entah sudah berapa artikel dan puisi yang pak suami miliki selesai diedit. Si Kakak pula sudah meningkat kemampuan menulisnya. Ia sudah menggunakan "Tolong dieditkan tulisanku Bunda!" tidak lagi menggunakan kata "periksakan".

Ada rasa bangga terbersit di dada meski hanya bergelar "editor keluarga".  Saya menikmatinya. Berkumpul bersama anak, tidak meninggalkan rumah.

Meski kangen mengajar di kelas dan suasana sekolah terkadang menyeruak. Wajarlah, sepuluh tahun lebih menggeluti dunia mengajar. Tidak mudah melepas passion tersebut. Suatu ketika, InsyaAllah akan kembali mengabdi. Di saat tugas negara yang pertama dan utama telah tidak begitu berat.

(Emm.. Kok lari ke sana sih... Kita kembali ke laptop aja deh...πŸ˜‚πŸ˜‚)

Tulisan si Kakak sudah ada tujuh. Bermula ketika libur sekolah. Alhamdulillah di usianya yang baru akan memasuki delapan tahun pada tanggal 15 bulan Januari ini. Ia sudah mahir menulis apa yang dirasakan dan telah lakukan.

Virus menulis bukan waktu dekat ini baru di ajarkan pada si Kakak. Ketika baru mengenal aksara ia selalu diajak menulis pengalamannya. Ia sangat mahir menceritakan pengalamannya.

Melihat kondisi tersebut, si Kakak sekali-kali diajak menulis. Ia bercerita dan saya menulis ceritanya tersebut. Lalu menyuruhnya membaca kembali.

Mendengar ceritanya yang tiada akhir dan bertambah terus menerus membuat saya terkadang sedih. Maklum Ketika itu masih sibuk mengajar dan tetek bengek bisnis rumahan. Membuat saya kadang memintanya untuk menunda cerita.

InsyaAllah sekarang siap menjadi bank cerita untuk semua dan menjadi editor full time untuk keluraga.

Sei Menggaris, 6 Januari 2019

Selasa, 19 Februari 2019

Catatan Buah Hati 5 Lanjutan 80 Juta VS X8

By: Bunda Ena



Tidak henti-hentinya mendoakan si Kakak. Semoga ia baik-baik saja di sekolah. Benar, doa seorang Ibu tiada penghalang bagi anaknya. Ternyata memang ia baik-baik saja di sekolah.

Dendangan beburung menghibur hati yang sedang resah. Teramat penasaran. Rasanya ingin mendengar cerita si Kakak sepulang sekolah. Kali ini sayalah yang akan bertanya duluan atau meminta dia menceritakan pengalamannya di kelas.

Ia memang baik-baik saja di SMP bersama Abinya. Ia melewati sekolahnya karena terlambat. Ia takut masuk ke kelasnya. Kemungkinan besar juga karena belum menghapal perkalian sembilan. Subehanallah...putri sulungku ini. Apakah terlalu membebaninya untuk selalu sempurna melakukan sesuatu?

Saya mengingat-ingat, apakah mendidiknya untuk selalu melakukan yang serba perfect. Rasanya tidak. Mungkin saya hanya butuh belajar lagi dalam membimbingnya. Selama ini,  berusaha agar tidak membebaninya. Selalu hanya memintanya berusaha, bekerja keras, belajar dengan giat.

Sore hari temannya datang. Ia bercerita bahwa ia di cari oleh gurunya tadi di sekolah. Mendengar itu saya lebih penasaran.

"Tadi di sekolah kegiatannya apa nak?"
"Kerja bakti, Bun."
"Menghapal perkalian?"
"Belum Bunda, kami hanya di suruh tulis perkalian enam."

Si Kakak hanya diam. Sepulang sekolah ia kelihatan lesu, tidak semangat. Saya meraihnya ke dalam dekapan. Berusaha memberikan semangat dan menasihatinya. Ia tetap diam, entah apa yang ada di pikirannya.
"Kakak Kiya mau turun main dengan teman-temannya?

Ia menggeleng. Lalu saya menawarinya mengaji dan mengajaknya menemani saya membuat bakwan. Ia mengiyakan. Terlihat ia mulai semangat lagi.

