Label

Rabu, 11 Maret 2020

Misi Asik 2


Assalamualaykum warahmatullah wabarakatuh.

Hai,  hai,  haaaaiiii .... Minggu lalu saya menulis mengenai "Tetap Eksis Karena Manfaat", kisah saya bersama PL.  Nah,  minggu ini saya dan komandan lainnya ditantang menyelesaikan Misi 2 Asik, yaitu menyelesaikan 3 masalah dengan menuliskan penyelesaiannya. 

Minggu ini kami disajikan materi GBHM, loh. Kira-kira ada yang tahu kepanjangan GBHM? GBHM akronim dari Garis Besar Haluan Markas. Jadi, GBHM itu merupakan nama lain dari code of cunduct komunitas pejuang literasi. Code of conduct adalah kode etik atau pedoman perilaku berupa beberapa aturan yang di buat,  dipahami,  dan disepakati hingga menjadi komitmen bersama.

Nah,  setelah selesai materi GBHM tersebut kita diberikan tantangan untuk menyelesaikan misi asik 2. Berikut masalah yang harus dipecahkan untuk menyelesaikan misi 2.

1. Menjadi member pejuang literasi,  namun,  selalu saja terlambat mengikuti kegiatan online di WAG markas. Apa  yang harus dilakukan? 

2. Menurut pasukan, jika ada komandan yang hanya menjadi "silent readers" di WAG teritori,  apa yang akan pasukan lakukan? 

3. Ketika ternyata bertemu dengan banyak komandan,  beberapa diantaranya memiliki profesi atau mungkin hobi yang sama (selain menulis). 
Bolehkah membuat WAG tersendiri untuk kepentingan tersebut? 
Menurut pasukan, jika hal tersebut dilakukan oleh komandan lain apakah itu etis?
Dan apa yang akan komandan  lakukan?

 Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas, saya inginmebaca "basmala" terlebih dahulu. Jika jawaban saya salah atau kurang tepat itu murni karena saya memang hanya manusia biasa. Jika jawaban saya memiliki kebenaran itu datangnya dari Allah. Kok,  jadi deg-degan ya jawabnya. 😅

Pertanyaan nomor satu, menjadi member pejuang literasi, namun, selalu saja terlambat mengikuti kegiatan online di WAG markas. Apa  yang harus dilakukan? 
Menurut saya,  kita harus menertibkan. Pada materi GBHM point pertama itu membahas mengenai ADAB. Saya mengutip cerita mengenai adab yang disampaikan oleh Ndan pemateri yang sangat menginspirasi berikut. 

Adab memiliki kedudukan yang sangat tinggi dalam menuntut ilmu,  terihat dari kisah Abdurrahman bin Qasim, salah satu murid Imam Malik,  ia bercerita bahwa,  "aku mengabdi kepada Imam Malik selama 20 tahun,  2 tahun diantaranya untuk mempelajari ilmu dan 18 tahun untuk mempelajari adab. Seandainya saja aku bisa jadikan seluruh waktu tersebut untuk mempelajari adab (tentu aku lakukan)."  

Nah,  penuntut ilmu itu harus mendahulukan adabnya. Jika komandan sering saja terlambat berarti masih perlu diperbaiki adabnya. Mari menjadi baik,  kita menuntut ilmu, kita harus tiba sebelum guru kita.

Masing-masing kita memiliki kesibukan sendiri. Jika hal ini terjadi, kita bisa mengomunikasikan. Bisa izin atau semacamnya. Yang penting tidak terlambat melulu. 

Yang dilakukan bisa juga dengan menyebarkan daftar hadir terlebih dahulu. 15 menit sebelum masuk ke materi. Agar para komandan mengingat bahwa harus hadir sebelum materi dimulai.

Pertanyaan yang ke-2,  Menurut pasukan, jika ada komandan yang hanya menjadi "silent readers" di WAG teritori,  apa yang akan pasukan lakukan? 
Yang akan saya lakukan adalah memberikan pertanyaan yang bisa memancing untuk semua komandan agar bisa berkomentar. Jika tidak berhasil, tidak apa-apa menyebutkan nama komandan. 