***

Mentari menyinari bumi dengan ceria pagi itu. Si Kakak sudah kembali ceria dan semangat. Ia bangun lebih awal. Tidak mau terlambat lagi. Pagi-pagi ia sudah siap dan melapor akan menunggu di teras. Ingin ikut dengan anak SMP yang lewat.

Karena tampak antusias saya membawakan sarapan di teras. Ia makan dengan lahap. Sepuluh menit kemudian tidak ada yang lewat. Ia menengok Abinya. "Abi, Ayolah berangkat!" Rupanya ia takut telat ke sekolah seperti kemarin.

***

Sepulang sekolah ia semangat lagi.  Ia bercerita mengenai pengalamannya di sekolah. Mendapat nilai seratus membuatnya sangat gembira. Ia juga bercerita kalau ditanya oleh guru pengganti wali kelasnya. Ditanya perihal ketidakhadirannya. Ia menjelas bahwa Abi terlambat ke sekolah jadinya ia juga terlambat.

Syukurlah ia berterus terang. Memang setiap hari Jumat Abi kadang agak santai ke sekolah karena ia tidak mengajar pada hari itu. Alhamdulillah sejak hari itu, si kakak selalu lebih duluan siap daripada Abinya.

Seminggu berselang si Kakak pulang dengan wajah yang berseri. Kicauan beburung di pagi hari  saja ia kalahkan. Ia berceloteh ke sana ke mari tanpa henti. Kadang lupa memberi jeda pada kalimatnya. Sambung menyambung.

Ia dapat seratus lagi dan berhasil menghapal perkalian di depan kelas. Ia mengalahkan temannya yang mendapat rangking satu.

"Masa' kan Bunda si D temanku yang dapat rangking satu dapat nol. Ia juga tidak hapal kali-kali tiga."

"Masa'?"

"Iya Bunda, bilang Ibu kenapa bisa rangking satunya dapat nol tidak hapal kali-kali tiga lagi"

"Kebetulan nda tau kali dia nak"

"Bu A tanya wali kelasku Bunda."
"Jadi?"

"Ditanyalah si D sama wali kelasku, bilang, bikin malu saja."

"Astagfirullah...! Kakak...ingat rangking bukan segalanya, yang penting kakak rajin belajar, tidak dapat rangking juga tidak apa-apa. Bunda sama Abi lebih suka kalau Kakak rajin belajar tidak dapat rangking daripada dapat tapi malas belajar. Tapi kalau rajin belajar dan rangking itu, alhamdulillah lebih bagus lagi."

"Dan ingat jangan sombong, kalau ada temannya bertanya dan Kakak tau, kasi belajar temannya. Tapi ingat jangan kasi menyontek. Begitu juga, kalau kiya tidak tau bertanya sama temannya yang tau atau langsung ke gurunya."

Rasanya sedih mendengar cerita si Kakak hari ini. Betapa masih banyak orang tua bahkan guru membebani anak untuk mendapatkan rangking. Cukuplah anak  diarahkan untuk belajar dengan giat. Tidak perlu lagi diberi beban harus dapat rangking.

Sebenarnya saya sudah banyak mendengar cerita jika si Kakak harusnya dapat rangking satu. Yang bercerita ini juga adalah guru di tempat si Kakak mengajar. Kata mereka Ibu anak yang rangking satu itu teman dekat wali kelas si Kakak.

Lebih parah lagi mereka cerita saat penerimaan raport. Saat nama kakak Kiya di sebut rangking dua semua bertepuk tangan, bersorak. Tapi, ketika rangking satu yang disebut hanya beberapa orang yang bertepuk tangan. Ah, sudahlah.

Saya sungguh tidak pernah mempermasalahkan hal tersebut. Yang menjadi perhatian saya adalah saya merasa kasian terhadap anak-anak ini. Sekali lagi, mengapa mereka harus dibebani hal seperti itu.

Alangkah indahnya jika mereka belajar bersama tanpa ada persaingan, tanpa beban. Mereka berkolaborasi meningkatkan kemampuan masing-masing.

Sei Menggaris, 19 Januari 2019