Pertanyaan ke-3, Ketika ternyata bertemu dengan banyak komandan,  beberapa diantaranya memiliki profesi atau mungkin hobi yang sama (selain menulis). 
Bolehkah membuat WAG tersendiri untuk kepentingan tersebut? 
Menurut pasukan, jika hal tersebut dilakukan oleh komandan lain apakah itu etis?
Dan apa yang akan komandan lakukan?
Menurut saya boleh saja membuat WAG tersendiri,  hal tersebut merupakan hak azasi manusia. Tetapi jika dengan membuat WAG menjadikan PL terganggu atau komandan tersebut menarik banyak komandan lainnya dan mereka lebih fokus pada hobi mereka itu, ya, itu sudah tidak etis, sih.

Yang saya lakukan selanjutnya adalah Wapri dan menegur apa yang dilakukannya itu tidak etis menurut PL. 

Demikian jawaban saya terhadap pertanyaan misi asik 2. Semoga bermanfaat. 

Wassalamualaikum warahmatullah wabarakatuh.  Tetap semangat! 


Kamis, 05 Maret 2020

Tetap Eksis karena Manfaat

Saya mulai bergairah menulis lagi sejak resign mengajar.  Paksu mendaftarkan saya di KMO Alinea di bawah asuhan Pak Cah.

Selesai kelas keinginan menulis sangat kuat. Beranda FB tempat cantiknya kalimat saya berbaris. Hingga seorang teman menulis yang saya lupa namanya, memberikan info mengenai Nulis Bareng-Bareng (NBB)-nya Pejuang Literasi (PL).

Akhirnya saya ikut nimbrung menulis NBB. NBB itu adalah Ensiklokids Dunia Serangga. Dibawah bimbingan Ndan Rina Yuliani. Masyaa Allah,  seru banget. Kita hunting serangga,  lalu jepret-jepret. Selanjutnya,  saya ikut NBB sahabat Rasulullah.  Naskahnya sudah siap, sisa kirim,  tetapi setelah menceritakan paksu mengenai NBB tersebut,  ia langsung tertarik. Saya mengalah karena terlalu banyak NBB yang saya ikuti, pengeluaran untuk buku juga akan membengkak. Jika NBB "Sahabat Rasulullah" ke-2 buka lagi akan saya ikutkan tulisan saya. 

Karena telah bergabung di NBB akhirnya saya dimasukkan di grup WA PL. Di sana,  saya belajar banyak. Divisi akademik tidak hentinya memberikan materi kepenulisan yang bermanfaat. 

Alasan lain juga membuat saya betah berada di PL karena kita memang dipersiapkan bertumbuh,  berkarya,  dan berbagi,  sesuai motto PL. 

Karena motto ketiga berbagi,  maka setiap bulan PL berbagi keuntungan. Sebagian keuntungannya diberikan  kepada yang membutuhkan. Saya selalu terharu ketika Ndan Hessa, founder PL mengirim bukti transferan. 

***

Tujuan menulis yang paling agung menurut saya adalah menulis yang baik dalam bersedekah. Sekali menulis setiap orang yang membaca dan bermanfaat bagi orang tersebut akan bernilai pahala buat penulisnya. Masyaa Allah,  Hanya sekali menulis pahala akan mengalir terus menerus. 

Diantara kita yang muslim siapa yang tidak mengenal Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Hambal, Imam Ahmad, Ibnu Katsir, dan banyak lagi. Dari tulisan kita mengenal dan banyak belajar. Mereka yang diridhai Allah padanya kita belajar betapa pentingnya menulis. 

Mudah-mudahan saya belum terlambat menyadari bahwa betapa pentingnya menulis itu. Untuk tetap eksis di Dunia kepenulisan saya banyak bergabung di komunitas literasi agar semangat menulis tetap ada. Dan Insyaa Allah saya akan tetap eksis di PL karena manfaatnya yang luar biasa di dunia kepenulisan. Kalian juga berminat di dunia literasi, bergabunglah di PL, kalian akan merasakan manfaatnya.